Mutu Kesehatan Lingkungan

Pedagang di pasar Borong, Manggarai Timur
Pedagang di pasar Borong, Manggarai Timur

Oleh FRANS OBON

PADA musim-musim tertentu, selalu datang penyakit tertentu. Namun, kita tidak pernah mempersoalkan, memperbincangkan, mendiskusikan dengan serius, dan membuat gerakan bersama untuk mengatasinya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan, kita kembali pada masalah yang sama dan mengatasinya dengan cara yang sama. Karena begitu sering terjadi, maka secara tidak sadar kita menerimanya sebagai sesuatu yang lumrah, sebagai business as usual.

Kita ambil beberapa contoh untuk memperlihatkan betapa masalah-masalah ini timbul secara rutin setiap tahun pada bulan-bulan tertentu. Contoh pertama adalah kasus diare. Di Kabupaten Ende misalnya, kasus diare meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2010 kasus diare sebanyak 7.508, tahun 2011 sebanyak 9.206, tahun 2012 sebanyak 8.077 dan tahun 2013 sebanyak 10.877. Salah satu sebabnya adalah hingga tahun 2013, masih ada 40 persen masyarakat Kabupaten Ende tidak memiliki akses terhadap sanitasi dasar seperti jamban (Flores Pos, 30 Januari 2014). Memang haruslah diakui, kasus diare bukanlah satu-satunya disebabkan oleh tidak tersedianya jamban yang sehat. Namun, kasus diare juga disumbangkan oleh kesehatan lingkungan di sekitar kita dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya, yang kita sering lakukan.

Contoh lain yang dapat kita sebutkan adalah masalah sampah pada musim hujan. Fenomena membuang sampah di sembarang tempat hampir merata di seluruh Tanah Air. Masalah banjir Jakarta, misalnya, juga disumbangkan oleh sampah yang dibuang di sembarang tempat dan pola permukiman yang tak terkendali di bantaran sungai. Kita di Flores dan Lembata menghadapi masalah yang sama. Ketika hujan turun, sampah berserakan di jalan. Got-got kita mampet. Air meluap di badan jalan. Drainase menjadi dangkal karena dipenuhi sampah dan tanah. Jalan-jalan rusak digerus air hujan. Drainase yang kita bangun dengan dana miliaran rupiah tidak ada gunanya sama sekali.

Lebih buruk lagi di pasar-pasar kita. Sampah berserakan dan menimbulkan bau busuk. Apalagi pada musim hujan. Kita tahu mengenai hal itu dan kita hanya menutup hidung. Kita melakukan kegiatan Jumat bersih, tetapi Jumat bersih sebagai contoh membersihkan pasar lama-lama menimbulkan ketergantung yakni menunggu orang lain melakukannya untuk kita. Bukankah kita memiliki kewajiban menjaga kebersihan tempat di mana kita tinggal setiap hari?

Semua yang kita sebutkan di atas adalah cerita tentang mutu kesehatan lingkungan kita. Kita memang bertanya, mengapa kita lebih suka mengobati daripada mencegah. Mengapa kita lebih suka menghabiskan dana untuk membiayai pengobatan di rumah sakit daripada kita mencegah terjadinya penyakit yang ditimbulkan oleh lingkungan di mana kita tinggal.

Sikap demikian pada akhirnya berdampak pada cara kita menangani lingkungan tempat tinggal kita dan ruang publik kita. Kita sudah tahu pada bulan-bulan tertentu pasti terjadi diare, tetapi tidak ada tindakan apapun yang mengingatkan kita untuk melakukan sesuatu untuk mencegahnya. Kita tahu bahwa pada musim hujan sampah-sampah dan air mengalir di jalan-jalan kita, tetapi mengapa menjelang musim hujan tiba kita tidak membikin gerakan membersihkan got-got dari sampah dan menggali tanah yang memenuhi got-got kita. Mengapa kita tidak pernah menyiapkan diri menghadapi datangnya musim hujan.

Hal-hal seperti ini mencerminkan bahwa masalah kesehatan lingkungan belum menjadi prioritas kita dalam memenej kehidupan bersama kita. Padahal kalau kita melihat masalah ini lebih dalam, sebenarnya mutu lingkungan hidup kita yang tidak sehat itu menambah beban ekonomi kita. Kita dipaksa untuk menghabiskan uang yang kita tabung sedikit demi sedikit untuk membiayai pengobatan di rumah sakit. Kita terpaksa mengambil tabungan pendidikan anak-anak kita untuk membiayai rumah sakit. Lebih buruk lagi keadaannya jika kita tidak memiliki tabungan apapun, apalagi untuk kesehatan. Kita terpaksa membagi biaya konsumsi kita dengan biaya kesehatan. Lingkaran itu terus menerus meliliti kita.

Kalau kita bikin kalkulasi secara ekonomis, biaya kesehatan untuk mengobati penyakit yang dipicu oleh lingkungan yang buruk jauh lebih besar. Kita membuang uang terlalu banyak untuk mengobati penyakit yang dipicu oleh lingkungan yang buruk. Padahal, cara mencegahnya jauh lebih mudah. Tetapi kita tidak sadar bahwa hal ini adalah proses pemiskinan yang kita ciptakan sendiri.

Bentara, 1 Februari 2014

Satu pemikiran pada “Mutu Kesehatan Lingkungan

  1. Antonius Koesmiarto

    Memang benar,sebelum kita juga nantinya jadi sampah kita semua harus cepat2 sadar bahwa masalah sampah ini harus segera ditangani bersama. Kalau tidak dunia yang indah ini yang telah diciptakan Tuhan bagi kita , nantinya hanya akan berupa bulatan sampah yang akan beredar dan beredar di ruang angkasa. Atau sebenarnya kita ini sudah punya predikat sampah termasuk otak kita. Karena sampai sekarang tidak pernah sadar akan keganasan sampah ini bagi hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s