Refleksi dan Tobat Menjelang Muspas VII

Surat Gembala Prapaskah Uskup Agung Ende membahas evaluasi dan persiapan Musyawarah Pastoral (Muspas) VII di Mbay, Kabupaten Nagekeo pada 7-11 September 2015.

Oleh FRANS OBON

Mgr Vincent Sensi Potokota
Mgr Vincent Sensi Potokota

ENDE – Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota dalam Surat Gembala Prapaskah tahun 2015 mengajak umat Katolik Keuskupan Agung Ende, Flores tengah merefleksikan kembali hasil-hasil dari reksa pastoral yang direncanakan dalam Musyawarah Pastoral (Muspas) VI yang digelar, Juli 2010 di Kota Ende.

Musyawarah Pastoral pertama kali digelar pada masa kepemimpinan Uskup Agung Ende Mgr Donatus Djagom SVD pada tahun 1987. Sejak itu secara teratur setiap lima tahun Keuskupan Agung Ende mengadakan Muspas dengan menghadirkan wakil-wakil umat Katolik yang dipilih dari berbagai organisasi Katolik dan komisi-komisi keuskupan, organisasi gereja termasuk para pakar dan peninjau dari keuskupan lainnya.

“Setiap Muspas merumuskan butir-butir keprihatinan tertentu yang kemudian ditanggapi dengan berbagai kegiatan pastoral demi pembangunan sebuah gereja lokal yang semakin terlibat dan kontekstual, tetapi yang tetap tidak mengeliminir dari hakikat gereja sejagad dari substansi perutusan gereja Kristus yang satu dan sama,” kata Uskup Sensi.

Dalam Muspas VI yang digelar 2010 di Kota Ende, ada enam butir keprihatinan pastoral:

Pertama, peran Kitab Suci dan Sakramen sebagai jantung kehidupan umat beriman.

Kedua, kesiapan Fungsionaris Pastoral untuk mengelola Komunitas Umat Basis (KUB).

Ketiga, fungsi KUB sebagai suatu cara baru hidup menggereja.

Keempat, keprihatinan seputar pendampingan dan pendidikan nilai bagi kelompok strategis dalam pembangunan gereja.

Kelima, adanya sikap dan pandangan dikotomis dalam urusan iman dan urusan tata dunia.

Keenam, keprihatinan mengenai sumber dana pastoral.

Uskup Sensi bertanya: Sudah sejauh manakah kita berhasil dalam upaya-upaya kita untuk:

Pertama, menjadikan Kitab Suci dan Sakramen sebagai sumber dan pedoman hidup serta karya kita?

Kedua, meningkatkan spiritualitas, pengetahuan, wawasan, penghayatan nilai-nilai kristiani dan keterampilam para Fungsionaris Pastoral dalam kelompok-kelompok strategis (anak-anak, kelompok Orang Muda Katolik dan para pasutri muda).

Ketiga, menjadikan KUB sebagai suatu organisme yang hidup dan sebagai wadah perjuangan persaudaraan yang memampukan umat (terutama awam Katolik) menjadi anggota gereja yang militan dan peduli serta terlibat dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat?

Keempat, memupus sikap dikotomis dalam berbagai kerasulan tata dunia agar karya kerasulan kita semakin membumi dengan semakin berwujud kesaksian iman ad extra yang semakin terbuka, berjejaring, lintas sekat, yang semakin kondusif dengan berbagai uluran kerja sama yang semakin kreatif dan dinamis?

Kelima, menata secara profesional semua sumber daya dan aset pastoral untuk mendukung karya pastoral kita?

Direktur Pusat Pastoral Keuskypan Agung Ende RD Alex Tabe (kanan)
Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Agung Ende RD Alex Tabe (kanan)

Dengan mengacu pada pertanyaan-pertanyaan reflektif ini, Uskup Sensi menetapkan tema Muspas VII: Domine ut Videam – Manete in Me (Tuhan, semoga aku dapat melihat – Tinggallah di dalam Aku). Seruan Domine ut Videam, kata Uskup Sensi, adalah seruan agar Tuhan mencelik mata budi dan mata nurani umat Katolik “agar sanggup mencermati lebih teliti dan untuk berbicara lebih jujur, lugas, berani dan transparan tentang apa yang kita cermati. Hasil evaluasi yang baik, valid, bermutu, hanya dapat dicapai lewat proses yang terbuka, jujur, dan transparan berbasis data”.

Sedangkan seruan Manete in Me adalah ajakan dan panggilan “untuk setia tinggal bersama dengan Dia (Allah), setia mendengarkan Dia, dan setia mengikuti serta melaksanakan kehendak-Nya. Terkadang kita kurang setia dan tekun pada komitmen awal atau bahkan juga sering mengingkari janji-janji dan tekad kita”.

Tobat dan Muspas VI

Uskup Sensi mengaitkan evaluasi terhadap hasil Muspas VI dengan refleksi tobat pada masa Prapaskah tahun ini.

Pertama, seruan Domine ut Videam adalah sebuah pernyataan iman untuk “mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah, bersandar pada-Nya, dan mengakui-Nya sebagai penopang dan pemandu jalan hidup kita”.

Konferensi pers menjelang Muspas VI di Kantor Pusat Pastoral Keuskupan Agung Ende.
Konferensi pers menjelang Muspas VI di Kantor Pusat Pastoral Keuskupan Agung Ende.

“Sebagai seorang yang beriman kepada Allah kiranya dalam setiap profesi dan status kita, kita selalu berlaku adil dan mau menginjili struktur masyarakat dan tatanan budaya, sistem ekonomi dan politiknya, dan bersedia melayani kemanusiaan secara total, terutama pelayanan terhadap kaum kecil dan kaum miskin yang sering terpinggirkan”. Sebab “iman yang tidak disertai perbuatan, iman itu pada hakikatnya adalah mati’ (Yakobus: 2:17).

