Miras dan Konflik

peta-ntt
Oleh Frans Obon

Di Kabupaten Sikka, minuman keras (miras) terutama miras lokal (moke) dianggap menjadi pemicu utama dari kasus kriminalitas, kasus pembunuhan, kasus perkelahian, dan kasus kecelakaan lalu lintas. Dikatakan pula, kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual juga dipicu minuman keras (Flores Pos, 31/12/2016). Maka solusi yang ditawarkan adalah perlu dibuat Peraturan Daerah (Perda) penertiban miras, pembatasan penjualan miras, dan pengaturan jadwal pesta yakni hari pesta hanya berlangsung satu hari.

Bila kita menelusuri awal mula dari konflik dan perkelahian di tempat pesta di Flores, mungkin dengan mudah kita simpulkan bahwa miras adalah pemicu utama dari kekerasan, perkelahian dan konflik di tempat pesta di Flores. Demikian pula bila kita melihat kecelakaan lalu lintas, sebagian besar para korban adalah mereka yang telah menenggak minuman keras lokal dan kita lalu simpulkan bahwa minuman keras (miras) adalah pemicu utama dari kriminalitas, konflik, dan kecelakaan lalu lintas. Karena dari mulut korban dan pelaku kita mencium bau miras. Karena itu kita simpulkan bahwa miras adalah pemicu utama kekerasan dan berbagai kasus kriminalitas di Flores.

Bukan Tunggal

Sungguhkah miras lokal adalah pemicu tunggal dari kasus kriminalitas seperti pembunuhan, konflik di tempat pesta, perkelahian, dan kecelakaan lalu lintas? Ataukah miras adalah puncak dari gunung es persoalan-persoalan sosial dan budaya masyarakat Flores yang tidak terselesaikan dengan baik? Atau miras hanyalah medium untuk membunuh rasa takut itu sendiri dalam menyelesaikan konflik? Mungkin pula miras adalah jalan pintas yang dibayangkan untuk keluar dari kesulitan kehidupan dan pesimisme terhadap masa depan?

Sederetan pertanyaan di atas perlu disampaikan untuk menggugah kesadaran kita agar kita sedapat mungkin mendiskusikan lebih mendalam dan lebih serius bahwa miras bukanlah penyebab tunggal dari kasus kriminalitas, perkelahian di tempat pesta dan kecelakaan lalu lintas. Melarang miras (lokal) misalnya untuk menurunkan angka kriminalitas, perkelahian, dan kecelakaan lalu lintas bisa saja hanyalah asumsi yang masih harus diuji kesahihan dari kesimpulan tersebut. Dengan kata lain, kesimpulan bahwa miras lokal adalah faktor utama dari berbagai kasus kriminalitas di Flores, misalnya, adalah kesimpulan yang tergesa-gesa.

Mengapa? Kalau miras lokal adalah penyebab tunggal dari kasus kriminalitas di Flores, maka jalan keluar tunggal yang kita bisa lakukan adalah melarang produksi dan penjualan miras yang diatur dalam Perda. Atau jalan ekstrim ini dikurangi dengan cara membatasi produksi dan penjualan miras lokal. Tapi apakah sesudah miras lokal dilarang, katakanlah pelanggar Perda Miras ini dihukum atau diberi sanksi, tidak akan ada lagi kasus perkelahian di tempat pesta? Secara otomatis kasus kecelakaan lalu lintas menurun? Kasus kriminalitas juga langsung menurun? Semua ini adalah asumsi-asumsi yang mungkin belum tentu benar sepenuhnya.

Tergesa-gesa

Mengapa miras yang dianggap menjadi penyebab tunggal tingginya kasus kriminalitas adalah sebuah kesimpulan yang tergesa-gesa? Di Flores produksi miras lokal adalah hal yang biasa sejak dulu. Di Manggarai, miras lokal itu dibuat dari pohon enau. Di daerah lain, miras lokal itu diambil dari pohon lontar. Ritus-ritus adat kental dengan penggunaan miras lokal. Dalam urusan adat dan ritus-ritus yang terkait dengan peristiwa kehidupan manusia, juga diperlukan miras lokal. Produksi dan penjualan miras sudah berlangsung lama dan menjadi keterampilan masyarakat lokal. Karena dibutuhkan dalam ritus-ritus adat dan pesta-pesta, maka miras kemudian diperdagangkan secara ekonomis.

Kita memang bertanya-tanya, mengapa miras yang diminum masyarakat Flores di masa lalu tidak menyebabkan timbulnya kasus kriminalitas dibandingkan dengan sekarang? Dalam satu dekade terakhir ini, bukan hanya di Sikka, tetapi di seluruh Flores konflik di tempat pesta begitu marak. Pesta sekolah di Manggarai, misalnya, dulu berlangsung begitu bagus, rapi dan teratur meski orang disuguhi miras lokal, tetapi tidak ada perkelahian. Sekarang pesta sekolah sering menjadi ajang bagi kaum muda untuk berkelahi. Oleh karena itu, saya kira miras bukanlah penyebab tunggal dari kasus kriminalitas.

Kerumitan Hidup

Miras memang memberikan kontribusi pada persoalan kriminalitas, tetapi bukan penyebab tunggal. Hal ini perlu disampaikan agar dalam memecahkan persoalan ini, kita mencari akar-akar terdalam dari persoalan tingginya angka kriminalitas di Flores. Dengan demikian dalam mendiskusikannya, kita melibatkan sebanyak mungkin orang dan ahli yang bisa memberikan input untuk memecahkannya.

