Gampang Dimulai, Sulit Dipertahankan

*Tentang Pemberdayaan Kelompok

Oleh FRANS OBON

PADA tanggal 16-22 Oktober 1997 Pater Alex Ganggu SVD mengikuti pertemuan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan zona Asia Pasifik di Pune India. Para koordinator Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan mengadakan simposium guna mencari pijakan refleksi bersama mengenai karya keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan dan kemudian membiarkan setiap peserta mencoba mengimplementasikan gagasan-gagasan tersebut di wilayah kerjanya masing-masing secara kontekstual.

Cakupan bidang komitmen diperluas. Sejak tahun 1970-an karya keadilan dan perdamaian mencakup kepedulian pada masalah lingkungan hidup. Dengan demikian komitmen pada bidang keadilan dan perdamaian tidak saja mencakup sesama manusia, melainkan seluruh ciptaan sehingga pada tingkat internasional Komisi Keadilan dan Perdamaian SVD ini disebut Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace, and Integrity of Creation/JPIC).

Untuk mengetahui proses pemberdayaan kelompok marjinal sekaligus komitmen Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan, saya mewawancarai Pater Alex Ganggu SVD. Karena kesibukannya Pater Alex menjawab pertanyaan saya secara tertulis 10 November 1997.

Belum lama berselang Pater Alex mengikuti sidang Komisi Keadilan dan Perdamaian di Pune India. Mengapa India, apakah ada latarbelakang khusus?

Ya sebenarnya tidak ada latarbelakang khusus. Ini hanya soal giliran. Sudah menjadi kesepakatan para anggota bahwa pertemuan diadakan di tempat-tempat berbeda dan diatur secara bergilir. Sidang pertama di Filipina, sidang kedua di India dan berikutnya akan diadakan di Indonesia pada tahun 1999.

Apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan itu dan bentuknya?

Bentuknya adalah simposium dengan tema utama “Kemiskinan, Sebab-Sebab dan Jawaban-Jawaban” (Poverty: Causes and Responses).

Sekarang karya keadilan dan perdamaian sudah diperluas, mencakup masalah lingkungan hidup. Bagaimana menjelaskan perluasan bidang komitmen ini?

Ya ini memang perkembangan baru yang telah dimulai sejak tahun 1970-an. Sejak itu orang makin menyadari bahwa perjuangan kita dalam bidang keadilan dan perdamaian tidak terbatas pada sesama manusia (human beings), tetapi mencakup seluruh ciptaan Allah. Karena itu Komisi Keadilan dan Perdamaian SVD bernama Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan atau pada level internasional dikenal dengan nama Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC).

Kelihatannya ada pergeseran paradigma dari dominasi atas alam sebagai bentuk supermasi manusia atas alam lewat teknologi kepada harmonisasi dengan alam. Bagaimana hal ini dijelaskan? (Ciri budaya modern adalah penguasaan atas alam lewat teknologi dan harmonisasi dengan alam adalah ciri budaya tradisional)

Ya saya sangka ini pun merupakan hasil perkembangan pemikiran dan kesadaran manusia tentang dunia pada umumnya dan tentang dirinya secara khusus.

Pada awalnya barangkali seperti yang Anda sebut sebagai budaya tradisional, manusia merasa diri kecil. Malah terancam oleh dunia sekitar yang sering dialami sebagai sesuatu yang berbahaya seperti banjir, letusan gunung berapi, binatang buas dan lain-lain.

Lama-lama berkat ilmu pengetahuan dan teknologi manusia mengatasi bahaya-bahaya tersebut. Selanjutnya dia dapat menguasai dan memanipulasi alam sesuai dengan kebutuhannya. Pada masa ini manusia semakin merasa sebagai subjek yang serba mampu, lalu alam dijadikan objek. Manusia menunjukkan kemampuannya dalam berbagai macam bentuk seperti dominasi, eksploitasi dan perusakan. Itulah sebabnya banyak pemikir telah sadar bahwa kemampuan atau pembangunan dari satu pihak menjadi kebanggaan manusia teknologi zaman ini tetapi dari pihak lain berakibat penghancuran dan pemusnahan alam.

