Koperasi Kredit, Kemiskinan dan Pemberdayaan Ekonomi

Oleh FRANS OBON

Bupati Marsel Petu (kiri) dan Frans Wogha
Bupati Marsel Petu (kiri) dan Frans Wogha

ENDE – Bupati Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Nagekeo di Flores tengah menggugah dan menggugat gerakan koperasi kredit yang makin berkembang dan bertumbuh pesat saat ini mengenai perannya dalam mendorong perkembangan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan memerangi kemiskinan di Flores.

Dalam Rapat Anggota Tahunan pada Tahun Buku 2014, 27 Februari 2015 di Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Flores Mandiri, Bupati Ende Marsel Petu, Bupati Ngada Marianus Sae dan Bupati Nagekeo Elias Djo dalam pidato mereka memuji perkembangan dan pertumbuhan koperasi kredit baik dalam jumlah kekayaan maupun anggota, namun para bupati ini mengingatkan pengurus, pengawas, dan manajemen koperasi kredit agar membantu memerangi kemiskinan masyarakat Flores dan mendorong semangat kewirausahaan para anggota koperasi kredit.

Marsel Petu yang didaulat membuka Rapat Anggota Tahunan Tahun Buku 2014 mengatakan, koperasi kredit telah bertumbuh dan berkembang secara signifikan, namun indikator utama dalam menilai keberhasilan koperasi kredit adalah “sejauh mana perubahan tingkat kehidupan anggota sebelum dan sesudah menjadi anggota koperasi”.

“Pusat Koperasi Kredit Flores Mandiri sebagai koperasi sekunder yang mewadahi koperasi kredit primer di wilayah Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Nagekeo telah tumbuh dan berkembang secara signifikan sejalan dengan perkembangan ekonomi yang semakin baik dan kompetitif di era globalisasi ini,” kata Marsel Petu.

Data Tahun Buku 2014, terdapat 45 koperasi kredit primer yang menjadi anggota Puskopdit Flores Mandiri dengan anggota individual 117.153 orang atau bertambah 12.215 orang dengan sebaran 28.038 orang dari 28 koperasi kredit di Kabupaten Ende, 61.687 orang pada 16 koperasi kredit di Kabupaten Ngada dan 27.430 orang pada 8 koperasi kredit di Nagekeo. Total kekayaan Rp880.387.000 atau bertambah Rp162.948.871.000 dengan rincian Rp148.663.716.00 di Kabupaten Ende, Rp576.878.708.000 di Kabupaten Ngada, dan Rp154.845.409.000 di Kabupaten Nagekeo. Pinjaman (kredit) yang beredar di tangan anggota koperasi kredit sebesar Rp558.203.809.000.

Melihat perkembangan dan kemajuan ini, Bupati Marsel Petu menyampaikan proficiat Puskopdit Flores Mandiri atas andil yang tak ternilai dalam pemberdayaan ekonomi rakyat.

Ekonomi Anggota

Bupati Marsel Petu mengajukan sebuah pertanyaan untuk koperasi kredit mengenai sisi lain dari indikator keberhasilannya, yang tidak lain adalah kesejahteraan dan perbaikan ekonomi anggota koperasi kredit.

Sepanjang yang saya ikuti, setiap kali Rapat Anggota Tahunan baik pada koperasi kredit primer maupun Puskopdit Flores Mandiri sebagai lembaga sekunder, pemerintah selalu mengajukan pertanyaan yang sama: sejauh mana koperasi kredit memajukan ekonomi anggota dan memerangi kemiskinan masyarakat.

“Indikator keberhasilan sebuah koperasi tentu saja dilihat dari sejauh mana perubahan tingkat kehidupan anggota sesudah dan sebelum berkoperasi. Koperasi harus mampu menstimulasi bertumbuhnya minat dan motivasi para anggota untuk menngembangkan ekonomi riil yang sesuai dengan kondisi dan kapasitas masing-masing (anggota),” kata Marsel Petu.

“Ini artinya bahwa koperasi kredit tidak hanya membangun strategi dan rencana kerja untuk membesarkan lembaganya saja tetapi harus lebih berfokus pada aktivitas nyata membangun ekonomi anggota berdasarkan karakteristik potensi ekonomi masing-masing”.

