Netral, Tapi Kritis

Oleh FRANS OBON

PADA acara tahbisan 14 diakon di Seminari Tinggi Ritapiret, 14 April 2012, Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng meminta para klerus untuk menjaga netralitas di tengah umat. Para klerus, begitu harapan uskup, harus menjembatani semua orang terutama dalam menyelesaikan konflik di dalam masyarakat. Dengan demikian klerus dan semua pewarta Gereja menjadi pembawa damai bagi sesama (Flores Pos 17 April 2012).

Tetapi Uskup Hubert juga melakukan kritik internal dan barangkali mengingatkan para diakon agar dalam karya nanti perlu melakukan koordinasi dengan pimpinan Gereja sehingga kreativitas pribadi itu tidak melampaui wewenang. Oleh karena itu dia mengingatkan agar para imam dan diakon membangun komunikasi dan konsultasi dengan pimpinan Gereja terkait kreativitas pastoral.

Bupati Sikka Sosimus Mitang dalam sambutannya menegaskan bahwa pemerintah dan para diakon memiliki tanggung jawab yang sama yakni memajukan masyarakat (umat). Pemerintah dan para diakon sama-sama mengemban tugas melayani.

Permintaan agar Gereja Katolik terutama hierarki Gereja Katolik di Flores dan Lembata untuk bersikap netral bukanlah suara pertama yang kita dengar. Permintaan untuk bersikap netral selama ini terutama berkaitan dengan kehidupan politik dan tata kelola pemerintahan kita di Flores dan Lembata. Umumnya kita dengar ketika kita sedang menghadapi pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Tetapi juga ketika hierarki Gereja Katolik mengkritik kebijakan pemerintah yang melenceng dan menyeleweng dari kebaikan dan kepentingan umum. Ketika pilihan kebijakan pemerintah berpotensi merugikan rakyat kebanyakan. Pada saat itulah permintaan agar hierarki Gereja Katolik bersikap netral disampaikan. Alasannya sama: karena yang menjadi sasaran kritik adalah umat yang sama.

Namun permintaan untuk bersikap netral yang disampaikan oleh seorang uskup dan permintaan netral yang disampaikan para politisi tentu saja berbeda tujuannya. Kita mengabdi pada kepentingan yang sama yakni kesejahteraan dan kebaikan umum, tetapi Gereja Katolik tidak bisa menutup matanya terhadap penyelewengan tujuan asali dari pembangunan dan politik kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu kendati kita mengabdi pada kepentingan yang sama, melayani orang yang sama, namun kita tidak boleh menutup mata terhadap kekayaan dalam perspektif pembangunan. Kenetralan Gereja Katolik haruslah dipandang dalam konteks kenetralan yang kritis. Suara Gereja Katolik terutama hierarki sangat dibutuhkan ketika tujuan sejati pembangunan dan kehidupan politik di Flores dan Lembata merendahkan harkat dan martabat pribadi manusia. Gereja Katolik harus berdiri di depan untuk memperjuangkan hak-hak orang kecil yang diabaikan dalam pembangunan.

Kita juga sependapat dengan Uskup Hubert mengenai penggunaan kebebasan yang kreatif di dalam pelaksanaan reksa pastoral Gereja Katolik. Uskup Hubert memang menekankan agar para imam dan diakon dalam menggunakan kebebasan kreatif mereka dalam menjalankan reksa pastoral gereja mesti berkoordinasi, berkonsultasi dan berkomunikasi dengan pimpinan Gereja. Tujuannya adalah agar setiap pihak tahu menempatkan posisi masing-masing. Tetapi juga hal itu menjadi penting agar seluruh reksa pastoral Gereja Katolik yang dijalankan oleh para agen pastoral sungguh mencerminkan komitmen dan tanggung jawab bersama sebagai sebuah persekutuan.

Penegasan ini bukan dimaksudkan untuk mematikan kekayaan dan keberagaman karisma dan menghalangi kebebasan kreatif agen pastoral, tetapi penegasan ini dimaksudkan agar seluruh reksa pastoral gereja terencana dan terkoordinasi dengan baik. Dengan demikian pula sikap, posisi yang diambil dan bentuk reksa pastoral tentang satu pokok persoalan sungguh mencerminkan komitmen dan tanggung jawab bersama.

Bentara, 18 April 2012

Satu pemikiran pada “Netral, Tapi Kritis

  1. Ping-balik: Uskup Ruteng Minta Pastor Netral dalam Pemilukada | Flores Inside

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s