Membasuh Kaki-Kaki Telanjang

Oleh Frans Obon

ORANG-ORANG dari Kampung Nara harus pergi dua kali ke Gereja Stasi Wancang, Paroki Beanio, Kamis, 24 Maret 2016 meski cuaca cukup panas dan melewati jalan raya berbatu. Pada pagi hari, mereka pergi untuk melatih kor dan 12 orang di antaranya dilatih menjadi rasul untuk perayaan Kamis Putih.

Sebagian besar umat tidak kembali lagi ke Kampung Nara, yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari Stasi Wancang. Mereka menunggu di rumah-rumah sekitar Gereja karena mereka diminta hadir satu jam sebelum perayaan ekaristi Kamis Putih berlangsung. “Tidak boleh terlambat,” kata mereka.

Saya melihat kesibukan menjelang perayaan Kamis sore itu. Mereka takut terlambat bukan saja karena memang perayaan Kamis Putih menjadi tanggung jawab mereka, tetapi perayaan Kamis Putih kali ini memberi mereka nuansa dan suasana baru. Bangku-bangku di Gereja cukup tersedia. Sebagian diambil dari bangku Sekolah Dasar Katolik (SDK) Wancang dan sebagian lagi diambil dari Tambahan Ruang Kelas Golo Lao.

Umat yang memerankan rasul mengenakan pakaian adat, kain songke, baju putih dan destar di kepala. Tidak mengenakan sepatu tapi hanya memakai sandal. Mereka menyambut perayaan ini dengan gembira. Sebab inilah pengalaman pertama mereka memerankan sebagai 12 rasul dalam perayaan Kamis Putih. Barangkali juga menjadi momen yang tidak pernah mereka lupakan sepanjang hidup mereka bahwa pertama kalinya kaki mereka dibasuh oleh pastor dalam perayaan ekaristi Kamis Putih.

ilustrasi
ilustrasi

Fransiskus Nembot, mantan Ketua Komunitas Basis Gerejawi Kampung Nara, adalah orang pertama yang kakinya dibasuh oleh Romo Martin Wilian Pr pada malam itu. Berturut-turut kaki Lasarus Java, Thomas Basa, Frans Jelalut, Hilarius Sapa, Kletus Kadi, Dominikus Jevo, Gaspar Obo, Vitalis Mus, Matias Jemon, Alex Saman dan Yohanes Juru.

Lagu-lagu yang dipilih merupakan paduan antara lagu berbahasa Indonesia dan bahasa daerah Manggarai. Jumlah anggota kor tidak terlalu banyak tetapi memadai untuk mengantar umat dari Kampung Nara, Kampung Wancang, Timbang, Gumbang dan Bea Denger serta hampir 90-an mahasiswa dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) St Paulus Ruteng yang sudah datang sehari sebelum perayaan berdoa dengan khyusuk.

Romo Martin Wilian Pr dalam kotbahnya mengatakan, upacara pembasuhan kaki dan perjamuan terakhir memiliki keterkaitan yang erat. Dalam perjamuan terakhir Yesus meletakkan dasar-dasar bagi perayaan ekaristi yang menjadi puncak kehidupan orang Kristen. Sementara itu melalui pembasuhan kaki Yesus mau mengajarkan kepada umat Kristen untuk saling melayani.

“Yesus mau menunjukkan bahwa kehidupan rohani kita harus diwujudnyatakan dalam tindakan nyata dan berdampak sosial. Apapun yang dibuat oleh Yesus adalah ungkapan kedekatan rohaninya dengan Bapa-Nya. Yesus mau menunjukkan bahwa kehidupan rohani jauh lebih penting daripada kuasa dan jabatan,” kata Romo Martin.

Ekaristi, menurut Romo Martin, harus menjadi sumber kegembiraan dan puncak kehidupan umat beriman. “Namun apa buah nyata dari perayaan ekaristi yang kita ikuti? Perayaan ekaristi tidak punya makna bila tidak diwujudnyatakan dalam kehidupan kita. Ekaristi harus membangkitkan semangat untuk menolong orang lain dan peduli dengan orang miskin. Karena itu membantu dan menolong sesama adalah ungkapan nyata dari kedekatan kita dengan Tuhan. Dengan demikian ekaristi membawa kita lebih dekat dengan Tuhan,” katanya.

Perayaan malam itu berjalan lancar. Umat kembali ke kampung-kampung mereka di bawah rembulan yang mulai menampakkan dirinya di balik bukit. Keesokan hari mereka akan datang lagi ke tempat itu untuk merayakan Jumat Agung pada Pukul 15.00.

Ketua Stasi Wancang Benyamin Madur menyampaikan terima kasih kepada umat dari sembilan komunitas basis gerejawi atas keterlibatan mereka dalam perayaan tersebut terutama kepada KBG Nara. Perayaan berlangsung aman dan lancar. Guru Benyamin membacakan uang-uang yang terkumpul selama perayaan dan sumbangan dari pihak lain. “Perayaan kita malam ini berjalan lancar karena kerja keras kita semua”. Dia mengacungkan jempol kepada anggota kor dari Kampung Nara, bukan saja karena telah bernyanyi bagus tetapi juga memberi semangat kepada orang-orang dari Kampung Nara.

Kembali dari Gereja malam itu, kami masih bercerita lagi tentang kor dan pembasuhan kaki. Dari cerita mereka, saya tahu bahwa mereka mengikuti seluruh acara dengan teliti. Karena mereka menangkap detail dari rangkaian perayaan malam itu.

“Ada kemungkinan juga para rasul itu saling membasuh kaki mereka,” kata saya.

“Kalau saling membasuh kaki, kami tidak mau. Kami mau pastor yang membasuh kaki kami,” jawab mereka.

Kaki-kaki yang telanjang itu, sering berdebu dan berkeringat karena kerja keras mendapat sentuhan rohani pada malam Kamis Putih. Kehidupan Kampung Nara, yang dikeliling kemiri dan kapuk itu seakan mendapatkan kegembiraannya. Perayaan Kamis Putih memberi mereka kegembiraan rohani bahwa Tuhan berkarya melalui tangan-tangan manusia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s