Mahasiswa Melawan Korupsi

imagesOleh Frans Obon

Pada Hari Anti Korupsi Sedunia, 9 Desember 2016, para mahasiswa Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula Ende melakukan aksi bisu di beberapa lokasi strategis di Kota Ende, ibukota Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Aksi ini, menurut laporan media, selain memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia, tetapi juga bagian dari aplikasi matakuliah “Pendidikan Anti Korupsi” (Flores Pos, 10 Desember 2016).

Menurut koordinator umum aksi, Maria Prisila Gala, para mahasiswa ingin mengajak masyarakat umum untuk menyadari bahwa korupsi itu adalah tindakan yang tidak baik, merugikan, dan berdampak hukum. Yulita Eme, dosen matakuliah “Pendidikan Anti Korupsi” mengatakan, aksi ini hendak mengajak para mahasiswa agar peduli terhadap dampak korupsi yang telah masuk ke dalam setiap dimensi kehidupan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengajak masyarakat agar bersama-sama melawan dan menolak korupsi. Menurut dia, korupsi telah berlangsung masif sehingga pemberantasannya tidak mudah lagi dilakukan. Oleh karena itu diperlukan komitmen dan keseriusan aparat penegak hukum. “Kegiatan ini hendak menanamkan sikap anti korupsi dalam diri mahasiswa dan sebagai bentuk aplikasi dari matakuliah Pendidikan Anti Korupsi”.

Kultur Baru

Keterlibatan para mahasiswa sebagai generasi muda dalam memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia memang patut diapresiasi. Kendati di satu sisi keterlibatan ini lebih sebagai implementasi dari matakuliah Pendidikan Anti Korupsi, namun di sisi lain setidaknya kita memiliki beberapa harapan bahwa timbul kesadaran di kalangan generasi muda kita untuk menyadari bahwa korupsi adalah bagian dari keburukan moral masyarakat. Oleh karena itu aksi bisu di Hari Anti Korupsi Sedunia ini adalah gerakan dua sisi yakni satu sisi mengajak masyarakat untuk menolak praktik korupsi, namun di sisi lain adalah bagian dari penanaman kultur baru yang menolak segala bentuk korupsi. Suatu usaha mendidik hati nurani agar tiap kali meneriakkan dari dalam lubuk hati yang paling dalam bahwa korupsi merusak moral masyarakat dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Oleh karena itu pula kita memiliki beberapa alasan mengapa aksi bisu para mahasiswa ini patut diapresiasi.

Pertama, sejak awal para mahasiswa diingatkan bahwa suatu hari nanti mereka akan menjadi pemimpin di segala lini kehidupan dan bukan mustahil mereka akan menjadi pemimpin publik, menjadi elite politik dan birokrasi, yang saat ini mereka kritik dengan aksi bisu itu. Kekuasaan yang mereka miliki akan memberi mereka peluang, kesempatan dan potensi untuk menyalahgunakannya dengan melakukan tindakan koruptif. Jika demikian, maka korupsi adalah soal kesempatan. Hari ini mereka menjadi pengkritik, esok mereka bisa menjadi pelaku.

Asumsi ini bukan tanpa alasan. Jika kita memetakan pola korupsi di tanah air, korupsi selalu melibatkan banyak pihak dan umumnya melibatkan mereka yang memiliki kekuasaan dan mereka yang berada di sekitar kekuasaan. Oleh karena itu korupsi di Indonesia memang umumnya adalah bagian dari praktik penyalahgunaan kekuasaan. Karena itu pula korupsi selalu terkait dengan elite kekuasaan baik elite politik maupun elite birokrasi dan rekan-rekan mereka di sektor swasta, yang terkait dengan pengelolaan sumber daya di sektor birokrasi.

