Gereja Harus Mencari yang Hilang

Romo Martin Chen
Romo Martin Chen

Oleh FRANS OBON

RUTENG — Rekoleksi dengan tema “Pelayanan pastoral yang murah hati dan menimba semangat kerahiman Allah”, membuka pertemuan pastoral post Natal Keuskupan Ruteng selama empat hari. Rekoleksi ini yang dibawakan Romo Emanuel Martasudjita, Ketua Fakultas Teologi Kepausan Wedabhakti dan Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta berlangsung di aula Efata Ruteng, Senin (4/1).

Imam Kelahiran Bantul tahun 1962 ini merefleksikan mengenai Allah yang murah hati, penuh belas kasih, dan penuh kasih setia kepada umat-Nya, yang seharusnya menjadi sumber bagi pelayanan Gereja. Romo Martasudjita mencoba mencari makna biblis dari Allah yang maharahim dan belas kasih ini untuk mengantar para peserta pertemuan agar menemukan segi-segi yang serupa dalam pelayanan pastoral Gereja Keuskupan Ruteng.

“Marilah seluruh hati, pikiran dan budi kita diarahkan pada hati dan semangat kerahiman Allah pada saat kita menentukan langkah-langkah ataupun program pastoral ke depan di keuskupan kita ini,” kata Romo Marto.

Refleksi mengenai Allah yang penuh belas kasih dan murah hati, menurut Romo Marto, sangat cocok dengan situasi masa kini di mana “dunia diliputi oleh aneka ragam tawaran dan bujukan konsumerisme, mentalitas mengejar kepuasan diri dan sikap tamak”.

“Inilah menurut saya perlunya kita menjumpai Tuhan Yesus Kristus dalam rekoleksi dan pertemuan pastoral ini, dengan menimba hati-Nya yang penuh kerahiman dan belas kasihan, terutama dalam perayaan liturgi, khususnya ekaristi atau devosi yang kita laksanakan,” katanya.

Allah yang murah hati dan penuh belas kasih ini, menurut Romo Marto, Allah yang tidak mau kehilangan satu pun, Allah yang selalu mencari, menerima dan merahabilitasi. Romo Marto mengambil teks Lukas 15 yang berisi tiga macam perumpamaan yakni perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:1-7), perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10) dan perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Tiga perumpamaan ini memperlihatkan sikap Allah yang tidak mau kehilangan satu dari umat-Nya.

“Setiap pribadi manusia berarti dan bernilai bagi Tuhan. Tidak seorang pun boleh hilang. Semua masuk dalam perhatian dan kasih sayang Tuhan. Inilah sikap dasar belas kasih dan kemurahan hati Allah. Allah tidak mau kehilangan satu pun karena setiap orang dan setiap umatnya berarti dan berharga bagi Allah,” katanya.

Hal ini tentu saja membawa konsekuensi bagi pelayanan pastoral Gereja yakni setiap orang yang dipercayakan pada pelayanan Gereja berharga dan bernilai. “Sikap murah hati adalah sikap yang tidak mau kehilangan satu pun dari orang-orang yang dipercayakan kepada kita,” tandasnya.

Ketiga perumpaan dalam Lukas 15 itu, menurut Romo Marto, adalah tindakan Allah yang mencari, menerima kembali dan merehabilitasi atau mengembalikan diri yang hilang kepada tata keadaan dan hubungan seperti sebelumnya. Tindakan Allah yang murah hati dan berbelas kasih ini merupakan tindakan yang aktif.

Oleh karena itu, menurut Romo Marto, arah pelayanan pastoral yang dijiwai kerahiman Allah berintikan pada kehendak Allah yang menginginkan agar setiap orang memperoleh keselamatan. Setiap pelayanan yang murah hati selalu merangkum tindakan aktif yakni sifatnya mencari dan bukan menunggu; menerima kembali umat yang bertobat, bukan menyingkirkannya atau menolaknya; dan mengembalikan martabat dan tata relasinya kembali seperti semula sebagai anak-anak Allah yang terkasih.