Bupati Marsel Petu meminta komitmen gerakan koperasi kredit terutama para pengurus, pengawas dan manajemen koperasi kredit agar “membangun kapasitas anggota melalui penumbuhan jiwa dan semangat kewirausahaan secara berkelanjutan dengan melaksanakan kegiatan pendidikan dan pelatihan keterampilan anggota yang berkaitan langsung dengan usaha ekonomi produktif yang berorientasi pasar”.

“Puskopdit Flores Mandiri perlu mengorganisasi dan mengakomodasi koperasi kredit primer di Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Nagekeo dalam satu semangat perjuangan memerangi kemiskinan dan pengangguran serta mendukung pertumbuhan ekonomi di tiga kabupaten guna meningkatkan kesejahteraan rakyat,” kata Marsel Petu.

(Dari kiri-kanan) Puspo Cahyo Nugroho, Joko Setiono, Suitbertus Aja, dan Eduardus Sugi Watu.
(Dari kiri-kanan) Puspo Cahyo Nugroho, Joko Setiono, Suitbertus Aja, dan Eduardus Sugi Watu.

Bupati Ngada Marianus Sae, yang pidatonya dibacakan Frans Wogha, staf ahli Bupati bidang Sumber Daya Manusia, melihat koperasi kredit sebagai “lembaga ekonomi kerakyatan yang dapat mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan mampu bertahan pada masa krisis”.

Bupati Marianus Sae juga mengajukan pertanyaan yang sama: “Bagaimana menumbuhkan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi anggota dan masyarakat pada umumnya dengan spirit kekeluargaan di era pasar bebas ini?”

Meski demikian, Bupati Marianus Sae memandang Puskopdit Flores Mandiri sebagai wadah usaha untuk menggerakkan dan memberdayakan ekonomi rakyat.

“Flores Mandiri boleh berbangga bahwa spirit kekeluargaanlah yang menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan dan membesarkan koperasi ini,” kata Bupati Marianus Sae.

”Kemajuan koperasi harus berlandaskan kemakmuran dan kesejahteraan anggota tidak saja pada besarnya dana dan aset lainnya, tetapi anggota harus menjadi aset utama koperasi, serta menjadi fokus dan lokus berbagai kegiatan pemberdayaan yang dilakukan koperasi,” katanya.

Bupati Nagekeo Elias Djo, yang pidatonya dibacakan Suitbertus Aja, Kepala Dinas Koperasi dan Perdagangan Kabupaten Nagekeo, memuji perkembangan beberapa koperasi kredit di Kabupaten Nagekeo yang asetnya sudah di atas seratus miliar lebih.

“Sepanjang catatan yang kami miliki, beberapa koperasi kredit besar (di Nagekeo) telah memiliki aset di atas seratus miliar rupiah. Masih ada kelompok-kelompok usaha kecil simpan pinjam yang jika dibina dengan baik akan menjadi koperasi kredit,” kata Bupati Elias Djo.

Bupati Elias Djo memuji peran Puskopdit Flores Mandiri yang melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap koperasi kredit di Kabupaten Nagekeo.

“Saya patut mengucapkan terima kasih atas kiprah Puskopdit Flores Mandiri atas pembinaan intensif yang terus menerus terhadap anggotanya sehingga koperasi kredit di wilayah Nagekeo terus bertumbuh dan berkembang dengan baik serta menjadi sandaran hidup sebagian masyarakat di daerah kami,” kata Bupati Elias Djo.

Koperasi kredit, kata Bupati Elias Djo, telah secara signifikan memberikan kontribusi nyata terhadap kesejahteraan masyarakat Flores. Oleh karena itu Bupati Elias Djo mendorong para penggiat koperasi kredit agar “semakin memperkokoh tekad dan kerja keras dalam menyikapi perubahan yang senantiasa terjadi di sekitar kita”.

Jatuh Bangun

Pertanyaan “sejauh mana koperasi kredit sudah mensejahterakan ekonomi anggota koperasi” sudah tentu pertanyaan yang wajar, mengingat sejarah gerakan koperasi kredit di Flores dan Nusa Tenggara Timur sudah berlangsung hampir 50 tahun, yang mulai diperkenalkan di Flores tahun 1970-an.