Kemajuan yang kita nikmati sekarang harus dibayar dengan pemiskinan yang harus ditanggung oleh anak cucu di masa depan. Ancaman terhadap masa depan dunia dan manusia inilah yang memicu para pemikir untuk merumuskan kembali eksistensi dan peran manusia di tengah kehidupan. Dari segi Kitab Suci, kita dituntut untuk menginterprestasi ulang makna Kitab Suci agama Kristen yang berbunyi: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kej. 1:27).

Searah dengan penemuan diri manusia sebagai subjek, teks tersebut cenderung untuk ditafsir sebagai menguasai, yang berarti memanfaatkan secara serakah. Pada akhirnya ini merusak dan menghancurkan dunia secara total. Kita dapat menyaksikan akibatnya bagaimana hutan-hutan dirusakkan demi nama pembangunan.

Kesadaran baru mengenai peran manusia di antara seluruh makhluk ciptaan menuntut kita untuk menyimak ulang makna teks teks tersebut lebih kepada pengertian “menjaga”. Tuhan yang telah menciptakan segalanya menyerahkan tanggung jawab kepada manusia untuk menjaga dan merawat ciptaan. Ini yang disebut spiritualitas ekologi.

Kehadiran manusia di antara sesama ciptaan adalah sebagai sahabat yang harus memelihara dengan cara berada yang akrab atau seperti yang Anda sebut harmonis dengan alam. Tujuan akhir karya pastoral adalah “sahabat dengan Allah, sahabat dengan sesama dan sahabat dengan alam”.

Apakah ada action plan (rencana tindak) sebagai follow up (tindak lanjut) pertemuan Pune?

Sama seperti setiap lokakarya, rencana tindak lanjut tentu saja diserahkan kepada setiap peserta. Setiap peserta coba mengimplementasikan gagasan-gagasan di Pune. Karena peserta yang hadir pada simposium ini adalah para koordinator, maka rencana tindak lanjut adalah bagaimana menjiwai dan mengkoordinasikan segala kegiatan para misionaris-biarawan SVD di mana keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan menjadi jantung dan jiwa karya misi para anggota SVD di wilayah kerja masing-masing. Bagaimana konkretnya tentu masih butuh waktu lagi.

Kelompok sasar pengembangan sosial ekonomi (PSE) adalah masyarakat sederhana bahkan yang tersisihkan dalam masyarakat. Bagaimana wujud konkret atau bentuk pembinaan yang diberikan tentang keadilan, perdamaian dan cinta lingkungan.

Musyawarah Pastoral (Muspas) Keuskupan Agung Ende telah menemukan satu metodologi yang di dalam karya pastoral lebih dikenal dengan nama Lingkaran Pastoral. Lingkaran Pastoral tersebut terdiri dari beberapa langkah atau momen. Momen pertama adalah situasi, momen kedua adalah analisis, momen ketiga adalah refleksi Kitab Suci, momen keempat adalah rencana tindak atau program kerja, momen kelima adalah implementasi, dan akhirnya momen keenam adalah evaluasi.

Selama ini saya mengadakan beberapa eksperimen bagaimana mengimplementasikan model ini terutama bersama kelompok marjinal.

Tentu saja dengan berbagai adaptasi yang sesuai dengan kemampuan mereka. Dari pengalaman saya selama ini saya telah dokumentasikan baik dalam bentuk telenovela, foto-foto maupun slides. Dokumen tersebut bakal digunakan dalam menyosialisasikan metode. Lingkaran Pastoral baik kepada rekan-rekan imam maupun instansi-instansi lain yang bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat marjinal.

Tanpa pendampingan terus menerus acapkali kelompok sasar yang telah dibentuk sekian lama mati. Antisipasi Pater Alex agar kelompok sasar ini bisa bertahan dan menopang dirinya sendiri, bagaimana?

Anda memang benar. Dan inilah yang menjadi bayangan hitam setiap kali saya mulai dengan pendampingan salah satu kelompok. Rasanya gampang memulai tetapi mempertahankannya sangat sulit, terutama bicara tentang keadilan dan perdamaian adalah satu pembicaraan lawan arus dan penuh risiko, dimusuhi dan bahkan dibenci.

Salah satu kelompok yang saya bina mengungkapkan ketakutan mereka mengenai kelanjutan proses penyadaran atas situasi yang tidak adil. Mereka mengatakan kepada saya tentang tantangan yang pertama-tama mereka hadapi dan apa yang mereka lakukan tanpa saya.

