Berorientasi pada Perubahan Mental

Oleh FRANS OBON

SEJUMLAH ORANG mengira bahwa Pater Alex Ganggu SVD datang dengan setumpuk uang ketika ia turun ke komunitas basis untuk memberikan penyadaran. Mereka terperangkap dengan berbagai stereotipe.

Maklum Pater Alex memang berkecimpung dalam karya Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Ende. Karena itu pada saat Pater Alex datang orang mengira Pater Alex datang dengan setumpuk bantuan material, yang tidak lain uang. Karenanya dalam nada kelakar, ada peserta yang bilang: “Ah, saya pikir bagi uang. Padahal fotokopi kertas-kertas bahan pembinaan.” Kini Pater Alex telah mengembangkan empat kelompok basis dalam proyek pemberdayaan masyarakat.

Untuk mengetahui mengapa Pater Alex tertarik dengan bidang ini dan apa gagasannya tentang pemberdayaan masyarakat sederhana, saya mewawancarainya, 14 Agustus 1997.

Pater Alex berkecimpung dalam karya yang berkaitan dengan hidup orang-orang sederhana, dengan minat yang amat besar. Apakah ada pengalaman tertentu.

Kalau ditanya tentang satu pengalaman, dapat saya katakan tidak ada. Tapi ada banyak pengalaman atau lebih tepat dikatakan rangkaian pengalaman yang membawa saya kepada keterlibatan yang penuh hati.

Saya berasal dari keluarga sederhana jika dilihat dari kacamata orang kota atau modern. Sederhana lebih dalam arti orang desa, dari keluarga tidak berpendidikan, kalau pendidikan diartikan dengan sekolah. Namun dari asal sederhana tersebut saya mendapat privilese, keistimewaan yakni saya disekolahkan sampai tingkat studi filsafat dan teologi di Ledalero, Maumere sebagai persiapan untuk menjadi imam. Namun saya selalu sadar bahwa selain karena karunia istimewa dari Tuhan, keistimewaan itu juga karena didukung oleh banyak orang sederhana (desa) tersebut sehingga ketika saya menyelesaikan studi teologi dan ditahbiskan imam, saya bertekad untuk mengembalikan apa yang telah saya terima dari orang-orang sederhana tersebut. Dan tekad saya itu saya jadikan moto hidup saya sebagai imam. Pengalaman tadi diperkuat malah menjadi tugas karena sebagai seorang imam, biarawan dan misionaris Serikat Sabda Allah (SVD), saya mendapatkan tugas untuk menjalankan salah satu dari prioritas karya SVD yakni beralih kepada orang kecil (passing over).

Dua tahun terakhir saya dipercayakan oleh pemimpin Keuskupan Agung Ende menjadi Ketua Pengembangan Sosial Ekonomi. Saya diberi beban dan tugas baru untuk memperhatikan orang-orang sederhana yang oleh Musyawarah Pastoral (Muspas) Keuskupan Agung Ende dirumuskan dengan kata-kata “yang paling tersisih dari yang tersisihkan”. Jadi telah terjadi proses perubahan dalam motivasi mengapa saya begitu terlibat terhadap usaha orang kecil untuk memperbaiki taraf hidupnya. Beralih dari minat menjadi mission (misi) atau tugas.

Pater Alex membentuk dua kelompok, satu di Kabupaten Ngada dan satu lagi di Kabupaten Sikka sebagai model. Bisa diceritakan alasan pemilihan dua tempat tersebut?

Sebenarnya ada dua di Aegela/Sorowae di Paroki Ndora dan Nangaroro di Kevikepan Bajawa dan di Peibenga Paroki Moni, Ende-Lio. Sekarang sudah berkembang menjadi empat yakni di Aewora Paroki Maurole (Ende) dan di Bloro (Maumere).

Ide dasar pada awalnya adalah komisi atau lebih tepat saya sebagai pribadi ingin mendapatkan pengalaman lapangan bagaimana sukar dan sulitnya mengimplementasikan gagasan-gagasan pedoman pastoral PSE terutama dalam membentuk kelompok-kelompok. Dengan demikian saya tidak berbicara mengawang tentang pembentukan kelompok bila saya harus menyosialisasikan gagasan Muspas kepada petugas-petugas sosial ekonomi di paroki-paroki.

Dalam perkembangannya ketika pengalaman tersebut berubah menjadi semacam demplot dan sekaligus menjadi pusat pelatihan masyarakat sekitarnya. Ide ini sangat disetujui Misserior dalam kunjungan lapangan mereka yang terakhir dan bersedia mendanai tempat-tempat tersebut dengan fasilitas pelatihan.

Dari pengalaman Pater Alex, faktor apa saja yang menghambat usaha pemberdayaan seperti ini?

Pertama, ide atau gagasan pemberdayaan itu sendiri belum terlalu jelas. Paling tidak banyak orang mengucapkannya dengan arti yang tidak sama. Kalau artinya sudah berbeda apalagi proses atau langkah-langkah yang harus diikuti, pasti beragam pula. Saya memang dari latarbelakang lembaga pendidikan.

