Sampah, Hutan, dan Pertobatan Ekologis

BERSIHKAN SAMPAH - Para pastor dan karyawan dari Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng dan Paroki Katedral membersihkan sampah di Pasar Inpres Ruteng, Kamis 17 Maret 2016.
BERSIHKAN SAMPAH – Para pastor dan karyawan dari Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng dan Paroki Katedral membersihkan sampah di Pasar Inpres Ruteng, Kamis 17 Maret 2016.

Oleh Frans Obon

RUTENG — Para tukang ojek dan para pedagang di Pasar Inpres Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores, menonton aksi puasa membersihkan sampah oleh para pastor dan para karyawan dari Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng dan Paroki Katedral Ruteng. Aksi bersih sampah pada 17 Maret 2016 ini berlangsung selama beberapa jam dan sampah-sampah baik dalam got-got maupun pada jalan masuk menuju pasar dibersihkan dan diangkut ke dalam kendaraan milik pemerintah.

Silvester Pampo, pedagang di Pasar Inpres Ruteng, mengatakan sampah-sampah yang ada dalam got-got dan sekitar kompleks pasar itu ada akibat ulah para pedagang yang tidak memedulikan larangan pemerintah.

“Para pedagang sudah diberitahu agar tidak membuang sampah di sembarang tempat. Tetapi sampah-sampah yang ada ini akibat ulah para pedagang. Ini karena kesombongan kami para pedagang,” kata Pampo.

Dalam masyarakat Manggarai, sebagaimana masyarakat Flores umumnya, penghargaan terhadap para pastor begitu tinggi. Ketika melihat para pastor membersihkan sampah di sekitar pasar, para pedagang merasa bersalah.

“Kami menyesal karena toe wajar ise (tidaklah patut mereka) membersihkan sampah di got-got dan kompleks pasar. Salahkan kami yang ada di pasar ini. Tiap hari petugas dari Badan Lingkungan Hidup Daerah, sebuah badan pemerintah, mengingatkan para pedagang agar membuang sampah di tempat-tempat sampah yang sudah disediakan pemerintah. Tombo (dibicarakan) terus ite (pak), tapi masyarakat tidak mengerti,” kata Pampo.

Bastian Bheo, staf dari Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Ruteng, mengatakan bahwa kesadaran masyarakat masih rendah soal kebersihan baik kebersihan di lingkungan rumah tangga maupun tempat-tempat umum. Karena itu aksi membersihkan sampah di Pasar Inpres Ruteng itu ingin menyadarkan masyarakat bahwa kebersihan lingkungan dan tempat-tempat umum penting bukan saja bagi kesehatan tetapi juga keindahan dan kenyamanan masyarakat.

“Kita perlu membersihkan sampah di halaman rumah dan lingkungan kita sendiri dan tidak perlu menunggu orang lain. Mental menunggu orang lain ini perlu diubah. Karena pengalaman saya, got-got di depan rumah pun menunggu pemerintah dan orang lain untuk membersihkannya. Mental ini perlu diubah,” kata Bastian.

Manajemen Sampah

Romo Martin Chen, Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng, menilai bahwa saat ini diperlukan manajemen sampah yang baik dari pemerintah. Manajemen penanganan sampah ini merupakan bagian dari manajemen pengelolaan pasar. Jika manajemen pengelolaan pasar dijalankan dengan baik, maka semua aspek dalam kehidupan pasar akan berjalan baik. Sebab pasar bukan saja sekadar transaksi ekonomi, tetapi tempat berkumpul dan bertemu masyarakat dari berbagai latarbelakang dan perlunya transaksi ekonomi yang berjalan di atas prinsip-prinsip kejujuran dan keadilan.

Sampah-sampah yang menumpuk di sekitar pasar dan dalam got-got sekitar pasar memperlihatkan bahwa telah terjadi proses pembiaran. Oleh karena itu harus ada penyadaran dan pemberian sanksi kepada pedagang yang tidak membuang sampah di tempat-tempat sampah yang telah disediakan pemerintah.

