Guru Dituntut Profesional

Oleh FRANS OBON

MENTERI Pendidikan Nasional Muhammad Nuh dalam dua tahun terakhir ini pada perayaan Hari Guru, yang jatuh pada 25 November, selalu menekankan pentingnya profesionalisme dan penegakan kode etik profesi guru. Tahun 2012 tema Hari Guru adalah “Memacu Profesionalisasi Guru Melalui Peningkatan Kompetensi dan Penegakan Kode Etik”. Sedangkan pada tahun 2013, tema Hari Guru adalah “Mewujudkan Guru yang Kreatif dan Inspiratif dengan Menegakkan Kode Etik untuk Penguatan Kurikulum 2013”.

Tidaklah dapat disangkal bahwa guru adalah tiang pokok dari seluruh proses pendidikan formal di lembaga-lembaga pendidikan kita. Sementara keluarga dan masyarakat membantu dan menyokong seluruh proses pendidikan formal tersebut. Pendidikan sebagai proses kebudayaan sudah pasti dituntut untuk menghasilkan tamatan yang bermutu, yang bisa bersaing dengan bangsa lain dalam konteks kehidupan global, dan memiliki keterampilan dalam hidup, serta menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari hidup seseorang. Oleh karena itu mutu sebuah bangsa sebagian besar ditentukan oleh mutu lembaga-lembaga pendidikan. Dengan demikian pula mutu sumber daya manusia yang kita miliki mencerminkan proses pendidikan kita di lembaga pendidikan.

Jika demikian, maka tuntutan pertama ditujukan pada peranan seorang guru. Tamatan dari lembaga pendidikan, pada tingkat apa saja, mencerminkan seluruh proses di lembaga pendidikan di mana di dalamnya guru memegang peranan sentral. Tuntutan agar tamatan dari lembaga pendidikan kreatif, inovatif, berjiwa eksploratif, berinisiatif, berdedikasi, berkomitmen, dan lain-lain, samah sahihnya jika tuntutan itu dialamatkan kepada guru.

Dalam pandangan filsafat eksistensialisme, misalnya, jika seorang guru mengharapkan agar tamatan dari lembaga pendidikan itu kreatif, inovatif, berjiwa eksploratif, berinisiatif, dan lain-lain, maka pertama-tama guru harus terlebih dahulu kreatif, inovatif, dan berjiwa eksploratif. Apa yang dia ajarkan dalam seluruh proses pendidikan itu haruslah lahir dari pengalamannya sendiri, lahir dari inti kepribadiannya, lahir dari kekayaan intelektual yang dia miliki. Sebab seseorang tidak bisa memberi dari apa yang dia tidak miliki. Itulah alasannya mengapa tuntutan pertama adalah guru harus profesional.

Sikap ilmiah tidak akan tumbuh di dalam diri anak didik kalau seorang guru juga tidak memiliki sikap ilmiah. Tidak adanya kultur ilmiah di lembaga pendidikan kita, juga sebagian besar disebabkan tidak adanya sikap ilmiah di dalam diri para guru. Tuntutan agar guru harus profesional adalah tuntutan dasar dan proses yang tidak akan pernah berakhir. Guru bisa menjadi teladan, sumber inspirasi dan sumber kreativitas bagi anak didiknya jika seorang guru memiliki kompetensi yang memadai.

Bentara, 26 November 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s