Membangun Harapan dalam Kebersamaan

Romo John Servatius Boylon Pr
Romo Dr. Yohanes Servatius Boylon, MA

Oleh Frans Obon

LEMBAGA Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) St Paulus Ruteng menerbitkan empat buku pada tahun 2016. Salah satunya adalah buku Berpikir dan Berkarya di Ruang Akademis, yang merupakan kumpulan sambutan Ketua STKIP St Paulus Ruteng, Romo Dr Yohanes Servatius Boy Lon Pr di berbagai kesempatan dan peristiwa. Buku ini yang terdiri dari 55 sambutan dan diterbitkan Penerbit STKIP St Paulus Ruteng (2016) dalam kerja sama dengan LPPM STKIP St Paulus Ruteng ditutup dengan tips mempersiapkan dan membawakan sambutan.

Buku ini, sebagaimana dikatakan Dr. Fransiska Widyawati, M.Hum dalam pengantarnya, merupakan sebuah rekam jejak karya di lembaga STKIP. “Bagaimana kita mengetahui eksistensi dan keterlibatan kampus? Tentu saja dengan memperhatikan rekam jejak karya yang dilakukan kampus tersebut,” tulis Fransiska, akrab disapa Ibu Ansi.

Jejak, tentu saja, adalah sebuah perjalanan, yang memiliki awal dan tujuan akhir. Tapak-tapak dalam jejak perjalanan panjang itu juga adalah sebuah sejarah, tempat kita bercermin untuk melihat apa komitmen, tekad, harapan dan apa yang telah dilakukan. Bukan hanya itu, cermin di mana kita bisa lihat kecemasan dan kegembiraan dan bagaimana kita merespon ketakutan, kecemasan, harapan dan kegembiraan itu untuk mencapai tujuan mulia dari lembaga pendidikan tinggi yakni memanusiakan manusia muda (kaum muda), generasi masa depan Flores dan Lembata. Sejarah STKIP St Paulus Ruteng, yang berawal dari sebuah lembaga kursus kateketik memperlihatkan kepada kita bahwa perjalanan itu telah membentuk STKIP sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang bergensi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Membangun Harapan

Lembaga pendidikan tinggi, sebagaimana institusi lainnya, bukanlah societas perfecta, sebuah masyarakat yang sempurna. Gereja Katolik sendiri memahami dirinya sebagai Gereja yang selalu membarui diri (ecclesiae semper reformanda), Gereja yang selalu membuka jendelanya untuk menghirup udara segar kemajuan zaman.

Hal ini pulalah yang terlihat dari sambutan Romo Dr. John Boylon Pr dalam buku ini. Dalam sambutan pelantikannya sebagai Penjabat Sementara Ketua STKIP St Paulus Ruteng pada tanggal 1 Juni 2011, Romo John mengatakan: “Hari ini saya berdiri di sini dengan perasaan bersyukur namun penuh kecemasan. Saya bersyukur atas kepercayaan yang diberikan, namun saya cemas dengan tanggung jawab dan bebannya. Saya beryukur karena menerima estafet kepemimpinan di hadapan pendiri Pater Yohanes van Rosmalen SVD, namun saya cemas memikirkan tantangan dalam mewujudkan visi dasar sekolah untuk menyelamatkan umat manusia dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Saya beryukur kepada Pater Servulus Isaak SVD yang telah mengajarkan saya kepemimpinan dalam konteks spiritualitas pastoral Gereja dan dalam konteks manajemen konflik menghadapi berbagai tuntutan reformasi pendidikan. Namun saya cemas juga akan kemampuan lembaga ini untuk berkompetisi di tingkat lokal, regional maupun nasional. Saya bersyukur kepada Yayasan Santu Paulus Ruteng (Yaspar) dan sivitas akademika STKIP St Paulus yang memberikan kepercyaan ini dalam mimpi besar menjadikan STKIP St Paulus sebuah universitas. Namun saya juga cemas akan tuntutan undang-undang di tengah berbagai keterbatasan kita semua. Ibarat biduk, STKIP St Paulus tengah melayari lautan yang bergelombang menuju pulau impiannya. Kita semua melayari lautan, sesulit apapun, senantiasa menyisakan mimpi akan sebuah pelabuhan. STKIP St Paulus harus mengarungi lautan yang tak terhingga dan harus berhasil mengatasinya sehingga melabuhkan dirinya sebagai perguruan tinggi berkelas. Untuk itu pelbagai tantangan tidak boleh dibaca sebagai hambatan melainkan peluang untuk melakukan pembenahan fundamental secara cepat dan tepat”.