Kedua, pendidikan anti korupsi adalah salah satu usaha untuk menghilangkan korupsi di Indonesia. Langkah itu pertama dimulai dari lembaga pendidikan tinggi. Para mahasiswa bisa mendefinisikan apa itu korupsi, tindakan apa saja yang dikatogerikan tindakan koruptif, alasan dan motivasi orang melakukan korupsi, undang-undang anti korupsi, dan lain-lain materi kuliah. Para mahasiswa menjadi tahu pola, praktik dan korupsi sebagai keburukan moral dalam masyarakat. Namun jauh lebih mendalam adalah pendidikan anti korupsi adalah jalan menanamkan nilai-nilai dalam diri mahasiswa untuk menolak, melawan dan mengatakan tidak terhadap tindakan korupsi. Bagian dari usaha menciptakan kultur baru, masyarakat baru dan tata kelola pemerintahan dan negara secara baru. Bagian dari usaha membersihkan akar-akar busuk kehidupan berbangsa dan bernegara dan sebagai bentuk menyembuhkan secara radikal akar-akar korupsi dalam masyarakat.

Pendidikan adalah proses menanamkan nilai-nilai baik untuk kebaikan pribadi maupun kebaikan bersama sebagai suatu bangsa. Oleh karena itu pendidikan anti korupsi harus dipandang sebagai proses konsientisasi para mahasiswa untuk sungguh menyadari bahwa korupsi adalah sebuah keburukan moral dalam masyarakat karena merugikan banyak orang. Dengan demikian, menjadikan anti korupsi sebagai matakuliah tidak lain hendak menanamkan dalam diri mahasiswa kesadaran bahwa korupsi itu buruk secara moral dan mereka menyimpan itu dalam kesadaran mereka yang paling dalam, membentuk hati nurani mereka sehingga dari dalam hati mereka selalu ada seruan: lakukan kebaikan dan hindarilah kejahatan (bonum facere, malum vitandum) sehingga menolak korupsi adalah bagian dari cara hidup mereka kelak.

Ketiga, keterlibatan mahasiswa pada perayaan Hari Anti Korupsi Sedunia ini adalah bagian dari proses pembudayaan nilai-nilai anti korupsi dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dilandasi oleh kebenaran bahwa pendidikan adalah bagian dari proses pembudayaan kehidupan manusia. Oleh karena pendidikan sejatinya memang adalah proses memanusiakan manusia, proses pembudayaan nilai-nilai kebaikan, dan nilai-nilai budaya yang membuat manusia lebih bermartabat.
Proses pembudayaan nilai-nilai anti korupsi yang sejak awal ditanamkan dalam diri mahasiswa, generasi muda kita akan dapat menghapuskan anasir-anasir kebudayaan kita yang merusak kehidupan pribadi dan kehidupan bersama kita. Karena bagaimanapun korupsi erat kaitannya juga dengan persoalan budaya. Kultur membentuk pribadi seseorang, membentuk persepsinya dalam melihat barang dan jasa, membentuk cara pandangnya terhadap kemajuan dan kepemilikan barang material. Kita misalnya mengkampanyekan hidup sederhana, tetapi kampanye hidup sederhana ini hanyalah kampanye belaka. Namun dalam praktiknya kultur kita justru mendorong orang untuk mengejar dan menumpuk harta sebanyak-banyaknya tanpa kerja keras.

Oleh karena itu pendidikan anti korupsi yang diberikan di perguruan tinggi harus dapat menumbuhkan kultur yang baik, kultur rasa bersalah (guilty culture) dan memperkuat kultur rasa malu (shame culture) yang dilandasi oleh kultur rasa bersalah. Dalam budaya rasa malu, kita baru merasa “bersalah” dan merasa malu jika perbuatan buruk kita diketahui oleh publik. Itulah sebabnya kita ingin menumbuhkan budaya rasa bersalah ini. Namun budaya rasa bersalah ini hanya bisa timbul kalau nilai-nilai kultur kita diperbarui terus menerus dan mampu membentuk hati nurani kita. Kita memang berharap bahwa ada kesadaran baru di dalam diri generasi muda kita bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membentuk dan mengasah ketajaman hati nurani mereka. Pada gilirannya, hati nurani yang diasah terus menerus ini akan membentuk kultur masyarakat yang anti korupsi.

Oleh karena itu keterlibatan para mahasiswa dalam memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia harus bisa menumbuhkan semangat dan komitmen membentuk dan mengasah hati nurani mereka untuk menolak segala bentuk korupsi. Pendidikan sebagai proses pembudayaan harus menjadi medium pembaruan kultur kita dan pembudayaan nilai-nilai anti korupsi.

Ruteng, 10 Desember 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s