Tiap-tiap pedagang, menurut Romo Martin, mesti memiliki tempat sampah dan pemerintah harus mengecek apakah setiap pedagang itu memiliki tempat sampah di lokasi penjualannya atau tidak ada tempat sampah pribadi. Jika para pedagang tidak memiliki tempat sampah di stan-stan mereka, maka pemerintah memberikan sanksi.

“Pemerintah jangan hanya memungut iuran retribusi dari para pedagang tetapi tidak menyediakan tempat sampah. Kalau para pedagang itu tidak memiliki tempat sampah, maka izin usahanya dicabut. Pedagang harus menyediakan tempat sampah sendiri dan membuangnya di tempat-tempat sampah yang disiapkan pemerintah.”

Pengelolaan sampah harus pula melibatkan para pedagang dan pemerintah bertugas melakukan koordinasi. Tim pengelolaan sampah ini dibentuk dan berada di bawah koordinasi pemerintah. Karena masyarakat perlu berpartisipasi dalam pengelolaan sampah.

Pasar adalah jantung kehidupan sebuah kota. Dengan demikian pasar yang bersih mencerminkan keadaan kota yang baik. Oleh karena itu pengelolaan pasar menjadi hal penting bagi pengembangan kota. Tata kelola pasar juga harus dilakukan dengan tertib. Pemerintah perlu bersikap tegas mengenai bangunan-bangunan sekitar kompleks pasar yang dibangun tidak sesuai dengan perencanaan pasar. Bangunan-bangunan di sekitar kompleks pasar yang keberadaannya bertentangan dengan tata kelola pasar harus ditertibkan.

Sampah Plastik

Romo John Boylon, Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan St Paulus Ruteng mengatakan, masyarakat harus didorong agar bebas sampah menjadi gerakan bersama. Sudah waktunya kita memikirkan bersama agar sampah-sampah dikelola dengan baik sehingga bernilai produktif.

“Gerakan bebas sampah harus menjadi gerakan bersama. Sampah-sampah yang ada saat ini paling banyak adalah sampah rumah tangga. Oleh karena itu gerakan bersama bebas sampah ini harus dimulai dari rumah tangga,” kata Romo John, Senin 21 Maret 2016.

AKSI PUASA -- Kegiatan aksi puasa membersihkan sampah di Pasar Ruteng.
AKSI PUASA — Kegiatan aksi puasa membersihkan sampah di Pasar Ruteng.

Pemerintah juga mulai membuat perencanaan agar sampah-sampah dimanfaatkan secara produktif. Oleh karena itu sampah-sampah yang ada mesti dipilah-pilah dan dipisahkan mana sampah-sampah yang bisa dimanfaatkan dan mana yang tidak. Masyarakat juga harus disadarkan bahwa sampah plastik sangat berbahaya. Sampah plastik itu tidak boleh dibuang begitu saja di sungai karena akan mengganggu sawah-sawah masyarakat yang mendapatkan sumber air dari sungai-sungai yang ada.

“Sampah-sampah plastik itu tidak boleh dibuang ke sungai-sungai dan berujung ke laut. Karena itu masyarakat harus disadarkan bahwa sampah plastik itu paling berbahaya karena tidak mudah hancur. Karena itu harus disiapkan tempat khusus untuk menampung sampah plastik. Saya dengar para petani sawah mulai keluhkan bahwa sampah plastik yang dibuang ke sungai itu sudah terhanyut sampai di sawah-sawah. Hal ini akan meresahkan petani.”

Isu Lingkungan Hidup

Salah satu keprihatinan Gereja Katolik Keuskupan Ruteng adalah masalah lingkungan hidup. Sinode III Keuskupan Ruteng 2015 menyebutkan bahwa ada tiga masalah lingkungan hidup yang menjadi keprihatinan Gereja Katolik di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur, yang merupakan wilayah Keuskupan Ruteng. Tiga masalah utama lingkungan hidup itu adalah masalah pertambangan mineral, masalah hutan, dan masalah sampah.

Sinode II Gereja Katolik Keuskupan Ruteng memutuskan bahwa 2008 adalah tahun lingkungan hidup bagi keuskupan. Pada tahun 2008 dicanangkan agar umat Katolik menanam 1.000 pohon di tanah-tanah paroki dan tanah-tanah sekolah Katolik milik Yayasan Persekolahan Umat Katolik Manggarai dan di tanah-tanah pribadinya.

