Menangkap Tanda-Tanda Zaman

Peserta Sinode III Keuskupan Ruteng tahun 2014
Peserta Sinode III Keuskupan Ruteng tahun 2014

Oleh FRANS OBON

SEJAK Konsili Vatikan II, kata-kata menangkap tanda-tanda zaman seringkali digunakan untuk mengungkapkan keterbukaan Gereja Katolik terhadap perkembangan dan kemajuan zaman. Konsili Vatikan II pada hakikatnya adalah pembaruan yang terus menerus dari Gereja agar warta keselamatannya bisa ditangkap oleh manusia, pria dan wanita, pada zaman ini. Gereja yang selalu membarui diri (ecclesia semper reformanda) adalah Gereja yang berusaha mencari cara-cara dan sarana-sarana yang cocok untuk mewartakan keselamatan kepada manusia zama ini.

Sinode III Keuskupan Ruteng yang tengah berlangsung sepekan ini di Ruteng dan dihadiri utusan-utusan dari paroki-paroki di seluruh Manggarai raya adalah untuk membahas reksa pastoral yang tepat dan cocok bagi umat Katolik Manggarai saat ini. Sasaran dan tujuannya adalah agar orang-orang Katolik Manggarai memiliki kualitas iman yang kokoh, kuat dan berdimensi sosial. Sinode itu sendiri bermaksud agar reksa pastoral yang dihasilkan oleh Gereja Katolik Manggarai sungguh-sungguh menangkap keluh kesah umat Katolik, memberikan harapan akan masa depan yang baik dan mengantar orang kepada keselamatan utuh menyeluruh.

Kotbah Vikjen Keuskupan Ruteng Romo Alfons Segar dalam ekaristi pembukaan Sinode hendaknya menantang para peserta Sinode III agar umat Katolik Manggarai keluar dari “menara kemapanan” mereka dan terjun dengan aktif dalam pergulatan kehidupan masyarakat Manggarai raya. Umat Katolik sebagai mayoritas di Manggarai harus sungguh-sungguh berada di garda paling depan untuk melakukan pembaruan kehidupan publik di wilayah ujung barat Flores ini.

Seperti perintah Yesus Sang Guru agar para murid “bertolak lebih dalam”, demikian pulalah umat Katolik Manggarai untuk “bertolak lebih dalam” ke dalam pergulatan masyarakat. Dengan demikian Gereja Katolik Manggarai harus menemukan cara-cara dan sarana-sarana yang tepat agar keterlibatan mereka dalam percaturan kehidupan sosial di Manggarai raya bermutu dan menjawabi masalah yang dihadapi.

Gereja sebagai tanda keselamatan pada hakikatnya adalah bersifat rohani yang bertugas membawa sekian banyak orang pada iman yang benar kepada Allah. Tetapi Gereja Katolik sebagai institusi yang bertugas membawa umat manusia menuju persatuan dengan Allah mesti pula menggunakan cara-cara baru hasil temuan akal budi manusia. Hal ini mengharuskan Gereja Katolik Manggarai menggunakan metode-metode baru dalam merancang reksa pastoral Gereja. Dalam konteks itulah kita mendukung survei yang dilakukan untuk melihat dan menilai efektivitas pewartaan iman selama 5 tahun terakhir di Keuskupan Ruteng.

Tantangan Gereja Katolik Manggarai bersama kawanan umatnya makin kompleks setiap hari. Oleh karena itu Gereja Katolik Manggarai tidak bisa menghindarkan dirinya dari persoalan-persoalan yang datang silih berganti itu. Tetapi tidak bisa juga tantangan itu dijawab dengan cara-cara yang dilakukan 100 tahun lalu ketika agama Katolik datang pertama kali di Manggarai. Dengan demikian, harapan kita adalah Sinode III Keuskupan Ruteng sungguh-sungguh menghasilkan reksa pastoral yang menjawabi masalah di Manggarai. Agar umat Katolik Manggarai tidak hanya serani sai kontas bokak, tetapi iman mereka tumbuh dengan kokoh (wake celer ngger wa, saung bembang ngger eta) sehingga wela bombang lau mai, buru warat sale mai tidak akan mampu mengguncangkan akar iman yang telah mereka terima secara turun temurun. Evaluasi yang jujur akan dapat membantu menghasilkan reksa pastoral yang tepat sasar.

Bentara, 17 Januari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s