Kedua, tinggal bersama Allah adalah perwujudan cinta dan panggilan Allah kepada manusia untuk ikut serta dalam kebahagiaan yang merupakan cita-cita-Nya sejak semula tatkala menciptakan segala sesuatu dan melihat bahwa semuanya baik adanya. Manusia diciptakan Allah dalam kesatuan jiwa dan badan.

“Pastoral tata dunia dan seluruh urgensi pengembangannya harus terarah kepada cita-cita hidup manusia yang sehat dan berkecukupan, manusia yang tahu menghargai dan menghormati tubuh sebagai tanda perjumpaan dengan sesama dan dengan Allah, manusia yang memiliki perilaku yang benar, adil, jujur, manusiawi dan penuh kasih, yang tetap menjaga, memelihara dan membangun lingkungan hidup yang ramah, serta manusia yang bertanggung jawab atas keutuhan biologis yang diciptakan secitra dengan Allah”.

Ketiga, perwujudan komunio yang berdaya membebaskan dan memberdayakan sebagai cita-cita Muspas. Cita-cita luhur manusia untuk mencapai kebahagiaan dapat mewujud bukan saja karena perjuangan sendiri tetapi juga dalam ada bersama dengan sesama yang lain (Gaudium et Spes No. 1).

“Dalam konteks kita di keuskupan ini, cita-cita pastoral pembebasan dan pemberdayaan ini terjadi dalam KUB-KUB, tempat setiap pribadi manusia menjadi fokus dan subjek pastoral. Roh solidaritas dan subsidiaritas hidup di sana”.

“Di dalam KUB-KUB sebagai sebuah organisme dan komunitas perjuangan merasakan: …duka dan derita yang berasal dari hati yang puas diri namun tamak, yang mengejar kenikmatan secara menggebu-gebu dan tidak teratur, dan nurani yang tumpul yang menyebabkan tidak ada lagi ruang untuk orang lain dan tiada tempat untuk orang miskin (Evangelii Gaudium No. 2).

Keempat, gereja sebagai umat Allah yang sedang berziarah di mana di dalamnya imam dan awam sama-sama terlibat dalam tanggung jawab membangun persekutuan.

“Semuanya memiliki martabat yang sama dari baptisan yang sama (Lumen Gentium No. 32) dan masing-masing dipanggil untuk mengemban satu tugas khusus yang meskipun dapat berbeda namun saling melengkapi satu sama lain (bdk LG No. 9a, 7c).”

Uskup melanjutkan: “Kepemimpinan dalam Gereja dipromosikan pertama-tama bukan karena faktor susutnya jumlah calon imam, tetapi lantaran martabat sakramen permandian yang mengkondisikan seseorang untuk terlibat dalam tri-tugas Yesus yaitu sebagai imam yang menghantar sesama kepada kekudusan lewat pola hidup yang selalu berkenan kepada Allah dan selalu berada dalam persekutuan dengan Allah; sebagai nabi yang mengajarkan nilai-nilai Kerajaan Allah seperti persaudaraan, pelayanan dan kesaksian; dan sebagai raja yang membimbing, mempersatukan sesama umat menjadi satu kawanan dengan satu gembala yakni Yesus Kristus sendiri”.

Peserta Muspas VI.
Peserta Muspas VI.

Namun Uskup Sensi mendorong Fungsionaris Pastoral dalam Gereja untuk bekerja “tanpa kecenderungan untuk menyelipkan gensi dan keuntungan pribadi. Ciri-ciri kepemimpinan Yesus yang menyelamatkan, membebaskan, dan memberdayakan, sepantasnya menjadi model kepemimpinan dalam Gereja, yang pada gilirannya akan berdaya guna bagi pertumbuhan dan perkembangan Gereja yan berdampak pada perubahan dalam masyarakat”.

Masa tobat ini, kata Uskup kelahiran Ende, Flores tengah ini, merupakan masa rahmat. “Pertobatan memang adalah rahmat ilahi untuk pemurnian jiwa dan merupakan salah satu bentuk pangilan kristiani untuk menuju kepada kekudusan”.

Maka demi keberhasilan Muspas, gunakan masa toba ini:

Pertama, merenung dan berefleksi tentang keberadaan kita di dalam KUB, bahwa KUB selain sebagai suatu organisme dan komunitas perjuangan, juga merupakan suatu komunitas metanoia.

“Dengan semangat metanoia, komunitas kita menjadi komunitas transformatif, yang akan membawa perubahan ke arah hidup baru yang berkelimpahan dengan menghidupi dan menghayati Injil, bermental mandiri, berjuang dalam semangat solider dan berikhtiar dalam semangat misioner”.

Kedua, kiata melihat peran keimaman, kenabian, dan kegembalaan kita dalam menata karya pastoral Keuskupan Agung Ende yang digagas bersama dalam Muspas demi Muspas.

“Mari kita dengan hati yang jujur dan pikiran yang jernih, mengevaluasi mutu keterlibatan kita. Bila ada banyak kelalaian yang dibuat, mari kita bertobat”.

Ketiga, mengisi hari-hari pantang dan puasa dengan doa dan amal kasih secara khusus berdoa untuk keberhasilan Muspas VII di Mbay.*

Ende, 25 Februari 2015

2 pemikiran pada “Refleksi dan Tobat Menjelang Muspas VII

  1. Ping-balik: Memperbarui Cara Menggereja | Flores Inside

  2. Ping-balik: Uskup Agung Ende Canangkan Muspas VII | Flores Inside

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s