Namun jujur diakui, kekuasaan Orde Baru bukanlah tanah subur nan elok bagi perkembangan koperasi kredit. Orde Baru “mengutamakan” koperasi unit desa (KUD) yang juga berbasis pedesaan. Datangnya Reformasi di Indonesia tidak serta merta membuat koperasi kredit bertumbuh denga lebih pesat. Jatuh dan bangun adalah bagian dari perjalanan koperasi kredit yang sebagian besar disebabkan minimnya kompetensi pengurus dan salah kelola. Dengan demikian, membangun kembali kepercayaan terhadap gerakan koperasi kredit bukanlah perkara mudah.

Dalam kasus Flores dan NTT, pada tahun 2000 pembenahan di kalangan gerakan koperasi kredit mulai dilakukan secara serius. Berbagai macam gerakan dan inovasi dibuat, studi banding, dan lokakarya nasional dan lain-lain. Oleh karena itu tahun 2000 ke atas grafik pertumbuhan koperasi kredit dan juga boleh dibilang musim semi bangkitnya gerakan ini sudah mulai terlihat. Dengan demikian dalam 15 tahun terakhir, pertumbuhan koperasi kredit di Flores dan NTT mencengangkan. Koperasi kredit mendapatkan momentumnya yang tepat dan kembali dipercaya oleh masyarakat.

Pengalaman selalu merupakan guru yang terbaik. Mandeknya koperasi kredit bukan saja disebabkan oleh iklim politik, melainkan oleh tata kelola yang tidak profesional dari pengurus-pengurus koperasi kredit. Oleh karena itu selain meningkatkan jumlah anggota yang akan mendongkrak pertumbuhan aset, koperasi kredit memisahkan tugas dan wewenang antara pengurus dan pengawas dan manajemen. Koperasi kredit sudah mulai berani membayar tenaga-tenaga manajer yang profesional untuk mengelola koperasi kredit sehari-hari. Sedangkan pengurus hanya berfokus pada kebijakan-kebijakan umum. Koperasi kredit mulai menerapkan informasi dan teknologi. Pelatihan-pelatihan manajemen, keuangan, dan mikro kredit mulai dilakukan secara lebih konsisten.

Tampaknya memang pengalaman pahit yang dialami koperasi kredit dalam pengelolaan keuangan membuat seluruh pengurus, pengawas dan manajemen tidak mau jatuh dalam pengalaman yang sama. Pertumbuhan aset dan jumlah anggota yang makin besar bukan saja menggembirakan, tetapi juga membawa “kekhawatiran” dalam gerakan koperasi kredit agar pengurus, pengawas, dan manajemen mengelola dengan hati-hati seluruh harta kekayaan anggota yang sebagian besar adalah milik masyarakat sederhana.

Oleh karena itu bisalah dimengerti bahwa setiap kali Rapat Anggota Tahunan, pidato-pidato para pengurus selalu mengingatkan manajemen agar sungguh-sungguh memperhatikan tata kelola yang baik, transparan dan akuntabel, serta menekan angka kredit macet di tangan anggota. Fokus saat ini masih pada pembenahan internal, menerapkan tata kelola yang baik dengan menyiapkan tenaga-tenaga profesional melalui perekrutan yang baik, penggunaan informasi dan teknologi yang bermutu, pelatihan-pelatihan manajemen, studi banding dan lokakarya. Semua usaha ini mau memantapkan dan memberi fondasi yang baik bagi koperasi kredit.

Satu hal yang menggembirakan bahwa masyarakat yang menjadi anggota koperasi telah memiliki akses terhadap lembaga keuangan untuk membiayai berbagai macam kegiatan ekonominya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya seperti perumahan, pendidikan, dan sebagian usaha ekonomi produktif. Kalau pun tidak, paling kurang anggota koperasi kredit telah menyisihkan pendapatan mereka untuk ditabung, suatu masalah serius dalam masyarakat tradisional yang tidak bankable minded. Namun janganlah lupa pula bahwa pengembangan ekonomi produktif terkait erat dengan budaya. Oleh karena itu tugas kita bersama untuk menumbuhkan semangat wirausaha ini agar kita keluar dari budaya menghabiskan dan beralih kepada budaya menabung dan menggunakannya kembali untuk tujuan-tujuan produktif.

Ende, 11 Maret 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s