Di tengah lautan gelombang yang akan menghempas biduk STKIP itu, dibangunlah sebuah harapan, komitmen, dan tekad yang kuat agar “kita tidak menangisi kesulitan” tetapi membangun harapan karena di sana terdapat kemungkinan mendapatkan bahan-bahan yang tepat untuk membangun fondasi yang kuat. Dalam kata-katanya sendiri, Romo John mengatakan: “Mimpi menjadi perguruan tinggi berkelas harus menjadi mimpi kita semua selaku civitas academica. Mimpi itu bukan milik pribadi atau sekelompok elit tertentu. Jauh daripada itu, mimpi itu adalah mimpi kita bersama Tuhan atau siapa saja yang peduli akan perbaikan fundamental pada STKIP St Paulus tercinta ini. Oleh karenanya yang kita butuhkan sekarang adalah berbagai masukan yang konstruktif, yang disertai sikap iman (saling percaya), semangat kerja keras, pengabdian dan komitmen yang solid. Tanpa itu semua, mimpi menjadikan sekolah tinggi ini sebuah perguruan tinggi berkelas tak akan pernah turun menjadi kenyataan”.

Bagaimana kesulitan dan tantangan ini dikelola. Romo John melakukan dua pendekatan yang komplementer.

Pertama, kepemimpinan. Mimpi dan visi besar untuk menjadi perguruan tinggi berkelas hanya bisa diwujudkan melalui kepemimpinan yang matang dan visioner. Kepemimpinan dan penggunaan kekuasaan dijalankan dengan baik dengan memperhatikan kesimbangan antara rigiditas dan fleksibilitas. Aspek ini terpancar dalam tiga aliran (flow) yakni aliran manajemen (flow of management), aliran informasi (flow of information) dan aliran pengetahuan (flow of knowledge). “Berdasarkan itu semua, good governance kami artikan sebagai sentralisasi dalam aliran manajemen dan informasi namun desentralisasi dalam aliran pengetahuan. Di satu sisi ada sentralisasi dalam manajemen keuangan, infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM), di sisi lain ada keleluasaan bagi program studi, lembaga atau unit untuk melakukan pengembangan di bidang pengajaran dan riset”.

Kedua, pemecahan masalah bertahap, keping demi keping. Transformasi itu dalam pandangan Romo John tidak bisa dilakukan secara menyeluruh dan tiba-tiba tetapi memecahkan masalah keping demi keping hingga tuntas (piecemeal problem solving). Seorang pemimpin bisa salah dalam mendiagnosa masalah dan bisa keliru dalam memberikan solusi. Namun melalui proses belajar, hal ini akan dapat diatasi demi transformasi berkelanjutan.

“Kami sadar bahwa kami tidak mungkin melakukan transformasi secara menyeluruh dan tiba-tiba melainkan melalui pemecahan masalah keping demi keping sehingga tuntas (piecemeal problem solving). Kami juga mengerti bahwa setiap konsep, strategi atau langkah yang diambil bisa saja salah. Namun kami yakin bahwa kesalahan adalah bagian tak terpisahkan dari proses belajar yang berkelanjutan. Sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi STKIP St Paulus harus menjadi learning organization yang terampil dalam menciptakan, memperoleh dan mentransfer pengetahuan sekaligus memodifikasi perilakunya guna merefleksikan pengetahuan dan inspirasi baru. Kita sangat mendambakan perubahan sekaligus menginginkan perubahan tersebut, dilandasi basis pengetahuan yang kokoh dan teruji. Hanya dengan itu STKIP kita tercinta ini akan melangkah pasti dari sekadar good menjadi great”.

