Miras dan Konflik

peta-ntt
Oleh Frans Obon

Di Kabupaten Sikka, minuman keras (miras) terutama miras lokal (moke) dianggap menjadi pemicu utama dari kasus kriminalitas, kasus pembunuhan, kasus perkelahian, dan kasus kecelakaan lalu lintas. Dikatakan pula, kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual juga dipicu minuman keras (Flores Pos, 31/12/2016). Maka solusi yang ditawarkan adalah perlu dibuat Peraturan Daerah (Perda) penertiban miras, pembatasan penjualan miras, dan pengaturan jadwal pesta yakni hari pesta hanya berlangsung satu hari.
Lanjutkan membaca “Miras dan Konflik”

Sinterklas dalam Bencana

manggarai Oleh FRANS OBON

TIGA bulan pertama dalam tahun baru adalah bulan-bulan kita menghadapi bencana. Hampir setiap tahun, kita menghadapi problem yang sama dan kita menanganinya dengan cara yang sama. Para korban mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman dan kita memberikan bantuan bahan makanan. Ada banyak yang datang ke lokasi bencana, bukan saja pemerintah yang memang berkewajiban untuk mengurus rakyatnya, tetapi juga badan-badan swasta lainnya. Dan ketika kita memasuki tahun politik, tahun di mana akan digelar Pemilu, banyak partai politik dan aktor-aktor politik datang sebagai sinterklas baru untuk membantu para korban.

Pemerintah, yang oleh kewajibannya membantu para korban, juga seringkali menyembunyikan tujuan politik (kekuasaan) itu kepada massa rakyat. Pemerintah memperlihatkan kemurahannya kepada rakyat melalui pemberian bantuan. Umumnya dalam persepsi masyarakat, termasuk persepsi para pemegang tampuk kekuasaan, kendati biaya bantuan itu berasal dari uang rakyat (uang negara), tetaplah bantuan dipersepsi sebagai kemurahan hati pemerintah. Bertautnya berbagai kepentingan di dalam lumpur bencana alam itu menyebabkan terjadinya “saling senggol” dalam wacana penanganan bencana dan saling kritik.
Lanjutkan membaca “Sinterklas dalam Bencana”

Lumpur Panas Mataloko

Oleh FRANS OBON

MASYARAKAT Daratei, Mataloko yang berada di sekitar proyek Perusahaan Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTB) dengan bendera Forum Masyarakat Peduli Dampak Buruk Panas Bumi mendatangi DPRD dan pemerintah Kabupaten Ngada untuk menyampaikan keluhan dan tuntutan tentang dampak proyek panas bumi Mataloko. Ketua Forum Maria Kristina Bupu mengatakan, masyarakat datang ke DPRD dan pemerintah Kabupaten Ngada untuk menyampaikan beberapa aspirasi (Flores Pos, 18 Januari 2014).

Inti dari tuntutan dan aspirasi masyarakat Mataloko adalah meminta pemerintah menggantikan seng rumah yang sudah rusak, memberikan pengobatan karena masyarakat menderita penyakit pernafasan dan penyakit kulit, dan sawah dan ladang mereka tidak bisa dikerjakan lagi. Namun, tuntutan lain yang jauh lebih penting adalah mereka minta solusi baik kepada pemerintah daerah maupun kepada pemilik proyek, serta gugatan terhadap hasil analisis mengenai dampak lingkungan yang menyebutkan bahwa proyek ini ramah lingkungan. Itulah sebabnya mereka minta dilakukan kaji ulang terhadap amdal proyek panas bumi ini.
Lanjutkan membaca “Lumpur Panas Mataloko”

Konflik di Tempat Pesta

OLEH FRANS OBON

EMPAT orang menderita luka-luka dalam perkelahian di sebuah rumah gendang di Golo Worok, Desa Golo Worok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Minggu (20/11/2011). Empat orang yang menderita luka-luka dirawat di rumah sakit umum milik pemerintah di Ruteng. Menurut polisi, kasus ini dikategorikan sebagai kasus penganiayaan yang melibatkan banyak orang (Flores Pos edisi 22 November 2011).

Acara disco di Kampung Nara, Kecamatan Cibal, Manggarai, akhir September 2011.

Pemicu kasus ini adalah perkelahian pada waktu pesta nikah, Kamis (17/11/2011). Pada saat acara bebas – begitu masyarakat setempat menyebut acara disco dan dansa usai acara resmi – dua pemuda bersenggolan, yang memicu terjadinya perkelahian. Seorang pemuda dari kampung tetangga dipukul oleh kelompok pemuda lainnya karena dianggap biang dari keributan itu.
Lanjutkan membaca “Konflik di Tempat Pesta”