Menghadapi situasi semacam ini ada beberapa langkah yang dipikirkan. Pertama, supaya proses penyadaran ini tidak bakal menimbulkan kebencian dan permusuhan di antara umat/masyarakat, mestinya proses penyadaran itu melibatkan semua komponen umat/masyarakat. Namun dengan berpihak kepada orang kecil, kita sudah membuat proses refleksi bersama itu menjadi tidak mungkin. Dan ada bahaya kalau hanya menyadarkan satu komponen saja dalam masyarakat, sebab terdapat kecenderungan membangun satu kekuatan baru, yang dapat saja menjadi penindas baru.

Langkah kedua adalah menciptakan pemimpin-pemimpin lokal yang akan meneruskan usaha yang telah dimulai tanpa harus menunggu pemimpin dari luar kelompok.

Apakah Pater Alex yakin bahwa konsientisasi mampu melahirkan aksi bersama kelompok sasar termasuk kelanggengan kelompok sasar itu sendiri?

Saya yakin bisa. Asal proses konsientisasi tidak terbatas pada kelompok sasar yang kecil dan terisolasi satu dari yang lain tetapi terjalin dalam satu jaringan kerja (network).

Pater Alex sudah lama berkecimpung dalam kegiatan PSE dan sebelumnya bekerja di Komisi Keadilan dan Perdamaian. Menurut Pater Alex, apa sebenarnya keadilan dan perdamaian itu?

Maaf saya tidak dapat memberikan satu definisi etimologis. Yang saya mau berikan adalah satu definisi praksis pastoral.

Ketika kepada para koordinator SVD sejagat diminta melaporkan aktivitas karya pastoral di bidang keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan, kita mendapat satu seri jawaban yang dilihat dari jenis kegiatan sangat beraneka ragam antara lain perawatan dan pendampingan terhadap penderita penyakit AIDS, rehabilitasi korban alkoholisme, pendampingan terhadap pemulung, penampungan anak-anak jalanan, rehabilitasi anak-anak cacat, proyek perbaikan serta peningkatan taraf hidup masyarakat pedesaan dan praktik bantuan hukum.

Definsi praksis ini kelihatan sangat luas dan memberi kesan segala sesuatu adalah karya keadilan dan perdamaian. Dari pendalaman pemahaman atas praksis, keluar satu definisi praksis bahwa karya keadilan dan perdamaian dapat dirumuskan sebagai “jawaban pastoral atas konteks sosial”.

Dari definisi ini dapat kita pahami jenis jawaban atau tanggapan pastoral terhadap konteks sosial tertentu. Kalau situasi sosial bersifat opresif dan otoriter, jawaban yang tepat adalah pemberdayaan dan demokratisasi. Kalau situasi sosial sangat didominasi penindasan, responnya adalah advokasi atau pembelaan. Kalau situasi sosialnya sangat terkebelakang dan miskin mungkin responnya yang tepat adalah perbaikan dan peningkatan taraf hidup sosial ekonomi.

Namun patut digarisbawahi bahwa yang menjadi leitmotiv atau benang merah dari seluruh karya keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan adalah situasi kesenjangan dalam bidang kehidupan apa saja, yang menyebabkan ketidakadilan. Karena ada sekelompok orang yang mendapat privilese untuk mengecapi kehidupan yang enak, sementara sebagian besar orang terpaksa hidup di bawah standar yang layak sebagai manusia, justru karena ulah segelintir orang yang menikmati privilese tadi.

Sumber: SKM Dian, edisi 21 November 1997.

Catatan: Pater Alex Ganggu SVD meninggal dunia di RS Kewapanten Maumere, Jumat 23 November 2012 Pkl. 15.35. Pater Alex dikuburkan di Biara Bruder Santo Konradus Ende. Misa requiem dipimpin Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota.
Naskah ini pernah dimuat dalam John Dami Mukese dan Frans Obon, Merawat Altar di Ladang-Ladang Lintas Batas, Ende: Nusa Indah, 2012. Buku ini diterbitkan untuk mengenang perayaan 40 tahun imamatnya, 10 Juli 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s