Sedangkan Sinode III Keuskupan Ruteng menegaskan bahwa pertambangan terbuka semarak dilakukan di wilayah keuskupan terutama di wilayah utara. Hal ini terjadi karena pemerintah daerah Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur cukup mudah memberikan izin pertambangan kepada para investor. Data tahun 2010, pemerintah Kabupaten Manggarai menerbitkan 23 izin usaha pertambangan, sedangkan Kabupaten Manggarai Timur menerbitkan 9 izin kuasa pertambangan pada tahun 2013. Sedangkan Kabupaten Manggarai Barat melakukan moratorium pertambangan sejak 2009.

“Kemudahan memberikan dan mengeluarkan izin usaha pertambangan oleh pemerintah daerah kepada investor membuktikan kemauan politik pemerintah yang minim mengelola pertambangan berbasiskan lingkungan hidup. Konflik-konflik sosial berkaitan dengan pertambangan justru bermula dari kemudahan pemerintah daerah untuk memberikan dan menerbitkan izin usaha pertambangan,” pernyataan Sinode.

Masalah kedua adalah kerusakan hutan terutama akibat pengelolaan yang tidak berkelanjutan. Saat ini kerusakan hutan makin massif terjadi di Indonesia, termasuk di Keuskupan Ruteng. Kerusakan hutan disebabkan penebangan kayu yang berlebihan, praktik illegal logging, dan semakin luasnya areal hutan yang dikonversi menjadi lahan pertanian, perkebunan, pemukiman penduduk dan areal pertambangan.

“Masyarakat dengan tamaknya mengambil semua isi hutan tanpa mempertimbangkan akibat destruktifnya. Hutan tandus ternyata membawa dampak yang sangat besar juga untuk kehidupan manusia sendiri. Sekarang ini ada begitu banyak sumber mata air yang sudah mengering. Ada begitu banyak wilayah yang mengalami tanah longsor di daerah-daerah bekas hutan pada musim hujan,” pernyataan Sinode.

Kerusakan hutan disebabkan mental instan ingin cepat mendapatkan uang dan gaya hidup materialistis dan konsumtif yang mendorong masyarakat merambah hutan. Hutan Nteer, hutan Golo Lusang, hutan Golo Worok yang dulu kala dikenal dengan hutan yang sangat padat tumbuhan dan kayu kini menjadi tandus. Sementara dari segi sosial, masalah ini dipicu kemiskinan, minimnya aturan dan lemahnya penegakan hukum terhadap perambahan hutan, kebutuhan pasar akan kayu makin meningkat. Dari segi kultural, terjadi pergeseran mental tradisional (sakralisasi) ke modern (sekularisasi) dan dari kehidupan komunal ke individual.

Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng di istana Keuskupan Ruteng, 18 Februari 2016 kepada saya mengatakan, pemerintah mesti mendorong masyarakat agar memelihara sumber-sumber mata air. Agar menjadi contoh bagi masyarakat, pemerintah perlu menyediakan lokasi khusus yang bisa menunjukkan komitmen mereka memelihara sumber mata air. Di lokasi itu hanya khusus bagi pemerintah dan lokasi ini akan menjadi contoh bagi masyarakat. Masalah lingkungan hidup tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab Badan Lingkungan Hidup Daerah dan Dinas Kehutanan melainkan menjadi tanggung jawab semua Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Masalah ketiga adalah sampah yang berserakan di mana-mana yang mengakibatkan pencemaran lingkungan dan berpotensi membahayakan kesehatan manusia. “Sampah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang mengakibatkan pencemaran tanah, udara, dan air. Bau yang menyengat dan rembesan air yang mengandung senyawa kimia yang berasal dari pembusukan sampah akan mengganggu kesehatan masyarakat. Timbunan sampah yang menimbulkan bau disebabkan karena adanya gas metan yang terlepas dari kandungan sampah. Gas ini berbahaya dan dapat mempercepat terjadinya efek pemanasan global. Banyak penyakit datang dari lingkungan yang tidak bersih dan sehat”.

