Sinterklas dalam Bencana

manggarai Oleh FRANS OBON

TIGA bulan pertama dalam tahun baru adalah bulan-bulan kita menghadapi bencana. Hampir setiap tahun, kita menghadapi problem yang sama dan kita menanganinya dengan cara yang sama. Para korban mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman dan kita memberikan bantuan bahan makanan. Ada banyak yang datang ke lokasi bencana, bukan saja pemerintah yang memang berkewajiban untuk mengurus rakyatnya, tetapi juga badan-badan swasta lainnya. Dan ketika kita memasuki tahun politik, tahun di mana akan digelar Pemilu, banyak partai politik dan aktor-aktor politik datang sebagai sinterklas baru untuk membantu para korban.

Pemerintah, yang oleh kewajibannya membantu para korban, juga seringkali menyembunyikan tujuan politik (kekuasaan) itu kepada massa rakyat. Pemerintah memperlihatkan kemurahannya kepada rakyat melalui pemberian bantuan. Umumnya dalam persepsi masyarakat, termasuk persepsi para pemegang tampuk kekuasaan, kendati biaya bantuan itu berasal dari uang rakyat (uang negara), tetaplah bantuan dipersepsi sebagai kemurahan hati pemerintah. Bertautnya berbagai kepentingan di dalam lumpur bencana alam itu menyebabkan terjadinya “saling senggol” dalam wacana penanganan bencana dan saling kritik.

Bencana yang datang secara rutin itu dan cara kita menanganinya yang sama setiap tahun, kita temukan juga mulai dari Reo di Kabupaten Manggarai hingga di ujung timur Flores ini. Bertautnya berbagai kepentingan terutama politik membikin bencana itu menjadi medan baru untuk menunjukkan bahwa politik memiliki bentuk dan citranya sendiri. Bencana menjadi panggung yang menyembunyikan berbagai kepentingan politik.

Bukanlah maksud kita untuk mengatakan bahwa adalah hal yang tidak benar memberikan bantuan darurat dan memperlihatkan empati kepada para korban. Hal-hal demikian diperlukan ketika terjadi bencana. Itu sangat manusiawi dan terutama merupakan kewajiban negara (pemerintah) untuk memberikan pertolongan darurat kepada para korban.

Ilustrasi-longsor

Tetapi yang ingin kita kemukakan dalam konteks ini adalah diperlukannya perdebatan yang lebih serius untuk mencegah bencana-bencana yang bisa kita cegah lebih awal. Meletusnya gunung api, misalnya, tentu saja tidak bisa kita cegah. Kita malah yang harus menyesuaikan diri dengan fenomena alam itu. Tetapi ada bencana yang bisa kita atasi sehingga bencana itu tidak datang terus menerus. Inilah yang kita minta dari para pemimpin politik dan pemimpin pemerintahan agar kita membahas dan mendiskusikan lebih serius usaha-usaha baru untuk menangani dan mencegah terjadinya bencana alam.

Hal semacam ini tentu saja mengharuskan pemerintah dan pemimpin-politik mengintegrasikan masalah bencana ini dalam keseluruhan kebijakan pembangunan. Kita memproduksi begitu banyak peraturan, tetapi kita seringkali lalai dan tidak konsisten menjalankannya. Oleh karena itu dalam penanganan bencana, kita seringkali lebih fokus pada rehabilitasi daripada pencegahan. Bencana kemudian menjadi momentum untuk mendapatkan dana pemerintah pusat dengan alasan rehabilitasi pasca bencana.

Pengabaian ini juga berdampak pada ketergantungan yang besar dari rakyat kita pada pemerintah. Tiap kali kita dengar masyarakat meminta pemerintah menangani bencana di daerah pedesaan, yang sebenarnya bisa dilakukan oleh masyarakat sendiri. Ini artinya kapasitas lokal itu diabaikan dan tidak diberdayakan. Padahal peningkatan kapasitas masyarakat lokal akan jauh lebih bermanfaat. Kecenderungan untuk lebih fokus pada rehabilitasi membikin bencana menjadi panggung baru yang memperlihatkan watak sinterklas dari bangsa kita.

Bentara, 25 Januari 2014

Satu pemikiran pada “Sinterklas dalam Bencana

  1. Antonius Koesmiarto

    Bagamana bapak bapak yth. Kalau kita usulkan aja untuk membuat Kementerian Bencana Indonesia. Toh sekarang ini kita semua kan juga hidup di Negri bencana. Jadi kita anggarkan juga dari APBN kita anggaran khusus bencana tiap tahun. Setujuuuu?………. Wah hebat lho ada Menteri Bencana. belum pernah ada kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s