Harapan melampaui segala ketakutan dan kecemasan. Harapan memang menjadi salah satu dari tiga sendi kokoh kebajikan Kristen yakni iman, harap dan kasih. Romo John mengatakan: “Hari ini kita berkumpul bersama karena kita memilih harapan bukan ketakutan, kebersamaan dan bukan konflik. Waktunya telah tiba untuk mengukuhkan semangat dasar lembaga ini, memilih sejarah yang lebih baik, meneruskan anugerah-anugerah istimewa, ide-ide besar dari satu generasi ke generasi berikutnya”.

Dalam sambutan pelantikan sebagai Ketua STKIP St Paulus Ruteng periode 2013-2017, tema-tema yang sama diulang kembali. Rasa cemas kembali diangkat namun bukan dalam konteks ketakutan menghadapi masa depan, tetapi kecemasan sebagai sebuah tugas untuk menyusun langkah baru guna memenuhi ekspetasi masyarakat terhadap STKIP St Paulus. Kepercayaan untuk memimpin STKIP kembali diulang sebagai sebuah tanggung jawab. “Saya sendiri tidak meragukan komitmen saya atau komitmen semua warga sivitas akademika STKIP St Paulus. Yang saya cemaskan adalah ekspetasi yang bervariasi dari semua pihak di kampus ini. Yang saya cemaskan adalah kerinduan masyarakat agar lembaga ini menjamin masa depan yang cerah bagi anak-anak mereka”.

Namun semua kecemasan dalam menghadapi tantangan ini ditransformasikan menjadi pelecut semangat untuk melakukan yang terbaik bagi lembaga. Kunci dari semua ini adalah harapan. Harapanlah yang memberi kekuatan untuk menghadapi lautan gelombang tantangan zaman. Namun harapan itu dibangun bukan dilakukan seorang diri, melainkan dibangun dalam kebersamaan. Dalam kata-kata Romo John sendiri: “Saya berdiri di sini karena saya hari ini memilih harapan bukan ketakutan atau kecemasan; atau hari ini saya mengandalkan kebersamaan bukan kesendirian. Waktunya telah tiba untuk kita memilih sejarah STKIP St Paulus Ruteng yang lebih baik, untuk menuliskan cerita indah tentang STKIP St Paulus Ruteng dan meneruskan tradisi akademis yang besar dan bermutu”.

Tema kepemimpinan dan pemecahan masalah keping demi keping kembali disampaikan. Namun Romo John menambahkan moto kepemimpinannya: “Berhati teduh, berpikir solutif, dan bertindak etis”.

Dua sambutan ini, yang tertuang dalam buku Berpikir dan Berkarya di Ruang Akademis, yang diluncurkan, Jumat 30 September 2016 adalah tonggak penting untuk melihat dan menilai semua yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir dan apa yang akan dilakukan ke depan. Sambutan-sambutan lainnya dalam buku ini, baik sambutan pembukaan tahun akademik, sambutan lokakarya, sambutan wisuda sarjana, dan berbagai sambutan lainnya, merefleksikan semangat, komitmen, tekad, dan harapan awal kepemimpinan dan manajemen kepemimpinan Romo John. Optimisme memang diperlukan dalam menghadapi gelombang arus zaman yang akan dihadapi biduk yang bernama STKIP St Paulus kemarin, hari ini dan akan datang. Harapan yang dibangun di atas dasar harapan pribadi tidaklah cukup. Harapan yang dibangun di atas kebersamaan adalah harapan yang memiliki dasarnya di dalam Allah yang mencintai dan mengasihi semua orang. Pepatah Latin mengatakan: Dum spiro, spero (selama saya masih bernafas, saya berharap). Kita memang punya alasan untuk selalu berharap, karena kita menaruh harapan itu di dalam Allah. Vivat academia, vivant professores, vivat membrum quodlibet, vivant membra quaelibet, semper sint in flores! Vivat STKIP St Paulus Ruteng.*

Ruteng, 29 September 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s