Sebuah Titik Passing over

Oleh FRANS OBON

KITA BARU SAJA merayakan pesta Paskah. Pesta kebangkitan Tuhan. Pesta iman. Pesta kebangkitan kita juga. Oleh karena itu patutlah disampaikan secara khusus kepada umat Katolik di Flores dan Lembata: Selamat Pesta Paskah, semoga kebangkitan Kristus memberikan kita harapan baru, kekuatan, komitmen, dan tanggung jawab untuk semakin kuat menggulingkan batu kubur yang ada dalam diri kita masing-masing sehingga kita pun menjadi manusia baru di dalam Kristus Tuhan.

Kalau kita merenungkan sejenak mulai dari perayaan Minggu Palem hingga perayaan Tri Hari Suci, maka tampaklah dengan jelas bahwa seluruh rangkaian perayaan ini adalah sebuah narasi besar mengenai drama kehidupan manusia. Sebuah narasi mengenai jatuh-bangunnya kehidupan manusia. Narasi tentang harapan, kecemasan, duka dan kegembiraan dalam hidup kita. Narasi tentang etape-etape di dalam pengalaman religius dari kehidupan manusia.

Minggu Palem adalah ekspresi dari harapan yang begitu besar, yang mungkin juga lahir dari keliru tafsir mengenai Kerajaan Allah yang ditawarkan oleh Yesus. Kita manusia zaman ini juga seringkali jatuh dalam pengalaman yang sama yang mengharapkan Allah menggunakan kemahakuasaanNya untuk memenuhi hasrat kita. Kita seringkali mendikte agar Allah menggunakan kemahakuasaanNya untuk bertindak menurut keinginan kita.

Perayaan Kamis Putih adalah transformasi radikal dalam relasi kita dengan sesama. Peristiwa pembasuhan kaki para murid oleh Yesus adalah sebuah pembaruan radikal mengenai relasi kita dengan sesama. Yesus mengajarkan kita untuk saling mengasihi dan saling melayani. Relasi kita dengan orang lain bukanlah relasi tuan-hamba, tapi relasi dari orang-orang yang setara. Relasi di antara orang-orang merdeka. Transformasi radikal ini juga berlaku untuk format kepemimpinan. Kepemimpinan adalah sebuah tanggung jawab untuk melayani kepentingan dan kebaikan umum.

Peristiwa Jumat Agung adalah juga transformasi radikal untuk mengorbankan diri bagi kebaikan dan kepentingan umum. Peristiwa penyangkalan diri. Orang yang berani memikul salibnya di dalam Tuhan, dia akan bangkit pula bersama Tuhan. Dia akan keluar sebagai pemenang yang jaya karena Tuhan telah memenangkan kehidupan atas maut. Perayaan Paskah adalah perayaan kebangkitan kita. Kita menguburkan semua kelemahan kita bersama Kristus dan kita bangkit bersama Dia di dalam sebuah kehidupan baru. Paskah adalah Tuhan melawati umatNya.

Sudah barang pasti deskripsi sederhana ini tidak dapat mengungkapkan kekayaan misteri Paskah Tuhan itu. Tetapi perayaan Paskah kita yang kita lakukan tiap tahun adalah ingin mengambil sedikit dari kekayaan misteri Paskah itu untuk menjadi lilin dan suluh dalam kehidupan kita.

Oleh karena itu Paskah pertama dan terutama adalah momen pembaruan rohani kita. Momen membarui iman kita. Sebuah titik passing over. Sebuah gerakan untuk beralih ke arah yang lebih baik. Gegap gempita dan kemeriahan perayaan kita tidak punya makna lebih kalau tidak terkait dengan dimensi pembaruan kerohanian kita. Oktober mendatang Paus Benediktus XVI akan mencanangkan Tahun Iman (Oktober 2012-Oktober 2013). Dengan demikian Paskah kita kali ini harus pula menjadi momen pembaruan rohani sehingga iman kita menjadi dian yang diletakkan di atas gantang kehidupan publik di Flores dan Lembata.

Bentara, 10 April 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s