Natal dan Korupsi

ilustrasi
ilustrasi

Oleh Frans Obon

Gereja Katolik Keuskupan Agung Ende merefleksikan Natal 2016 dalam kaitannya dengan korupsi dan mentalitas koruptif di Indonesia. Surat Gembala Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota menegaskan lagi dimensi terdalam dari peristiwa Natal bahwa Natal, Allah menjadi manusia dan masuknya Allah ke dalam situasi konkret kehidupan manusia, bukan hanya sekadar perayaan liturgis tahunan yang meriah dengan lagu-lagu dan ornamen Natal, melainkan harus dilihat dalam dimensinya yang terdalam sebagai peristiwa keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia guna memulihkan harkat dan martabat manusia yang telah dirusakkan oleh dosa manusia baik dosa pribadi maupun dosa sosial.

Oleh karena itu sukacita dan kegembiraan Natal serta kemeriahannya harus pula membawa dimensi transformatif bagi kehidupan pribadi dan kehidupan sosial manusia. Peristiwa Natal membawa desakan bagi manusia untuk bertobat, membarui diri dan lingkungan sosial manusia. Maka dalam konteks ini pemberantasan korupsi dan mentalitas koruptif di Indonesia, diperlukan pertobatan pribadi dan sosial sebab korupsi adalah dosa pribadi yang merusak harkat dan martabat manusia dan dosa sosial yang merusak kemaslahatan dan kebaikan umum suatu masyarakat. Dengan demikian korupsi dan mentalitas koruptif harus dilihat sebagai masalah yang merusak pribadi manusia dan merupakan kejahatan yang menghancurkan manusia baik secara pribadi maupun sosial.

Uskup Sensi mengajukan dua pertanyaan mendasar, yang menjadi titik tolak dari refleksi Natal dan usaha pemberantasan korupsi dan menghilangkan mentalitas korupsi dalam masyarakat Flores. Uskup Sensi bertaka: “Dua pertanyaan berikut kiranya memedomani permenungan benah diri kita. Apakah arti dari ‘Allah menjadi manusia’. Apakah yang dituntut dari saya/kita untuk memaknai rahmat inkarnasi (Allah menjadi manusia) dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia yang sedang didera tindakan korupsi beragam wajah?”

Menepuk Dada

Menarik bahwa Surat Gembala Uskup Agung Ende tidak hanya menunjuk jari keluar Gereja Katolik tetapi juga menepuk dada tanda pengakuan dosa mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa dari kaum beriman Gereja Katolik Flores mengenai situasi korupsi dan mentalitas koruptif di Indonesia.

Uskup Sensi mengatakan: “Tidaklah cukup seorang murid Yesus hanya tahu mengutuk kejahatan korupsi sambil menonton dan menuding. Karena kalau kita mau jujur, kita mesti malu berperilaku seperti Pilatus. Bukankah di wilayah dan daerah kita, pelaku-pelaku korupsi adalah murid-murid Yesus. Bukankah korupsi terjadi juga di dalam lembaga-lembaga agama kita, Gereja yang kudus?”

Uskup Sensi mengatakan bahwa korupsi telah menjadi momok tetapi diakrabi oleh semua lapisan masyarakat, baik dunia bisnis, pemerintahan, lembaga-lembaga negara, paguyuban dan komunitas, organisasi massa dan organisasi masyarakat sendiri bahkan institusi keagamaan, termasuk Gereja. Refleksi para uskup Indonesia dalam sidang Konferensi Waligereja Indonesia, awal November 2016 juga melihat betapa korupsi itu sudah tersistemik, terstruktur, dinamis dan meluas dari pusat sampai daerah. Karena itu para uskup menyerukan: Setop Korupsi, Membedah dan Mencegah Mentalitas dan Perilaku Koruptif”.

Surat Gembala Uskup Agung Ende ini, yang dimuat secara utuh dalam Harian Flores Pos, 3 Desember 2016, mempertegas kembali bahwa korupsi dan mentalitas korupsi ini juga merebak di daerah kita. Dalam edisi yang sama, berita utama Harian Flores Pos justru tentang korupsi dengan judul: “KPK Terima 79 Kasus Terindikasi Korupsi” dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang sedang dalam proses penanganan. Dalam rapat koordinasi dan supervisi pemberantasan korupsi terintegrasi di Provinsi NTT di Kupang, 30 November 2016, dijelaskan bahwa kasus-kasus korupsi ini masih dikaji dan dipilah. Kasus yang bisa ditangani kejaksaan akan diserahkan ke kejaksaan.

