Uskup Ruteng Minta Pastor Netral dalam Pemilukada

Oleh FRANS OBON

Uskup Hubert Leteng (Dok)
Uskup Hubert Leteng (Dok)
RUTENG – Pada acara pembukaan Sinode III Sesi V Keuskupan Ruteng pada 13 April 2015, Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng meminta para pastor, biarawan dan biarawati serta kaum klerus netral dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah baik di Kabupaten Manggarai maupun di Kabupaten Manggarai Barat, yang pada tahun ini akan memilih Bupati dan Wakil Bupati. Netralitas ini, menurut Uskup Hubert untuk menghindari perpecahan di kalangan umat.

Wilayah Keuskupan Ruteng meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur. Manggarai dan Manggarai Barat akan menggelar Pemilukada serentak 9 Desember 2015, sedangkan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Timur telah dilaksanakan tahun 2014.

Laporan Harian Flores Pos, Sabtu, 18 April 2015 menyebutkan bahwa permintaan Uskup Hubert itu disampaikan dalam sesi pembukaan sinode di mana sekitar 300-an peserta sinode mendengar input atau masukan dari Uskup.

“Dua kabupaten ini (Manggarai dan Manggarai Barat), akan mengadakan suksesi. Dalam proses ini, Gereja berhadapan dengan situasi Pilkada yang sekarang sudah mulai ramai dan gencar di tengah masyarakat. Saya ajak kita harus netral,” kata Uskup Hubert.

Uskup Hubert mengatakan, para iman dan biarawan-biarawati yang berada di komunitas-komunitas religius, yang bekerja di paroki-paroki, dan yang bekerja di lembaga-lembaga tidak boleh terlibat secara langsung dan tidak langsung, aktif atau pasif dalam mengegolkan pasangan calon tertentu. Dari mulut para imam dan biarawan-biarawati, tidak boleh ada “pewartaan” atau kampanye terang-terangan atau terselubung lewat arahan dan sentilan-sentilan joke atau senggolan kata, lewat kotbah, sambutan, stiker atau media online seperti internet dan handphone, dan lain-lain.

Menurut Uskup Hubert, sudah banyak pesan singkat (short message service) ke pemimpin gereja lokal yang meminta gereja, terutama para imam dan biarawan-biarawati tidak boleh ikut menciptakan klik-klik sosial, permusuhan, dan perpecahan dalam masyarakat karena isu keterlibatan secara aktif dan pasif dalam proses Pemilukada.

Frans Domi, peserta Sinode mengatakan, jika pastor ikut bermain politik, maka sudah pasti menimbulkan perpecahan di tengah umat. Umat sudah mempunyai pilihannya sendiri.

“Kalau pastor berikan pencerahan, mungkin tidak ada masalah. Tetapi, jika pastor dukung pasangan tertentu, umat sudah pasti akan terpecah-pecah,” katanya.

Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng Romo Martin Chen Pr mengatakan, fokus bahasan dalam sinode kali ini adalah pastoral pewartaan dan pastoral liturgi dengan materi pokok evangelisasi yang menguduskan. Gereja yang berevangelisasi adalah gereja yang berliturgi.

“Evangelisasi yang menggembirakan menjadi keindahan dalam liturgi di tengah tuntutan untuk mewujudkan kebaikan dalam kehidupan harian. Pewartaan tidak saja mengarahkan orang pada perjumpaan dengan Kristus, tetapi juga menjadi kesaksian bagi orang lain,” katanya.

Tujuan sinode hendak mendapatkan reksa pastoral transformatif yang berbasis iman dan menjawabi situasi konkret umat dan dalam rangka mewujudkan gereja SMS: solid, mandiri, dan solider.

Empat sesi Sinode III sebelumnya membahas tentang perutusan gereja dalam bidang diakonia antara lain gereja dan kerasulan politik, kerasulan ekologi, kerasulan sosial ekonomi, kerasulan sosial pendidikan. Kemudian tentang komunitas basis gerejawi, paguyuban rohani, dan pastoral keluarga, kaum muda, dan anak-anak. Sesi ini khusus berbicara tentang pastoral pewartaan dan pastoral liturgi.*

Berita terkait:
Netral, Tapi Kritis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s