Tolak Tukar Komodo

Oleh FRANS OBON

KOMODO kembali mendapat prahara baru. Pariwisata Manggarai Barat dengan komodo sebagai salah satu trade mark yang telah dikenal luas di tingkat internasional seakan tidak pernah sepi dari kontroversi, perdebatan, dan diskusi publik masyarakat Flores khususnya dan NTT umumnya.

Pertama, beberapa waktu lalu masyarakat Flores baik pemerintah daerah, masyarakat di Flores dan rantauan maupun pemerintah Provinsi NTT menolak rencana pemerintah pusat untuk memindahkan 10 komodo dari Manggarai Barat ke Taman Nasional di Bali. Alasan untuk pelestarian komodo ditolak. Dalih apapun untuk memindahkan kekayaan masyarakat Flores ke daerah lain tidak bisa diterima. Karena memindahkan komodo sama dengan memindahkan kekayaan masyarakat Flores. Pemerintah provinsi pada waktu itu juga dengan tegas menolak rencana tersebut.

Kedua, kita juga masih ingat ketika komodo masuk dalam nominasi voting yang dilakukan masyarakat internasional yang disponsori New Seven Wonders of Nature. Saat itu di tengah komodo mulai “naik daun” dalam voting tersebut, tiba-tiba ada perdebatan baru mengenai keabsahan institusi New Seven Wonders of Nature yang berbasis di Swiss itu. Syukur komodo pada akhirnya tetap masuk dalam tujuh keajaiban dunia menurut versi lembaga ini.

Ketiga, pariwisata Manggarai Barat dengan ikon komodo – meskipun masih banyak objek wisata yang luar biasa indah dan menariknya – direpotkan oleh masalah tambang. Tambang bertetangga dengan pariwisata tentu tidaklah bisa diterima. Karena dua sektor itu berbeda sama sekali. Tapi karena pemerintah daerah atau lebih tepat oknum tertentu ingin mendapatkan “keuntungan” cepat, maka dikampanyekanlah tambang. Padahal pariwisata jika dikelola dan ditangani dengan baik akan lebih banyak menyerap tenaga kerja dan melibatkan lebih banyak masyarakat lokal dalam pengelolaannya.
Keempat, sekarang komodo ditukar dengan panda dari Cina. Komodo dibawa ke Cina, panda akan dipelihara di Jakarta atau di tempat lain. Tapi sudah pasti bukan di Flores. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menolak kesepakatan yang telah diambil pemerintah pusat di Jakarta dan pemerintah Cina untuk mempertukarkan komodo dari Taman Nasional Komodo (TNK) dengan panda dari Cina. Sekretaris Daerah Provinsi NTT Frans Salem kepada media di Kupang mengatakan bahwa pemerintah provinsi menolak kesepakatan tersebut (Flores Pos 5 Mei 2012). “Kalau mau lihat komodo, datanglah ke Pulau Komodo. Kita tidak mau komodo yang menjadi ikon NTT dan Indonesia dibawa ke negara lain. Walau telah disepekati antara Indonesia dan Cina, namun NTT tetap saja menolaknya,” katanya.

Orang Flores, apapun alasannya, harus menolak rencana pemerintah pusat untuk menukarkan komodo dengan panda. Pembatalan pertukaran komodo dan panda tidak akan melonggarkan atau meretakkan hubungan bilateral antara kedua negara. Komodo telah dikenal luas dan karena binatang langka itulah maka jumlah kunjungan wisatawan ke Manggarai Barat meningkat tiap tahun. Kita bisa saja berdalih bahwa pariwisata Mabar tidak hanya mengandalkan komodo. Itu benar. Karena memang Manggarai Barat dikarunia begitu banyak objek wisata bawah air dan alam yang indah dan unik. Tetapi hal itu tidak bisa menjadi alasan pembenar agar kita menyetujui tukar menukar komodo dan panda. Orang Flores harus berani mempertahankan kekayaan yang mereka miliki karena kekayaan itulah yang mereka akan wariskan ke generasi berikutnya.

Bentara, 7 Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s