Pembaruan Religius

Menyetop korupsi, membedah dan mencegah mentalitas dan perilaku koruptif yang sudah tersistemik, terstruktur, dinamis dan meluas dari pusat sampai daerah menuntut keterlibatan agama-agama di dalamnya. Agama-agama dipanggil untuk melakukan pembaruan religius manusia sehingga kerinduan akan hal-hal transenden manusia tidak saja memuaskan dahaga rohaniah semata tetapi pembaruan kerohanian yang terus menerus itu harus mampu mencegah mentalitas koruptif manusia sebagai dampak sosial dari pembaruan kerohanian tersebut. Dengan demikian agama-agama berperan penting di dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.

Hal ini akan dapat menjawab pertanyaan mendasar ini: apakah peran agama-agama di Indonesia dalam usaha pemberantasan korupsi di Indonesia? Hal ini menyentuh langsung dimensi keselamatan yang ditawarkan oleh agama bahwa keselamatan tidak hanya dimengerti dalam konteks kehidupan yang akan datang, tetapi keselamatan dalam konteks kehidupan di sini dan kini. Inilah dimensi holistik dari keselamatan yang dibawakan agama bahwa keselamatan itu menyangkut seluruh dimensi kehidupan manusia. Kita menghayati kesalehan keagamaan dalam lumpur kedosaan kita, dalam konteks kehidupan konkret dan kontekstual sehari-hari tetapi agama tidak bisa membisu, berdiam diri dan seakan tidak berdaya di hadapan kejahatan yang merendahkan harkat dan martabat manusia. Sebaliknya agama harus berada di sisi kepedulian terhadap pembelaan harkat dan martabat manusia dari semua bentuk penindasan, perendahan, dan pelanggaran hak-hak dasar dan asasi manusia.

Oleh karena itu Surat Gembala Uskup Agung Ende ini sesungguhnya hendak menggugah kembali panggilan dan kesadaran kaum beriman di Flores agar agama berperan dalam pemberantasan korupsi. Uskup Sensi mengatakan: “Dan kalau korupsi sudah melekat pada mentalitas dan perilaku harian, maka keprihatinan dan kepedulian untuk bertindak konkret, melawan dan memberantasnya pantas menjadi pilihan sikap sebagai wujud keterlibatan kristiani. Sebagai persekutuan murid-murid Yesus Kristus, yang memahami langkah inkarnatif Allah yang membebaskan, kita umat Katolik wajib mendukung upaya-upaya pengungkapan, penangkapan, penyidikan, pengadilan dan penghukuman terhadap pelaku tindak pidana korupsi apa saja dan di mana saja. Karena korupsi memang nyata-nyata menciptakan dosa ketidakadilan dan ketidakadilan merendahkan harkat hidup manusia”.

Dengan demikian pula Surat Gembala Uskup Agung Ende ini bagi orang Katolik Flores adalah sebuah ajakan agar perayaan Natal yang meriah setiap tahunnya, dapat dijadikan awal dari usaha pembaruan religius umat. Dengan pembaruan religius semacam ini, peranan agama-agama dalam usaha pemberantasan korupsi di Indonesia terefleksikan dengan baik. Dengan demikian agama memberi kontribusi bagi kemaslahatan dan kebaikan umum.

Perayaan Natal sebagai peristiwa inkarnasi, masuknya Allah dalam situasi konkret manusia, pertama-tama memperlihatkan hakikatnya sebagai pembaruan dan pembebasan manusia dari dosa pribadi dan dosa sosial. Inkarnasi Allah sebagaimana ditunjukkan dalam peristiwa Natal pertama-tama dan terutama hendak memperbarui pribadi manusia agar manusia kembali kepada hakikatnya yang terdalam sebagai “gambar dan citra Allah”. Dengan demikian Natal menjadi peristiwa pembaruan diri, harkat dan martabat manusia, agar manusia menjadi filii in Filio.

Uskup Sensi sendiri dalam surat gembala itu mengatakan bahwa Allah menjadi manusia melalui peristiwa inkarnasi memiliki makna:

  • Bukan hanya narasi menngenai kehendak Allah tetapi terutama kabar sukacita yang membangkitkan harapan dan optimisme. Meniadakan perang yang membudayakan tabiat saling membunuh dengan mengubah pedang menjadi mata bajak, tombak menjadi pisau pemangkas. Kedamaian memungkinkan masyarakat manusia dapat hidup berdampingan akrab dengan serigala, singa, beruang dan ular tedung tanpa merasa terancam. Karena hanya takut pada Tuhan yang menjadi kesukaan semua makhluk (Yes 11:6-9).
  • Allah menjadi manusia agar keluh kesah penderitaan diganti dengan kegirangan, sorak-sorai dan sukacita abadi dalam semarak kemuliaan Allah (Yes 35: 1-4, Rom 15:9)
  • Menyadari panggilan kristiani kita sebagai warga bangsa dalam gerakan melawan dan memberantas mentalitas dan perilaku koruptif. Korupsi adalah ulah kejahatan bangsa yang meniadakan sukacita keselamatan yang dihasilkan oleh kerahiman Allah yang menjadi manusia.