Gereja yang murah hati dan penuh belas kasih, kata Romo Marto, adalah Gereja yang mengasihi yang lemah, miskin dan tersingkir. Karena Allah mempunyai perhatian khusus kepada orang-orang yang membutuhkan. Sikap belas kasihan Allah kepada orang-orang kecil, lemah, miskin dan tersingkir sudah nyata sejak Perjanjian Lama.

“Memihak orang miskin merupakan kewajaran dari seluruh hidup dan misi Gereja yang berbelas kasih dan bermurah hati. Dalam keadaan wajar, kita akan melayani setiap orang dari segala tingkatan dan golongan seadil-adilnya dan sebaik mungkin. Akan tetapi apabila satu saat kita diharuskan untuk memilih antara yang kaya dan miskin, pelayanan yang murah hati tentu akan memilih yang miskin,” kata Romo Marto.

Peserta pertemuan pastoral post Natal Keuskupan Ruteng, Januari 2016.
Peserta pertemuan pastoral post Natal Keuskupan Ruteng, Januari 2016.

Pada bagian akhir dari renungannya, Romo Marto berbicara mengenai hukum dan aturan dalam konteks pelayanan yang murah hati. Menurut Romo Marto, tindakan yang menyimpang dari aturan atau hukum bukanlah tujuan dari tindakan murah hati. Yang paling pokok dari kemurahan hati adalah sikap dan tindakan yang memandang setiap orang berharga dan bernilai.

“Martabat dan nilai setiap manusia terletak pada panggilannya untuk bersatu dengan Allah yakni keselamatan itu sendiri. Apabila aturan atau hukum yang ada justru menghalangi jalan keselamatan manusia, maka tentu saja aturan itu harus dilampaui. Sebab mestinya segala aturan dan hukum membantu manusia untuk memperoleh keselamatannya,” katanya.

Dengan gagasan seperti ini, Romo Marto mengajak peserta untuk menilai kembali praktik pelayanan pastoral selama ini. “Kita perlu jernih bertanya apakah segala peraturan dan kesepakatan-kesepakatan di lingkup pastoral keuskupan dan paroki-paroki kita memang membantu orang-orang untuk lebih mudah memperoleh keselamatan hidup atau justru membelenggu atau merintangi mereka? Mungkin baik kita menguji satu per satu kesepakatan dan aneka aturan yang kita buat menurut terang semangat pelayanan yang murah hati ini,” kata Romo Marto.

Kesepakatan dan aturan, katanya, hanyalah bentuk luar dari pelayanan pastoral, sedangkan isinya adalah pelayanan pastoral “demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa”. Dalam semangat pelayanan pastoral yang murah hati dan penuh belas kasih seperti ini, Gereja akan selalu mencari yang hilang, menemukan, menerima dan merehabilitasinya dan menjadi gereja yang memihak dan mengasihi yang lemah, miskin dan tersingkir.

Gereja yang mencari, menemukan, menerima dan merehabilitasi yang hilang dan Gereja yang memihak dan mengasihi yang miskin dan lemah menjadi fokus dari refleksi pertemuan pastoral post Natal Keuskupan Ruteng selama empat hari itu. Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng Romo Martin Chen mengajukan pertanyaan reflektif sekaligus tuntutan perlunya pembaruan reksa pastoral Gereja agar mencerminkan semangat belas kasih ilahi.

“Pewartaan belas kasih ilahi menuntut pembaruan kehidupan Gereja pula. Bagaimana Gereja partikular Keuskupan Ruteng menjadi persekutuan kerahiman ilahi yang menjadi oase, mata air, sumber kehidupan dan kesegaran dalam kegersangan dan kekeringan pergulatan hidup manusia di bumi Nuca Lale dewasa ini?” kata Romo Martin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s