Puskopdit Flores Mandiri Tekankan Tata Kelola

Oleh Frans Obon

FX Juniono Raharjo
FX Juniono Raharjo

ENDE – Pertumbuhan kekayaan (aset), anggota, modal baik saham maupun non saham serta pinjaman yang makin meningkat pada 45 koperasi kredit primer telah mendorong Puskopdit Flores Mandiri untuk kembali menekankan pentingnya tata kelola koperasi yang profesional dan perlunya kontrol internal yang teratur dan terukur sambil memperhatikan perkembangan lingkungan bisnis keuangan di luar gerakan koperasi kredit.

Manajer Puskopdit Flores Mandiri, Mikhael Hongkoda Jawa dalam laporan panitia Rapat Anggota Tahunan, Jumat, 27 Februari 2015 mengatakan, pertumbuhan koperasi kredit yang terus meningkat dan perkembangan lingkungan bisnis keuangan di luar gerakan koperasi kredit telah mendorong koperasi kredit “terus melakukan penguatan, melakukan konsolidasi, dan membenahi tata kelola sehingga koperasi kredit bisa berdiri sejajar dengan lembaga keuangan yang lainnya”.

Komitmen untuk terus membenahi tata kelola koperasi kredit itu tercermin di dalam tema Rapat Anggota Tahunan ke-XVI Puskopdit Flores Mandiri: “Membangun Komitmen Aksi, Membedah Tata Kelola Koperasi Kredit”. Dalam RAT dua hari, Jumat dan Sabtu, peserta RAT yang merupakan utusan dari 45 koperasi kredit primer di bawah Puskopdit Flores Mandiri membahas berbagai langkah ke depan untuk makin memantapkan koperasi kredit sebagai lembaga keuangan yang terpercaya dan menjamin kesejahteraan anggota-anggotanya.

Ketua Puskopdit Flores Mandiri Eduardus Sugi Watu dalam sambutannya juga menekankan tata kelola koperasi kredit. Menurut Eduardus Sugi Watu, kemajuan yang dicapai gerakan koperasi kredit selama ini tidak boleh membuat pengurus, pengawas dan manajemen serta anggota kopdit terbuai dan terlena.

Tetapi kemajuan itu sebaliknya “memacu kita untuk lebih baik dan berkembang lagi, membuat kita mawas diri dan tetap waspada dengan berbagai tantangan dan hambatan baik dari luar gerakan seperti persaingan dengan lembaga keuangan lain maupun intern gerakan seperti kelalaian pinjaman dan kesalahan pengelolaan manajemen usaha”.

Mikhael H Jawa (kanan) dan Kepala Dinas Koperasi Ende Anna Any Labina dan Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Ngada Anastasia Moi
Mikhael H Jawa (kanan) dan Kepala Dinas Koperasi Ende Anna Any Labina dan Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Ngada Anastasia Moi

Langkah ini menjadi penting, kata Edu, karena total anggota 45 koperasi kredit di bawah Puskopdit Flores Mandiri pada Tahun Buku 2014 sebanyak 117.153 orang atau bertambah 12.215 orang dengan sebaran 28.038 orang dari 28 koperasi kredit di Ende, 61.687 orang pada 16 koperasi kredit di Kabupaten Ngada dan 27.430 orang pada 8 koperasi kredit di Nagekeo.

Sementara aset keseluruhan Rp880.387.000 atau bertambah Rp162.948.871.000 dengan rincian Rp148.663.716.00 di Kabupaten Ende, Rp576.878.708.000 di Kabupaten Ngada, dan Rp154.845.409.000 di Kabupaten Nagekeo. Sementara pinjaman yang beredar sebesar Rp558.203.809.000.

Dikatakan, menghadapi berbagai tantangan dan persaingan yang semakin besar karena perubahan teknologi dan lingkungan, koperasi kredit membutuhkan sumber daya manusia fungsionaris yang memiliki kompetensi dan prima dalam memberikan pelayanan.

