Jangan Jadi Penonton

IMG_2427

Oleh FRANS OBON

SELAMA empat pekan ke depan, umat Katolik memasuki masa Adventus, masa perenungan dan persiapan lahir dan batin untuk menyambut Natal. Adventus adalah sebuah kesempatan untuk berefleksi, untuk melihat kembali ke dalam diri dalam konteks relasi vertikal dengan Tuhan dan relasi horisontal dengan sesama manusia dan tata ciptaan lainnya.

Dalam konteks itu, Surat Gembala masa Adventus Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota pada tahun 2013 mengajak umat Katolik, termasuk di dalamnya semua orang yang berkehendak baik, untuk melihat kembali tata kehidupan sosial kita. Surat Gembala itu mengajak umat Katolik untuk berpartisipasi aktif di dalam kehidupan bersama sebagai bangsa dan negara. Umat Katolik diajak untuk terlibat secara penuh di dalam pergulatan kemanusiaan untuk menciptakan tata kehidupan sosial yang tertib dan sejahtera lahir dan batin. Tuntutan ini yang sifatnya imperatif adalah bagian dari tanggung jawab umat Katolik untuk memberikan kontribusi bagi kehidupan bersama dalam segala segi. Dengan demikian, tuntutan untuk berpartisipasi aktif itu merupakan prasyarat dasar bagi orang Katolik agar sungguh-sungguh menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen warga negara Indonesia.

Di dalam percaturan bersama itu, partisipasi aktif kita haruslah berpedoman pada prinsip-prinsip dasar. Uskup memberikan beberapa kriteria dasar: menghormati harkat dan martabat kemanusiaan, tidak melanggar dan mengabaikan hak-hak asasi, dilakukan dalam semangat persaudaraan lintas batas, tidak boleh mengorbankan orang lain terutama masyarakat kecil yang miskin, lemah dan tak berdaya, taat asas dan taat hukum.

Namun perlulah diingatkan bahwa keterlibatan aktif kita di dalam menyelesaikan berbagai macam urusan sosial itu haruslah keterlibatan yang bertanggung jawab. Keterlibatan yang aktif di dalam kehidupan politik, misalnya, menuntut pula adanya tanggung jawab. Setiap keputusan politik yang kita ambil haruslah lahir dari rasa tanggung jawab. Sebab kita juga bertanggung jawab atas kebaikan dan kemaslahatan umum. Dalam bidang ekonomi, kita dituntut untuk terlibat aktif sehingga tidak menjadi penonton dan asing di dalam percaturan ekonomi lokal. Dalam bidang budaya, kita harus aktif agar kita tidak kehilangan jati diri oleh berbagai pengaruh zaman. Dalam bidang sosial, kita aktif agar kita melakukan perubahan secara terencana. Dalam bidang apapun kita terlibat haruslah disertai pula dengan rasa tanggung jawab atas kebaikan umum.

Tidak jarang oleh berbagai kepentingan dan tafsiran kepentingan yang berbeda, keterlibatan kita itu menimbulkan gesekan-gesekan kepentingan. Namun semua konflik kepentingan itu haruslah diselesaikan dalam semangat persaudaraan dan menggunakan jalan damai. Sebab kasih adalah esensi dasar dari perayaan Natal. Allah mengasihi manusia sehingga Dia masuk dalam situasi kita. Dia solider dengan kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa.

Semangat Damai Natal itu jelas mendorong kita untuk tidak berpangku tangan dengan situasi sosial kita, untuk tidak menjadi penonton setia yang bersorak-sorai di pinggir arena sosial kita dan menyerahkan nasib kita pada keputusan orang lain. Tetapi sebaliknya kita menceburkan diri di dalam pergulatan kehidupan bersama kita sebagai bangsa dan negara. Ini artinya Natal haruslah menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen kita untuk terlibat aktif dalam menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan, masalah bangsa dan negara kita. Natal, sekali lagi, menjadi kesempatan untuk bertekad memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara sehingga 100 persen Katolik dan 100 persen warga negara Indonesia.*

Bentara, 30 November 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s