Memperbarui Cara Menggereja

Oleh FRANS OBON

Romo Hengky Sareng Pr (Kanan).
Romo Hengky Sareng Pr (Kanan) pada pertemuan Muspas VI.

Kita baru saja selesai merayakan paskah, pesta kebangkitan Tuhan Yesus yang mengalahkan dosa dan kematian. Dengan demikian paskah adalah pesta kemenangan atas maut dan dosa. Kebangkitan Yesus Tuhan adalah inti dari iman Kristen sebab menurut Injil, jika Kristus tidak bangkit, maka sia-sialah iman kita.

Sebelum kita tiba pada perayaan paskah, 40 hari lamanya Gereja memberikan kita kesempatan untuk berpuasa, bertapa, bertobat, bersedekah, dan berdoa. Kita pun diperkaya oleh berbagai refleksi,

renungan, dan kotbah baik di gereja-gereja maupun refleksi pribadi
kita masing-masing. Inti dari renungan dan refleksi itu adalah pertobatan dan pembaruan baik itu pertobatan dan pembaruan pribadi maupun pertobatan dan pembaruan sosial. Bacaan-bacaan Injil sejak Rabu Abu merefleksikan dua hal ini bahwa kemenangan kita atas dosa dan maut melalui kebangkitan Kristus harus disertai dengan pertobatan dan pembaruan diri yang terus menerus.

Dengan demikian pertobatan dan pembaruan adalah dua unsur konstitutif dan hakiki dari agama. Kedua unsur ini, pertobatan dan pembaruan, memungkinkan agama menjawabi kebutuhan manusia pada setiap zaman. Pertobatan memungkinkan individu-individu dalam masyarakat menyadari kembali kelemahan-kelemahan pribadi dan situasi sosial mereka dan proses kesadaran individu dan sosial itu pada akhirnya memungkinkan adanya pembaruan di dalam kehidupan masyarakat. Agama, dengan demikian, memberikan kontribusi pada proses pembaruan individu dan pembaruan sosial kemasyarakatan, sehingga kehidupan bersama kita diwarnai oleh kasih Allah.

Peserta Muspas VI memberikan pendapat dalam pleno hasil diskusi kelompok.
Peserta Muspas VI memberikan pendapat dalam pleno hasil diskusi kelompok.

Barangkali dalam konteks seperti inilah kita masuk ke dalam ajakan Uskup Agung Ende untuk merefleksikan kehidupan komunitas umat basis kita terutama dalam kaitannya dengan Musyawarah Pastoral VII yang akan berlangsung di Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo, September mendatang. Surat Gembala Prapaskah Uskup Agung Ende mengajak umat Katolik agar kesempatan masa tobat tahun ini digunakan untuk merefleksikan kehidupan menggereja di Flores. Refleksi itu bersisi ganda yakni mengajak umat untuk tinggal di dalam Tuhan (Manete in Me) dan setia mendengarkan Allah, setia mengikuti dan melaksanakan kehendak-Nya. Sisi kedua adalah seruan Domine ut videam, seruan agar kita bisa melihat dengan budi dan mata hati kita kehendak Allah di dalam kehidupan masyarakat kita, yang dalam bahasa Uskup Vincent Sensi Potokota adalah “agar sanggup mencermati lebih teliti dan untuk berbicara lebih jujur, lugas, berani dan transparan tentang apa yang kita cermati. Hasil evaluasi yang baik, valid, bermutu, hanya dapat dicapai lewat proses yang terbuka, jujur, dan transparan berbasis data”.

Oleh karena itu Paskah kali ini adalah juga kesempatan untuk membarui bukan saja pribadi kita tetapi juga membarui cara kita menggereja, membaruai komunitas umat basis kita sehingga sungguh menjadi komunitas yang membebaskan. Paskah adalah sebuah passing over, langkah untuk terus beralih melintasi batas suku dan agama untuk membarui kehidupan bersama kita. Dengan demikian kehadiran gereja makin dirasakan dan kesaksiannya makin menggigit dan menyengat.

Bentara, Flores Pos, 8 April 2015

Satu pemikiran pada “Memperbarui Cara Menggereja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s