Jika kita mengamati dengan teliti dan melakukan telaahan lebih mendalam, ada persoalan besar yang memicu kasus-kasus kriminalitas di Flores. Ekonomi adalah persoalan utama dan pertama yang memicu tingginya kasus kriminalitas. Jumlah penduduk yang makin bertambah tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya alam. Akibatnya terjadi konflik perebutan sumber daya alam. Salah satu sumber daya alam yang menjadi objek sengketa di Flores adalah lahan pertanian. Orang baku bunuh karena merebut lahan pertanian. Banyak lahan pertanian telah ditanami komoditas pertanian seperti cengkeh, kemiri, kakao, jambu mete, kopi, dan lain-lain dan tidak banyak lagi lahan digunakan untuk menanam padi dan jagung. Seluruh sumber biaya kehidupan ekonomi masyarakat diandalkan pada tanaman komoditas perdagangan, yang harganya di pasaran domestik juga cenderung menurun.

Jika kita perhatikan juga konflik di tempat pesta di Flores, umumnya melibatkan kaum muda. Makin tahun, makin banyak kaum muda kita tamat dari lembaga pendidikan tinggi, tetapi lapangan kerja makin terbatas. Setiap tahun ada 5.000 hingga 6.000-an anak-anak muda kita tamat dari lembaga pendidikan tinggi di Flores. Belum terhitung anak-anak muda kita yang tamat di perguruan tinggi di luar Flores. Mereka memburu lapangan kerja yang terbatas. Makin tahun makin sedikit lowongan pekerjaan di sektor birokrasi. Sementara lowongan kerja di sektor swasta juga terbatas. Hal ini diperparah lagi oleh rendahnya semangat wirausaha di kalanngan anak muda tamatan perguruan tinggi kita.

Masalah pekerjaan makin menjadi kompleks karena jumlah tenaga kerja kaum muda yang ada di kampung-kampung – yang bukan tamat dari perguruan tinggi – juga tidak sedikit. Lahan pertanian yang sempit dan hampir tidak dikerjakan lagi serta tidak tertariknya kaum muda untuk mengerjakan lahan yang masih tersisa menambah rumitnya persoalan.

Kedua, sistem sosial-budaya kita memperumit kehidupan ekonomi masyarakat kita. Beban ekonomi dari sistem sosial-budaya kita makin mempersulit kehidupan ekonomi masyarakat kita. Urusan adat yang begitu rupa membebani ekonomi keluarga-keluarga kita. Belis, misalnya, yang dulu dianggap sebagai bentuk pemuliaan perempuan, dalam kenyataan justru membebani kehidupan keluarga-keluarga muda kita. Oleh karena itu kita perlu mentransformasi sistem sosial-budaya kita agar sistem sosial-budaya kita tidak membebani secara ekonomis keluarga-keluarga kita.

Ketiga, pragmatisme, materialisme, dan hedonistis. Pragmatisme seperti ruas ketemu buku dengan kemiskinan ekonomis. Segala sesuatu ditakar dengan uang. Semua hal bisa dibeli dengan uang. Pragmatisme ini makin subur dalam iklim demokrasi langsung di mana orang bisa mendapatkan uang dengan menggadaikan hak pilih mereka. Rakyat membarter suaranya dengan uang para politisi. Kebudayaan dimaterialisasikan. Semua peristiwa budaya yang bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomis dimaksimalkan, tetapi nilai-nilai yang terkandung dalam budaya dan adat istiadat lokal seperti diabaikan. Budaya kerja keras yang dulu dipegang teguh, saat ini makin jauh dari perilaku hidup.

Pendewaan pada materi dan kehidupan yang hedonistis membuat orang berlomba-lomba menggelar pesta yang meriah tapi dengan biaya tidak sedikit dan melibatkan keluarga besar. Hal ini diperparah lagi dengan mentalitas: nanti orang bila apa. Kampanye hidup ugahari dan hidup sederhana tidak bisa hidup dalam budaya hedonistis-konsumeristis. Gereja Katolik berusaha mengekang budaya pesta ini dalam perayaan sambut baru, misalnya, tetapi sama sekali tidak efektif. Keluarga-keluarga Katolik menggelar pesta sambut baru dengan biaya yang tidak sedikit, yang sebenarnya tidak menguntungkan secara ekonomis bagi kesejahteraan keluarga.

Situasi ekonomi, sistem sosial budaya dan pragmatisme, materialisme, dan hedonistis adalah akar utama dari persoalan kriminalitas. Bisa saja menenggak miras adalah semacam pelarian untuk “melupakan sejenak” kerumitan hidup. Miras memang melahirkan segunung kata yang sering tidak realistis, membunuh rasa takut untuk melakukan tindakan kriminalitas, dan menipiskan jarak antara kehidupan dan kematian di jalan raya. Miras bisa saja adalah pelarian dari semua persoalan dan kerumitan hidup. Oleh karena itu cara terbaik untuk memecahkan persoalan ini adalah melakukan analisis kasus demi kasus dengan lebih dalam agar kesimpulan yang kita ambil tidak tergesa-gesa. Dengan demikian pula pemecahan yang kita ambil lebih menukik dan mendalam daripada sekadar melarang produksi dan penjualan miras.

Ruteng, 6 Januari 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s