Kita setuju bahwa Natal sebagai peristiwa pembebasan, pembaruan, dan solidaritas Allah dengan situasi manusia dapat dijadikan titik awal dari pembaruan kerohanian masyarakat Flores untuk ikut serta dalam perjuangan pemberantasan korupsi di Indonesia. Dengan demikian peristiwa Natal bukan saja meriah dalam perayaannya, tetapi maknanya diwartakan dalam usaha-usaha pemberantasan korupsi di Indonesia. Dengan demikian orang-orang Katolik Flores, mungkin juga di belahan lain di Indonesia, mengambil bagian di dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Dengan itu Flores menjadi bagian terpenting dari usaha pemerintah dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.

Pintu Masuk

Dari manakah pintu masuk keterlibatan Gereja Katolik Flores dalam pemberantasan korupsi di Flores, NTT dan Indonesia. Uskup Agung Ende menyebutkan beberapa pintu masuk untuk memutuskan mata rantai korupsi dan menghilangkan mentalitas koruptif di Flores.

Pertama, pintu pendidikan. Ada optimisme bahwa untuk menghentikan korupsi di Indonesia, termasuk di Flores, pintu masuk pertama adalah melalui lembaga pendidikan, baik melalui pendidikan dalam keluarga, lembaga pendidikan formal maupun pendidikan dalam komunitas-komunitas masyarakat. Pendidikan nilai dianggap bisa memutuskan mata rantai korupsi karena berkat pendidikan nilai, terbentuk generasi baru yang bebas dari mentalitas korupsi.

Namun munculnya generasi baru untuk memutuskan mata rantai korupsi melalui proses pendidikan bukanlah tanpa persoalan. Lembaga pendidikan kita masih menyimpan sejumlah persoalan mendasar mulai dari mutu, proses pembelajaran hingga pendidikan karakter belum sepenuhnya memberikan kita harapan. Proses pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah kita belum sepenuhnya bisa menunjang pemutusan mata rantai mentalitas koruptif ini melalui jalur pendidikan nilai. Mentalitas cari gampang dan pragmatisme masih menjadi cara pikir yang dominan peserta didik kita. Hal serupa menimpa guru-guru kita. Bukankah pendidikan karakter dan pendidikan nilai masih menjadi persoalan yang melanda lembaga pendidikan kita saat ini?

Tentu saja bukan maksud kita untuk melemahkan usaha-usaha kita menciptakan generasi baru sebagai pemutus mata rantai mentalitas koruptif di Indonesia melalui pendidikan nilai tetapi sebaliknya hendak mengingatkan kita bahwa kita memerlukan usaha yang sama beratnya dengan usaha pemberantasan korupsi itu sendiri untuk mengharapkan lembaga pendidikan kita menghasilkan generasi pemutus mata rantai mentalitas koruptif di Indonesia.

Idealnya memang pendidikan nilai menjadi pintu masuk paling strategis untuk memutuskan mata rantai korupsi dengan lahirnya generasi baru. Tetapi haruslah diakui bahwa kultur pendidikan kita belum memungkinkan untuk menghasilkan generasi baru pemutus mata rantai mentalitas koruptif di Indonesia. Kita masih memerlukan waktu yang tidak sedikit.

Kedua, organisasi massa Katolik. Uskup Agung Ende mengharapkan keterlibatan organisasi massa Katolik di Flores sebagai pintu masuk kedua dalam usaha pemberantasan korupsi di Flores. Namun, organisasi massa yang diharapkan tersebut berada dalam kondisi mati suri. Korupsi yang paling banyak ditemukan dalam konteks Flores dan Timor, misalnya adalah korupsi yang terkait dengan politik. Elite-elite politik dan elite birokrasi kita seringkali terjebak di dalam mentalitas koruptif seperti ini. Namun kita menghadapi suatu kenyataan bahwa organisasi massa Katolik di Flores tidak bisa diharapkan menjadi wadah yang bisa melahirkan kader-kader politik yang bersih. Organisasi massa Katolik di Flores tidak bisa menjadi rumah yang mengkaderkan pemimpin-pemimpin yang bersih. Karena dalam kenyataannya juga, organisasi massa Katolik kita tidak bisa berperan besar dalam menghasilkan pemimpin-pemimpin politik yang rasional, demokratis, dan terutama bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Tiap kali pemilihan kepala daerah di Flores, misalnya, organisasi massa Katolik kita sama sekali tidak bisa mendorong dan mendidik rakyat untuk menjadi pemilih yang rasional. Organisasi massa kita belum bisa menjadi mesin yang bisa menghasilkan pemimpin politik yang bersih dan bebas dari pragmatisme politik. Referensi pilihan politik rakyat di Flores masih terikat pada relasi kesukuan dan kedaerahan baik dalam konteks pemilihan gubernur dan wakil gubernur maupun dalam konteks pemilihan bupati dan wakil bupati. Organisasi massa Katolik belum bisa berperan maksimal untuk mendorong rakyat agar memilih pemimpin bukan berdasarkan preferensi suku, agama, dan wilayah, tetapi memilih pemimpin yang bersih, rasional, demokratis, dan mengutamakan kepentingan dan kebaikan umum.