Dalam pengalaman saya sebagai pendidik terutama untuk para frater di Ledalero selama sebelas tahun, gagasan ini telah dicoba. Walaupun dengan terminilogi dan konteksnya lain yakni pendidikan formal. Subyek didikannya adalah para frater.

Ketika saya menjadi ketua PSE saya mulai mengembangkan amanat Muspas bahwa karya pastoral PSE pasca-Muspas harus berorientasi pada transformasi mental daripada fisik lewat intervensi proyek-proyek. Karena itu saya menilai tugas Komisi PSE pada masa ini adalah pendidikan mental. Selama dua tahun ini saya pergi ke mana-mana. Biasanya tas saya penuh dengan kertas fotokopi bahan pembinaan dan bukan uang kertas. Sampai-sampai ada peserta dalam nada kelakar berkata, ah, saya pikir uang kertas! Dari pengalaman saya selama ini yang terbatas pada beberapa kelompok dapat saya katakan bahwa hambatan usaha pemberdayaan seperti ini sebagai berikut.

Pertama, tidak semua instansi yang bergerak di bidang pengembangan masyarakat bekerja dengan prinsip yang sama. Ada lembaga yang dapat saya katakan bukan memberdayakan masyarakat tetapi memperdayakan masyarakat kecil. Dengan kata lain yang agak kasar “memproyekkan masyarakat kecil” bahwa rakyat kecil tidak diikutsertakan sebagai subjek perbaikan atau perubahan.

Kedua, masalah transisi. Kita bekerja dalam bidang pengembangan masyarakat dengan sejumlah asumsi keliru antara lain kita adalah penyelamat dan mereka (masyarakat) harus diselamatkan, mereka tidak tahu apa-apa dan kita tahu semua; kita mampu dalam segala hal (teknologi dan modal) dan mereka tidak mampu (tidak berdaya) sama sekali. Menurut pakar psikologi, mereka yang sekian lama diperlakukan dan dianggap semacam itu lama-lama akan menganggap diri seperti itu, yakni tidak tahu, tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu dengan prinsip pemberdayaan, tiba-tiba kepada mereka dikatakan bahwa mereka mampu. Tentu mengejutkan juta. Ini butuh proses untuk beralih dari cara berpikir serba tidak berdaya sampai sadar: ah, padahal kami mampu juga. Dan itulah sebenarnya inti dari dari kata pemberdayaan (empowering). Banyak orang mengucapkannya tapi tidak tahu persis apa arti kata-kata itu. Asal ikut bunyi besar.

Konsep konsientisasi dikritik sebagai pengalihan konsep /pemahaman kaum terdidik kepada kelompok sasar. Penilaian Pater Alex?

Saya coba menjelaskan apa dimaksudkan dengan konsep konsientisasi. Secara historis (pendidikan), kata ini lahir dan diambil dari Paulo Freire dalam praktik pendidikan orang dewasa. Dalam praktik tersebut (pendampingan kelompok) lewat proses konsientisasi Paulo Freire pertama-tama menyadarkan situasi sebagai titik tolak atau dasar untuk setiap tindakan perbaikan atau perubahan. Bagaimana Anda membuat satu perubahan kalau belum tahu apa yang harus diubah. Memang benar bahwa konsep itu sudah ada di dalam benak si Freire.

Namun si Freire tidak menginstruksikan kelompok sehingga kelompok membuat perubahan atas dasar kesadaran Freire. Kesadaran yang ada dalam benak Freire harus diproses ulang dalam benak kelompok sehingga kelompok membuat perubahan atas dasar kesadaran kelompok. Bukan atas dasar kesadaran Freire. Kalau tidak demikian itu disebut penghasutan dan manipulasi. Dan Freire tidak buat demikian. Memang itu bukan filsafat pendidikannya.

Bisakah pemberdayaan hidup orang-orang sederhana itu disebut sebagai bentuk pemerdekaan.

Bukan hanya bisa. Tapi inti dari filsafat pemberdayaan orang kecil adalah pembebasan. Pembebasan dalam arti satu kesadaran dari serba tidak tahu dan tak mampu kepada kesadaran akan kemampuan dan daya yang ada di dalam dirinya. Pada gilirannya orang sadar bahwa dia mampu dan mempunyai kekuatan untuk itu. Maka dia bertindak dengan penuh percaya diri. Itulah artinya pembebasan sejati.

Sumber: SKM Dian 22 Agustus 1997.

Catatan: Pater Alex Ganggu SVD meninggal dunia di RS Kewapante Maumere, Jumat 23 November 2012 pada Pkl. 15.35. Dia dikuburkan di Biara Bruder Santo Konradus Ende, Senin 26 November 2012. Misa requiem dipimpin Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota.

Naskah ini dimuat dalam John Dami Mukese dan Frans Obon (eds), Merawat Altar di Ladang-Ladang Lintas Batas, Ende: Nusa Indah, 2012. Buku ini diterbitkan dalam rangka kenangan 40 Tahun imamatnya, 10 Juli 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s