Angka Kemiskinan Menurun

Oleh FRANS OBON

MENURUT DATA pemerintah, angka kemiskinan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menurun setiap tahun sebagaimana berita media ini (Flores Pos 11 Arpil 2012). Pada tahun 2006, angka kemiskinan di NTT sekitar 29,34 persen. Sampai dengan Maret 2011, angka kemiskinan di NTT menjadi 20,48 persen.

Menurut Gubernur NTT Frans Lebu Raya dalam pidato pada pembukaan Musyawarah Rencana Pembangunan Kabupaten Ngada, sebagaimana dibacakan Wakil Bupati Ngada Paulus Soliwoa, 28 Maret 2012, penurunan angka kemiskinan ini cukup signifikan, sekitar 2,55 persen jika dibandingkan pada tahun 2010. Ini berarti sekitar 26,4 ribu orang terangkat dari bawah garis kemiskinan.

Sedangkan pendapatan domestik regional bruto (PDRB) 2009 sebesar Rp4,88 juta atau meningkat sekitar 0,82 persen pada tahun 2010. Jika pendapatan perkapita secara nasional pada tahun 2009 sebesar Rp20,96 juta menjadi Rp23,98 juta pada tahun 2010 atau naik sekitar 3,02 persen, maka ini berarti pendapatan perkapita masyarakat NTT hanya seperlima dari pendapatan perkapita dari rata-rata nasional. Posisi NTT berada pada urutan 32 dari 33 provinsi dengan angka kemiskinan yang tinggi di Indonesia.

Tahun 2011 lalu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT Poltak Sutrisno Siahaan mengatakan kepada media bawha jumlah penduduk miskin NTT sebanyak 1,01 lebih juta orang. Angka kemiskinan menurun setiap tahun. Tahun 2007 ada 1.163,6 juta (27,51 persen) orang miskin, tahun 2008 sebanyak 1.098,3 juta orang (25,65 persen), tahun 2009 sebanyak 1.013,3 juta orang (23,31 persen), dan 2010 sebanyak 1.014,1 juta orang (23,03 persen) dan 2011 sebanyak 1.012,9 juta orang (21,23 persen).

Angka-angka ini menunjukkan bahwa kita masih perlu bekerja keras untuk memerangi kemiskinan di Nusa Tenggara Timur. Karena kita masih berada pada urutan kedua dari terakhir sebagai provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia.

Kalau kita juga mencermati pemberitaan media, Nusa Tenggara Timur tidak hanya dikenal sebagai salah satu provinsi termiskin di Indonesia, tetapi juga menjadi provinsi dengan tingkat korupsi yang tinggi. Ini berarti ada kaitan antara kemiskinan dan korupsi yang tinggi itu. Korupsi dana publik bertali temali dengan praktik berpolitik di wilayah kita. Elite kita menggunakan tangan kekuasaan mereka untuk menumpukkan kekayaan yang juga jarang bisa diendus oleh hukum. Pada gilirannya nanti elite kita menggunakan praktik politik uang untuk mendapatkan kekuasaan. Maka dengan terang memberikan kita gambaran bahwa kemiskinan adalah lahan subur bagi praktik politik uang. Daripada makan janji, maka lebih baik menerima uang.

Kita percaya bahwa angka kemiskinan yang turun tiap tahun itu bukanlah permainan angka untuk tujuan politik. Yang berkuasa menyampaikan data menurunnya kemiskinan, yang mau berkuasa menyebut angka kemiskinan yang tinggi. Permainan angka kemiskinan memang sudah menjadi praktik umum politik di wilayah kita.

Penurunan angka kemiskinan ini mudah-mudahan lahir sebagai dampak positif dari intervensi kebijakan pembangunan pemerintah. Dampak positif dari penggelontoran dana ke desa-desa kita yang menjadi kantong kemiskinan. Dampak dari program pengentasan kemiskinan pemerintah.

Namun jauh lebih penting dari ini adalah bagaimana kita menekan angka kebocoran dana-dana publik kita yang dianggarkan untuk memerangi kemiskinan. Penggunaan dana publik yang efisien, akuntabel, dan tepat sasar adalah salah satu langkah konkret untuk mengentaskan kemiskinan di daerah kita. Penggunaan dana-dana publik untuk intervensi pengetasan kemiskinan harus pula melahirkan kekuatan dan kemandirian rakyat. Bukan sebaliknya menciptakan ketergantungan yang luar biasa besarnya pada rakyat kita.

Bentara, 12 April 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s