Lumpur Panas Mataloko

Oleh FRANS OBON

MASYARAKAT Daratei, Mataloko yang berada di sekitar proyek Perusahaan Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTB) dengan bendera Forum Masyarakat Peduli Dampak Buruk Panas Bumi mendatangi DPRD dan pemerintah Kabupaten Ngada untuk menyampaikan keluhan dan tuntutan tentang dampak proyek panas bumi Mataloko. Ketua Forum Maria Kristina Bupu mengatakan, masyarakat datang ke DPRD dan pemerintah Kabupaten Ngada untuk menyampaikan beberapa aspirasi (Flores Pos, 18 Januari 2014).

Inti dari tuntutan dan aspirasi masyarakat Mataloko adalah meminta pemerintah menggantikan seng rumah yang sudah rusak, memberikan pengobatan karena masyarakat menderita penyakit pernafasan dan penyakit kulit, dan sawah dan ladang mereka tidak bisa dikerjakan lagi. Namun, tuntutan lain yang jauh lebih penting adalah mereka minta solusi baik kepada pemerintah daerah maupun kepada pemilik proyek, serta gugatan terhadap hasil analisis mengenai dampak lingkungan yang menyebutkan bahwa proyek ini ramah lingkungan. Itulah sebabnya mereka minta dilakukan kaji ulang terhadap amdal proyek panas bumi ini.

Proyek Mataloko memang dibangun di atas “ambisi pembangunan atas nama kesejahteraan rakyat” untuk menggunakan potensi energi dalam negeri demi mengurangi ketergantungan pada minyak bumi atau energi fosil yang makin menipis. Tentu saja “ambisi pembangunan kesejahteraan rakyat ini” dibangun atas dasar kalkulasi keuntungan ekonomis terutama tentang tersedianya sumber energi listrik dari panas bumi dan dampak ekonomis yang ditimbulkan dari proyek baik terhadap pendapatan asli daerah maupun masyarakat lokal. Keuntungan ekonomis inilah, terutama bagi kabupaten dan masyarakat lokal, yang seringkali digadang-gadangkan oleh pemerintah lokal kita kepada masyarakat.

Tetapi yang seringkali kurang mendapat perhatian dalam proyek pembangunan kita adalah kalkulasi etis atau kalkulasi nilai, sebagaimana telaahan Peter L Berger dalam Pyramides of Sacrifice. Berger berbicara mengenai rasionalitas perencanaan pembangunan. Menurut Berger, jika banyak orang menjadi korban dari sebuah pembangunan, maka hal itu menunjukkan bahwa rasionalitas perencanaan pembangunan terlalu rendah. Hal yang sama dapat kita gunakan dalam konteks banyaknya proyek yang mubazir di Flores dan Lembata. Proyek Mubazir menunjukkan bahwa rasionalitas perencanaan pembangunan terlalu kecil. Dengan itu proyek dibuat demi proyek itu sendiri tanpa memberikan dampak positif bagi keuntungan ekonomi masyarakat.

Dalam hal analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) sebagaimana disyarakatkan oleh undang-undang memang dilakukan tetapi seringkali hampir pasti dilakukan dalam konteks mendukung proyek pembangunan. Dalam konteks rasionalitas publik yang kurang menguntungkan di Flores dan Lembata, kita tidak menemukan Amdal tandingan yang bisa menggugat dan mengkritisi Amdal yang ada.

Watak pembangunan ekonomi Orde Baru, yang mengutamakan kalkulasi ekonomi daripada kalkulasi etis masih menjadi darah daging dari para pemegang kebijakan di daerah kita. Orde Baru, yang melegitimasi dirinya dengan pembangunan ekonomi, memang melakukan hal itu untuk membenarkan dirinya. Kita tidak bisa melihat para korban pembangunan sebagai “hal yang seharusnya” dari pembangunan itu sendiri, melainkan menjadi bagian dari pertimbangan perencanaan pembangunan kita. Reformasi memberi kita kesempatan untuk memperhatikan dengan lebih sungguh-sungguh kalkulasi etis dari proyek-proyek pembangunan kita.

Kasus Mataloko, apapun penyelesaian dan hasilnya kemudian, akan menjadi referensi kita. Masyarakat Flores dan Lembata bisa belajar dari berbagai pengalaman baik dari Flores dan Lembata sendiri maupun dari daerah lain sebagai referensi kita dalam memutuskan proyek pembangunan.

Bentara, 21 Januari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s