Memberdayakan Petani

Wakil Bupati Nagekeo Paulinus Yohanes Nuwa Veto menyerahkan cincin penghargaan.
Wakil Bupati Nagekeo Paulinus Yohanes Nuwa Veto menyerahkan cincin penghargaan.

Oleh FRANS OBON

PEMERINTAH Kabupaten Nagekeo memberikan cincin penghargaan kepada tiga orang pegawai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang telah memasuki masa purna tugas dalam acara Natal dan Tahun bersama di aula Paroki Ndora pada Sabtu (11/1/2014). Cincin penghargaan ini diserahkan oleh Bupati Elias Djo dan Wakil Bupati Paulinus Yohanes Nuwa Veto dan Ketua DPRD Nagekeo Gaspar Batu Bata. Bupati Elias Djo meminta ketiga PPL ini agar kendati mereka telah berada dalam masa purna tugas, mereka tetap memberikan dan menyumbangkan pengetahuan dan keterampilan mereka kepada para petani di Nagekeo (Flores Pos, 13 Januari 2014).

Pembukaan pendidikan di bidang pertanian di Flores, terutama Sekolah Menengah Pertanian Atas (SPMA) Boawae di Kabupaten Nagekeo, memang pada awalnya adalah untuk membantu para petani di Flores dan Lembata terutama dalam hal penguasaan pengetahuan, keterampilan dan teknologi pertanian. Hierarki Gereja Katolik dalam kerja sama yang erat dengan para awam Katolik ingin membantu dan memberdayakan para petani Flores agar para petani memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam cara bertani. Bahwa kemudian banyak dari tamatan SPMA Boawae diangkat menjadi tenaga PPL yang berstatus pegawai negeri sipil adalah juga sebuah berkah.
Namun tujuan awalnya adalah agar para petani di Flores dan Lembata mendapatkan transfer pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola pertanian.

Usaha-usaha ini ditingkatkan lagi dengan pembukaan Fakultas Pertanian di berbagai perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur. Ditambah lagi makin banyak anak-anak kita dari Flores dan Lembata belajar pada universitas-universitas di luar Flores di bidang pertanian.

Kita memang berhadapan dengan kenyataan bahwa komitmen dan keinginan untuk memodernisasi pertanian di Flores dan Lembata, serta pengalihan pengetahuan dan teknologi kepada para petani tidak selalu terwujud. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor baik halangan sosio-kultural maupun oleh kebijakan pemerintah terhadap sektor pertanian kita. Sebab sudah menjadi rahasia umum, kendati mayoritas rakyat kita adalah petani namun kebijakan pemerintah kita di sektor pertanian masih kurang menggigit. Minimnya jumlah tenaga PPL dan tenaga-tenaga terampil terdidik untuk membantu para petani adalah salah satu dari contoh kurang menggigitnya kebijakan pemerintah di bidang pertanian.

Pesan Gubernur NTT Frans Lebu Raya pada pelantikan Bupati Elias Djo dan Wakil Bupati Paulinus Yohanes Nuwa Veto pada tanggal 23 Desember 2013 agar menyelesaikan masalah tanah di Mbay hanyalah sebagian dari masalah di bidang pertanian kita (Flores Pos, 24 Desember 2013). Fokus paling penting lainnya yang menjadi tugas ke depan adalah memberdayakan petani dan merevitalisasi sektor pertanian. Modernisasi pertanian di Flores dan Lembata hanya bisa dilakukan melalui tangan-tangan terampil terdidik. Pemberian cincin penghargaan itu adalah awal dari usaha untuk menghargai karya-karya pengalihan pengetahuan, keterampilan dan teknologi pertanian kepada para petani kita.

Bentara, 16 Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s