Cendekiawan dan Kekuasaan

ilustrasi
ilustrasi
Oleh Frans Obon

Tema hubungan antara cendekiawan dan kekuasaan adalah tema aktual dan menarik, yang selalu diperdebatkan dan diwacanakan terus menerus sepanjang sejarah manusia. Tema inilah yang digeluti Daniel Dhakidae dalam bukunya Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru. Objek kajian Dhakidae adalah hubungan cendekiawan dan kekuasaan dalam satu periode pemerintahan yang berusia 32 tahun yang disebut Orde Baru.

Buku yang dinilai sebagai salah satu buku terbaik yang membahas hubungan antara cendekiawan dan kekuasaan dalam konteks Indonesia sudah lama diluncurkan di Jakarta. Tetapi Yayasan Swabina Yasmine Ende pimpinan John Th Ire menggelar seminar sehari untuk membedah buku dan mencoba menarik satu dua poin penting bagi perkembangan intelektual Flores. Seminar yang berlangsung di Hotel Dwi Putra, Sabtu (11/9) itu menghadirkan Dr Daniel Dhakidae sendiri sebagai penulis. Pada kesempatan itu ikut membahas topik yang sama adalah Drs. Don Bosco Wangge MSi, Pater Dr Philipus Tule SVD, Drs Natsir Koten, MPd dengan moderator Romo Paulus Bongu Pr.

Dhakidae dalam pengantar bukunya menegaskan, cendekiawan dalam seluruh telaahannya pertama-tama tidak ditujukan kepada satu kelompok. Karena cendekiawan adalah kelompok yang menolak disebut kelompok karena tidak ingin dan mau diperiksa sebagai kelompok. Menurut dia, cendekiawan adalah relasi dalam satu medan (ekonomi, sosial, sastra, politik dan lain-lain) dengan titik berat pada produksi wacana, pertikaian wacana, pergantian kembali wacana kepada formasi wacana baru.

Karena itu, bagi Dhakidae, “Setiap buku pada dasarnya adalah ajakan untuk suatu pertandingan diskursif, Sebagaimana setiap kitab dari pengarang manapun yang pernah melihat terbit dan terbenamnya matahari, tidak lain dari kata pengantar kepada buku lain kelak di kemudian hari, yang jauh-jauh lebih penting”.

Pertanyaan sesungguhnya di sini adalah, kepada siapa seorang cendekiawan mengabdi, kepada kebenaran atau kepada kekuasaan dan modal? Apakah cendekiawan berada untuk memberi arah pada perkembangan masyarakat ataukah memberi pembenaran pada kekuasaan. Jika cendekiawan mengabdi pada kekuasaan dan uang (modal), maka cendekiawan tidak lebih daripada tukang. Dengan demikian cendekiawan pertama-tama harus mengabdi pada kebenaran dan keadilan, memberi arah pada perkembangan masyarakatnya.

Definisi diri cendekiawan yang menolak disebut kelompok mencerminkan sikap untuk tidak mengikat pada kekuasaan dan uang. Tidak mau digolong-golongkan dalam ikatan primordial. Pengalaman Orde Baru justru menegaskan bahwa pengelompokan diri para cendekiawan ke dalam ikatan cendekiawan seperti Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan berbagai ikatan cendekiawan lainnya yang terikat pada suku dan agama telah mengaburkan peran dan identitas dirinya sebagai cendekiawan. Cendekiawan seperti dalam bahasa Rendra tidak lagi sebagai empu yang berumah di atas angin.

Pembedahan buku ini di Flores terlihat urgensinya ketika kita menyaksikan bahwa otonomi daerah kehilangan arah di daerah-daerah. Tidak ada gagasan yang terbingkai secara cerdas untuk memberikan arah pada perubahan yang terjadi. Reformasi sebagai kata lain dari perubahan kehilangan makna justru ketika cerdik cendekia di wilayah ini sibuk dengan pembagian kue kekuasaan dan keuntungan finansial dari otonomi daerah. Tidak ada orang cerdik cendekia yang bisa membangun komitmen dan mendorong terciptanya perubahan yang terarah, yang menjadi panduan bagi masyarakat kita. Hal ini bisa terbaca dari jenuhnya ruang publik dengan opini-opini yang tercerai berai.

Selain itu, pembedahan buku ini menjadi momen untuk menghidupkan kembali inspirasi kita untuk melepaskan baju identitas suku, agama, ras dan etnik ketika berbicara dan berdiskusi, ke mana Flores akan dibangun ke masa depan. Pembedahan buku ini menghidupkan kembali imajinasi kita untuk meninggalkan perbedaan kita dan menatap masa depan bersama. Dengan demikian, momen ini menjadi dorongan besar bagi kita untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan cerdas yang penting bagi perkembangan Flores ke depan. Inilah harapan terbesar mengapa Dhakidae, seorang intelektual asal Flores perlu jauh-jauh datang berbicara mengenai peran cendekiawan dan kekuasaan di sebuah pulau yang jauh dari pusat-pusat kekuasaan.

Pemuatan ulang naskah Bentara, tajuk Flores Pos. Karena tidak terdokumentasi dengan baik, penulis tidak tahu lagi tanggal dan tahun berapa Bentara ini ditulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s