Masalah sampah ini timbul dari perilaku manusia yang membuang sampah sembarangan. Banyak orang memiliki mental jorok, boros, konsumtif, dan cari gampang yang tidak peduli dengan kebersihan lingkungan. Keterampilan pengelolaan sampah juga minim dan tidak adanya regulasi tentang sampah dan belum adanya sistem pengelolaan limbah sampah yang efektif dan efisien yang bisa mengurangi dampaknya pada lingkungan hidup.

Pertobatan Ekologis

Surat Gembala Prapaskah dan Paskah 2016 dari Uskup Ruteng, Mgr Hubert Leteng merefleksikan kerahiman Ilahi dan pertobatan ekologis. Masa tobat 2016 dianggap istimewa karena bertepatan dengan Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi yang dicanangkan Paus Fransiskus dari 8 Desember 2015 hingga 22 November 2016. Pertobatan dan kerahiman Ilahi sangat erat karena kerahiman Ilahi adalah dasar dari pertobatan.

“Kerahiman Allah mengubah hati manusia untuk berbelas kasih kepada sesama. Pertobatan bukan sekadar sebuah ritual atau upacara liturgis belaka. Namun ungkapan tobat di hadapan Allah haruslah mencerminkan belas kasih dan tindakan solider dengan yang menderita dan sengsara.”

Uskup Hubert Leteng mengkritik perayaan liturgis yang terbelenggu seremoni sehingga terasa asing dari kehidupan sehari-hari. “Ibadat di seputar altar Gereja belum selaras dengan perjuangan hidup di tengah dunia. Karena itu pada tahun 2016 Gereja Keuskupan Ruteng mencanangkan program pastoral yang berfokus pada liturgi sebagai sumber kerahiman ilahi dan puncak kehidupan umat beriman. Persatuan mesra Allah dengan umat-Nya adalah muara dari semua kegiatan hidup kita sehari-hari”.

Namun pertobatan juga harus mencakup aspek rohani dan jasmani, sebuah pertobatan yang holistik . “Kita diajak dalam Tahun Yubileum Kerahiman untuk menggiatkan karya kerahiman yang bersifat jasmani seperti memberi makan dan minum kepada orang lapar dan haus, pakaian kepada yang telanjang, tumpangan kepada orang asing, mengunjungi orang sakit, melawati orang di penjara, dan menguburkan orang mati. Selain itu karya kerahiman yang bersifat rohani seperti memberi nasihat kepada orang yang bimbang, mengajar orang yang tidak tahu, menasihati orang berdosa, menolong orang yang tertindas, mengampuni orang yang bersalah, menolak segala bentuk kekerasan, dan meningkatkan kehidupan doa pribadi dan keluarga.”

Pertobatan perlu pula memiliki dimensi sosial, membangun kehidupan masyarakat dan bernegara yang berdasarkan nilai-nilai Injil, dan penyelenggaraan pemerintahan yang bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme dan terarah kepada kesejahteraan bersama.

“Tidak kalah pentingnya kita perlu meningkatkan perjuangan ekologi dalam merawat dan menjaga alam di Manggarai raya. Sesuai dengan rekomendasi Sinode III, kita hendaknya mewujudkan alam lingkungan yang sehat, lestari, dan berkelanjutan terutama pembuangan dan pengelolaan sampah yang tepat, menjaga sumber mata air dan merawat hutan serta terus konsisten menolak pertambangan mineral yang merusak alam lingkungan di bumi congka sae,” kata Uskup Hubert.

Aksi membersihkan sampah di Pasar Inpres Ruteng, kata Romo Martin Chen, merupakan salah satu dari perwujudan pertobatan ekologis, menjalankan amanat Sinode III Keuskupan Ruteng. Aksi ini akan dilakukan sepanjang tahun dalam kerja sama dengan pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Aksi membersihkan sampah-sampah di Pasar Inpres Ruteng itu hanyalah sebagian dari upaya penyadaran agar masyarakat mulai memedulikan lingkungan alam dan lingkungan sosial sehingga menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi kehidupan manusia.v

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s