Dalam masalah-masalah yang krusial baik yang menjadi perhatian gereja maupun masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyat, kita jarang sekali mendengar telaahan rasional dan pernyataan sikap resmi dari organisasi massa Katolik. Belum tampak organisasi massa Katolik menyuarakan nilai-nilai dan prinsip-prinsip politik berbasiskan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Gereja Katolik.

Ketiga, komunitas umat basis. Gerakan komunitas basis (basic ecclesiastical community) di Flores dan Timor, serta di seluruh Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1970-an. Dengan melibatkan komunitas basis diharapkan gerakan apa pun bisa dimulai dari akar rumput, dimulai dari masyarakat di lapisan paling bawah.

Komunitas basis di Flores dan Timor dimulai sebagai komunitas doa. Komunitas basis gerejani itu awalnya disebut kontas gabungan. Kelompok doa rosario, sebuah tradisi bulan Oktober dan Mei bagi orang Katolik untuk berdoa rosario. Kesempatan untuk melakukan devosi kepada Bunda Maria.

Belakangan komunitas basis gerejani digagas sebagai komunitas basis perjuangan, menjadi kelompok yang memberdayakan dan medan perjuangan untuk melakukan perubahan-perubahan sosial di masyarakat. Tetapi komunitas umat basis ini masih tetap tidak beranjak dari posisinya sebagai komunitas doa. Komunitas basis ini belum berfungsi sebagai lokus perjuangan dan pemberdayaan di akar rumput, apalagi menjadi kelompok penggerak perubahan sosial politik dan penciptaan kultur politik yang rasional demokratis.

Tidak ada yang salah bahwa komunitas basis gerejani menjadi kelompok doa. Karena doa merupakan ciri pembeda dari kelompok-kelompok sosial di luar kelompok berbasis religius. Namun, kita juga tidak memungkiri bahwa doa harus pula menjadi gerakan internal batin manusia untuk mendorong gerakan sosial berbasis nilai-nilai keagamaan. Bagaimana kelompok-kelompok religius seperti komunitas basis merefleksikan citranya sebagai kelompok penggerak perubahan sosial pada level akar rumput.

Hampir semua keuskupan di Flores menghadapi kenyataan yang sama bahwa komunitas basis tidak lebih dari sekadar kelompok doa. Seharusnya doa sebagai kekuatan komunitas keagamaan seperti ini menjadi ciri pembeda, sekaligus memiliki daya ungkit bagi perubahan sosial. Dengan kata lain, sudah menjadi pemandangan dan kenyataan umum yang hampir kita temukan di seluruh Flores bahwa kemeriahan doa dan perayaan liturgis kurang terkoneksi dengan baik dengan pembaruan sosial masyarakat. Kelompok umat basis belum menjadi lokus dari perubahan sosial di Flores, termasuk pemutusan mata rantai korupsi. Komunitas umat basis kita belum bisa menjadi kelompok penggerak perubahan kehidupan sosial politik kita.

Kita sangat setuju bahwa pembaruan sosial di Flores bisa dilakukan melalui pintu pendidikan, organisasi massa Katolik, dan komunitas umat basis. Tetapi haruslah diakui bahwa tiga pintu ini belum bisa maksimal sebagai lokus dari pembaruan sosial, politik, dan budaya yang membebaskan kita dari masalah korupsi. Penelitian-penelitian yang dilakukan badan pengembangan dan penelitian keuskupan-keuskupan di Flores memperlihatkan hal yang sama bahwa aspek perayaan liturgis dan doa-doa kita jauh lebih meriah daripada aspek kerygma atau aspek pewartaan. Seharusnya memang kemeriahan perayaan liturgis dan doa-doa kita menjadi pendorong pembaruan sosial politik dan kebudayaan di Flores, sehingga Flores kembali memberikan kontribusinya bagi pemberantasan korupsi di Indonesia.

Ruteng, 8 Januari 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s