Eduardus Sugi Watu mengingatkan lagi agar gerakan koperasi kredit tidak melupakan tiga pilar prinsip dasar koperasi kredit yakni pendidikan, keswadayaan, dan solidaritas, yang perlu dikembangkan melalui inovasi berbasis nilai.

Gerakan Bersama

Sekretaris Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) Jakarta FX Joniono Raharjo dalam sambutannya mengatakan, koperasi kredit harus menjadi gerakan bersama seluruh koperasi kredit dengan satu brand image, satu sistem dan satu pengaturan.

“Kita ingin menjadi gerakan credit union yang terintegrasi, sebagaimana telah dilakukan koperasi kredit di Korea Selatan melalui NACUFOK. Tujuannya adalah agar koperasi kredit berjalan dengan visi dan misi yang sama, berjalan dalam sistem yang sama, dengan ketentuan yang sama untuk hampir semua kebijakan dan semua itu patuh dilakukan oleh semua kopdit,” katanya.

Hal ini akan menghindari “perebutan wilayah maupun anggota, namun lebih memperkuat solidaritas antar anggota”. Dikatakan, Induk Koperasi Kredit sedang mengupayakan langkah-langkah integrasi karena tidak mungkin dilakukan secara seketika.

“Infrastruktur yang paling berperan menyatukan gerakan adalah sistem informasi dan teknologi dan peraturan. Namun kedua hal itu masih terfragmentasi sekarang ini,” kata Raharjo.

“Daperma akan menjadi program yang akan mulai dipaksakan untuk diikuti semua koperasi kredit di lingkungan gerakan koperasi kredit Indonesia sebagai salah satu wajib”.

Standar yang sama

Salah satu persyaratakan agar menjadi gerakan bersama adalah adanya standar yang sama dan tidak tergantung pada besar atau kecilnya kekayaan.

“Kita harus memperkuat identitas credit union dengan memperkuat partisipasi anggota , memperkuat sustainability dan memperkuat modal lembaga minimal 10 persen dari total aset, dan memperkuat sistem informasi dan teknologi yang tersentral agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal kepada anggota di seluruh Indonesia dan membentuk legal framework”.

Paskalis X Hurint (kiri) dan tamu undangan lainnya.
Paskalis X Hurint (kiri) dan tamu undangan lainnya.

Peran Puskopdit

Raharjo mengatakan, Puskopdit sebagai lembaga sekunder harus dapat memberikan pendidikan dan pelatihan kepada koperasi kredit primer. Peran Puskopdit ke depan, adalah supervisi dan pelatihan.

“Ke depan saya yakin peran silang pinjam (inter lending) Puskopdit tidak akan jalan karena primer-primer telah mampu mengelola sendiri dananya sehingga Puskopdit harus fokus ke pembinaan anggota meliputi supervisi, pendidikan, value chain. Oleh karena itu iuran solidaritas menjadi penting untuk mensuport kegiatan Puskopdit selain fee yang diperoleh dari usahanya,” kata Raharjo.

Good CU Governance

Raharjo menekankan pentingnya tata kelola koperasi yang baik. Menurut Raharjo, sistem terintegrasi itu tidak ada gunanya jika tata kelola koperasi tidak baik.

“Kita tidak dapat melaksanakan federated system tanpa governance framework yang kuat”.

Ada tiga aspek penting dari governance Credit Union yaitu external governance meliputi transparansi, kepatuhan dan tanggung jawab publik serta internal governance meliputi struktur kepengurusan, keberlanjutan, keseimbangan, dan akuntabilitas.

Ada dua aspek yang kurang mendapat perhatian dalam governance ini, kata Raharjo, yakni aspek kepatuhan dan aspek governance individual. “Kepatuhan terhadap undang-undang dan peraturan pemerintah dan kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan yang kita buat secara ke dalam”.

Rapat anggota tahunan Puskopdit Flores Mandiri ini dibuka Bupati Ende Marsel YW Petu. Bupati Ende, Bupati Ngada, dan Bupati Nagekeo masing-masing memberikan sambutan. Acara pembukaan RAT dimeriahkan Sanggar Seni SMPK St Ursula Ende.

Flores Pos, 28 Februari 2015, disertai beberapa tambahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s