Segel Kompleks Sekolah

Oleh FRANS OBON

TUAN TANAH suku Wodon Gebin Daranatar, Bernadus Bapan menyegel kompleks Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Waigete, Kabupaten Sikka, 13 April 2012 dengan menutup gerbang timur sekolah dengan belasan batang bambu dan kayu yang diikat dengan tali nilon. Pemilik tanah dan beberapa anggota keluarganya berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Akibatnya kegiatan belajar mengajar terganggu. Meski demikian pihak sekolah optimistis bahwa para siswa tetap siap menghadapi ujian nasional kendati kompleks sekolah mereka disegel (Flores Pos 14 April 2012).

Alasan tuan tanah menyegel lokasi sekolah adalah karena pemerintah dinilai tidak memenuhi permintaan ganti rugi tanah senilai Rp200 juta sejak sekolah didirikan tahun 2007. Dia kecewa karena pemerintah tidak punya niat baik untuk melunasi uang ganti rugi yang dimintanya sejak sekolah didirikan. Di atas lahan seluas 2 hektare lebih itu telah ditanam 50 pohon jati putih.

Pihak kecamatan, pemerintah desa, dan pihak terkait lainnya mencoba memecahkan masalah ini dengan melakukan dialog dengan pemilik tanah. Hasil dari dialog dengan tuan tanah adalah adanya perubahan sikap dari tuan tanah untuk membiarkan pihak sekolah melakukan kegiatan belajar mengajar dan beberapa kesepakatan lainnya (Flores Pos 16 April 2012).

Dalam proses dialog itu pemilik tanah mengatakan bahwa tindakan menutup kompleks sekolah merupakan ekspresi kekecewaannya atas tindakan pemerintah yang tidak membangun komunikasi yang baik dengan tuan tanah. Tuan tanah menilai pemerintah terkesan lupa pemilik tanah dan lupa tentang kewajiban adatnya. “Saya minta agar pembangunan yang belum tuntas seperti pembangunan pagar keliling harus direalisasikan. Aksi penyegelan sekolah ini dilakukan hanya untuk mengingatkan pemerintah bahwa ada yang lupa dalam komunikasi selama ini, termasuk pelaksanaan tuntutan adat”.

Dalam pertemuan itu, tuntutan ganti rugi dihilangkan dan diganti dengan keinginan membuka SMAN Satu Atap. “Saya ikhlaskan tanah dua hektare ini dan tidak menuntut ganti rugi Rp200 juta lebih, asalkan di atas areal yang sama ini dibangun SMAN Satap,” katanya. Dia hanya minta pemerintah konsisten. Kadis PPO Sikka Yohanes Rana dan tim pemerintah berjanji akan memperjuangkan pembukaan SMAN Satu Atap.

Dialog yang dibangun antara pemilik tanah dan pemerintah dengan kesepakatan-kesepakatan yang dicapai tentu saja melegakan kita, terutama kalau dilihat dari sisi kepentingan anak didik. Karena dalam tempo beberapa minggu lagi, para siswa akan mengikuti ujian nasional. Kalau proses persiapan dan kegiatan belajar mengajar terganggu, maka sudah tentu ada kesulitan dalam menghadapi ujian nasional. Jelas masa depan anak-anak kita juga rugi.

Dari kasus ini, kita akhirnya tahu bahwa dalam kurun waktu lima tahun sejak sekolah didirikan, ada masalah yang tidak diselesaikan dengan tuntas oleh pemerintah. Dialog yang dibangun itu belum menuntaskan inti masalah. Oleh karena itu masalah ini menjadi sebuah kertas kosong, yang sesewaktu bisa ditulis kapan saja. Publik bertanya, ada apa dengan perubahan sikap dari tuntutan ganti rugi ke tuntutan mendirikan sekolah menengah atas negeri satu atap. Ada apa dengan pergeseran sikap itu. Kewajiban adat apa yang mesti dilaksanakan pemerintah dan bentuknya apa. Sampai kapan.

Kasus-kasus seperti ini di Flores dan Lembata sudah sering terjadi. Ada pemilik tanah yang menuntut ganti rugi, ada yang menuntut anaknya jadi pegawai negeri sipil. Ada yang mau ambil lagi tanah untuk kepentingan umum itu karena masalah keluarga, masalah politik. Pemerintah semacam tersandera. Oleh karena itu agar masalah ini diselesaikan secara permanen, maka pemerintah perlu melakukan transaksi jual beli yang jelas. Dengan ini pemerintah lebih aman di masa datang dan pemilik tanah mendapatkan kompensasi yang sepadan. Berapa besar kompensasi tentu tergantung pada seni komunikasi pemerintah.

Bentara, 16 April 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s