Lagi, Kasus Gizi Buruk

Oleh FRANS OBON

piring nasiKABUPATEN Manggarai kembali didera persoalan gizi buruk. Kali lalu kasus gizi buruk ditemukan di Kecamatan Rahong Utara. Dinas Kesehatan Manggarai bekerja ekstra keras mengatasi kasus tersebut setelah beberapa tahun kasus gizi buruk tidak terjadi di Manggarai. Kala itu Dinas Kesehatan memerintahkan kepada semua petugas kesehatan di seluruh Puskesmas untuk aktif mendata anak balita agar mendeteksi lebih awal kasus gizi buruk atau sedapat mungkin mencegah terjadinya kasus gizi buruk.

Kali ini kasus gizi buruk ditemukan di Kampung Wotok, Desa Ndehes dan Kampung Bengkang, Desa Poco, Kecamatan Wae Rii. Nama kedua anak itu adalah Maria Goreti Hanu (1,5 tahun) dan Damianus Jada (1 tahun). Keduanya menderita gizi buruk kategori marasmus. Kedua balita ini sedang dirawat oleh petugas dari Puskesmas Watu Alo karena pihak keluarga tidak mau anak mereka dirawat di rumah sakit. Perkembangan keduanya sudah membaik. Berat badan mereka naik. Maria Goreti Hanu, yang berat badan semula 4,7 kg naik menjadi 5 kg dan Damianus Jada semula beratnya 4,2 kg naik menjadi 4,8 kg. Berat badan ideal anak dalam usia seperti keduanya 9 kg. Kedua anak balita ini berasal dari keluarga petani dan secara ekonomis termasuk golongan ekonomi lemah (Flores Pos, 4 Mei 2012).

Kecamatan Wae Rii dan Kecamatan Rahong Utara secara geografis adalah dua kecamatan yang dekat dengan pusat kekuasaan di Manggarai, Kota Ruteng. Di Ruteng segala keputusan politik dan ekonomi diambil untuk menentukan nasib rakyat Manggarai.

Persoalan gizi buruk adalah problem ekonomi. Problem tidak terpenuhinya kebutuhan pokok dan kebutuhan dasar keluarga-keluarga di Manggarai. Akar utama dari masalah gizi buruk adalah tidak cukup tersedianya makanan, entah oleh karena keluarga-keluarga petani tersebut tidak punya tanah lagi atau oleh ketidakmampuan untuk membeli makanan yang cukup bagi kebutuhan keluarga. Apalagi makanan yang bergizi.

Namun pada umumnya kasus gizi buruk yang ditemukan di kalangan petani Manggarai dan juga umumnya di Flores adalah akibat dari ketiadaan atau keterbatasan lahan pertanian untuk mengusahakan sumber makanan. Banyak petani kita kehilangan lahan pertanian. Petani tanpa tanah sudah sering kita temukan di Flores. Hal ini juga ditunjang oleh ketidakmampuan para petani untuk mengalihkan mata pencaharian dari pertanian ke sektor lainnya. Ketergantungan pada tanah begitu tinggi, namun di sisi lain lahan pertanian makin sempit.

Lingkaran kemiskinan seperti ini akan terus berputar-putar ke depan karena jumlah anak yang mau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi masih rendah. Demikian pula angka partisipasi sekolah. Akibatnya adalah terjadi tumpukan tenaga kerja di kampung-kampung kita, namun tidak cukup tersedia lahan pertanian. Potensi konflik merebut sumber daya dan lahan pertanian ke depan akan meningkat.

Oleh karena itu penanganan masalah gizi buruk tidak cukup hanya dilakukan pada tingkat intervensi kesehatan, tetapi lebih dalam dan lebih jauh lagi yakni pada intervensi program ekonomi pemerintah. Kalau kita fokus pada intervensi kesehatan, maka masalah gizi buruk akan terus terjadi. Karena akar dari masalah ini adalah kemiskinan ekonomi. Dengan demikian fokus intervensi pemerintah adalah intervensi ekonomi yang tepat sasar dan tepat guna terhadap keluarga-keluarga yang tidak memiliki lahan pertanian atau para petani yang lahan pertaniannya kecil.

Bentara, 5 Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s