Natal, Pilkada, dan Solidaritas

Oleh FRANS OBON

DALAM beberapa hari belakangan ini, pusat-pusat perbelanjaan baik pertokoan maupun swalayan di Ruteng sudah mulai dipadati para pembeli. Selain barang kebutuhan pokok, para pembeli memburu pernak-pernik Natal dan pakaian dan sepatu baru. Semua ini adalah rutinitas menjelang perayaan Natal setiap tahun. Hal ini tentu saja sisi lahiriah dari perayaan Natal. Namun gegap gempita Natal dalam hal-hal lahiriah seperti ini tidak boleh melupakan sisi kerohanian dari perayaan Natal.

Natal pertama-tama adalah solidaritas Allah dalam kehidupan manusia. Allah merasa solider dengan kehidupan manusia, Allah masuk ke dalam situasi manusia. Allah yang adalah cinta masuk ke dalam situasi kerapuhan dan kedosaan manusia dan Allah menebus kedosaan manusia agar manusia mendapatkan kembali fitrahnya yang telah dirusakkan oleh dosa.

Surat Gembala Advent dan Natal 2015 Keuskupan Ruteng mempertegas refleksi bahwa Allah adalah cinta, yang solider dengan situasi manusia. Oleh karena itu menurut surat gembala ini, “Natal adalah peristiwa cinta mesra Allah kepada kita manusia. Karena cinta Allah menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita. Karena kasih-Nya yang begitu besar, Dia rela senasib dengan kita manusia, terlibat dalam suka duka hidup kita untuk mengantar kita menuju kepenuhan hidup ilahi. Karena belas kasih-Nya Dia tak segan masuk dalam lumpur kehidupan kita yang penuh dosa untuk menyucikan dan memberikan kepada kita masa depan baru yang indah”.
Lanjutkan membaca “Natal, Pilkada, dan Solidaritas”

Pilkada Tanpa Tema

Oleh Frans Obon

KPUDirektur Formappi Jakarta Sebastian Salang dalam konferensi persnya bersama wartawan di Ruteng menegaskan bahwa Manggarai raya bukan tempatnya tambang. Alasannya karena dampak negatif pertambangan sangat besar. Menurut dia, tambang di manapun tidak memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar, alam dan lingkungan. Yang untung adalah perusahaan dan penguasa secara personal. Publik hanya mendapatkan dampak negatifnya yakni alam yang rusak, air yang kering, kesehatan masyarakat – terutama kehilangan lahan pertanian. Dia bilang tidak ada bukti tambang mensejahterakan rakyat (Flores Pos, 19 September 2014).

Tambang, menurut Sebastian Salang, bisa dihentikan karena kepala daerah memiliki otoritas untuk melakukannya. Aturan memungkinkan hal itu. Namun para pemimpin di daerah tidak berani menghentikan dengan alasan undang-undang. Undang-undang bukanlah menjadi alasan utama melainkan karena para pemimpin itu telah menerima sesuatu (persekot) sebelumnya.
Lanjutkan membaca “Pilkada Tanpa Tema”

Revolusi Paradigmatik

Oleh Frans Obon

Ilustrasi
Ilustrasi
USKUP Ruteng Mgr Hubert Leteng merasa prihatin dengan masalah pertambangan di Manggarai raya karena telah menimbulkan konflik di kalangan masyarakat. Dalam masalah tambang itu pula, masyarakat petani khususnya dalam kasus Tambang di Tumbak di wilayah bagian utara Kabupaten Manggarai Timur terpaksa berhadapan dengan aparat kepolisian. Oleh karena itu Uskup Hubert mendesak pemerintah memikirkan secara cermat kebijakan pertambangan. Bahkan Uskup mendesak para bupati mencabut semua izin usaha pertambangan (IUP) (Flores Pos, 20 September 2014).
Lanjutkan membaca “Revolusi Paradigmatik”

Budaya Lokal dalam Politik Lokal

Para mahasiswa asal Manggarai di Ende.
Para mahasiswa asal Manggarai di Ende.@frans obon

Oleh FRANS OBON

BUPATI Manggarai Anthony Bagul Dagur dalam pidato pelantikannya 24 Februari 2000 mengatakan bahwa pemerintah daerah memerlukan pendekatan sosial budaya dalam penyelesaian masalah di Manggarai. Penekanan pada pendekatan sosial budaya itu memberikan kita harapan dihidupkannya kembali berbagai aktivitas budaya sebagai ekspresi jati diri orang Manggarai.

Paling tidak juga, katakanlah tanpa ajakan ini pun, perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat Manggarai saat ini minimal mampu mendorong sebuah diskusi yang intens untuk menelaah berbagai soal perubahan sosial yang ada. Atau minimal juga upaya itu memberikan harapan baru untuk apa yang dikatakan dalam puisi Mazmur Uma Rana dari John Dami Mukese, mengajak masyarakat Manggarai untuk menyadarkan kembali kuni agu kalo (jati dirinya). Mengajak masyarakat Manggarai menenum kembali kisah-kisah kehidupan yang dinyanyikan dalam sanda dengan gerak tari melingkar perlambang kesatuan dan persatuan dengan irama kaki yang seragam yang memuat falsafah muku ca puu neka woleng curup, teu ca ambo neka woleng jaong (jangkong), syair-syair indah dalam mbata dan gita cinta dalam danding yang dilantunkan pada waktu malam bersama gadis-gadisnya yang berkulit kuning langsat, gerakan-gerakan mistik religius dalam raga sae ketika acara paki kaba (potong kerbau) atau paki jarang bolong (kuda hitam) di kampung-kampung di Manggarai yang syarat dengan gerakan spiritual berpadu estetika indah dan sikap ksatria yang diperagakan dalam caci bercirikan sikap sportif.
Lanjutkan membaca “Budaya Lokal dalam Politik Lokal”

Politik sebagai Panggilan

Keterlibatan orang-orang Katolik dalam politik dilihat sebagai panggilan untuk dijawab dengan penuh tanggung jawab. Karena itu politik harus diabdikan pada tujuan asalinya demi kebaikan umum.

Oleh FRANS OBON

Jalan salib pada Jumat Agung di Paroki Onekore, Keuskupan Agung Ende (frans obon)
Jalan salib pada Jumat Agung di Paroki Onekore, Keuskupan Agung Ende.

BAGI Gereja Katolik, telah menjadi proposisi dan prinsip dasar bahwa keterlibatan umat Katolik dalam kehidupan politik adalah sebuah panggilan keniscayaan dari keimanan mereka. Orang-orang Katolik dipanggil agar mengambil bagian aktif di dalam politik untuk menentukan mengarahkan dan membarui kehidupan bersama sebagai bangsa dan negara ke arah kebaikan bersama. Dengan demikian keterlibatan di dalam politik tersebut dipandang sebagai panggilan, yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Lanjutkan membaca “Politik sebagai Panggilan”

Lupakan Dana Asmara

Oleh FRANS OBON

BEBERAPA waktu lalu, diberitakan bahwa lima kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) terancam kena penalti karena terlambat menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Dareah (APBD) 2014. Ancamanya adalah pencairan Dana Alokasi Umum (DAU) akan ditunda. Lima kabupaten itu adalah Kabupaten Ende, Lembata, Alor, Sumba Barat Daya dan Timor Tengah Utara. Tahun 2013, Kabupaten Alor kena penalti karena terlambat menetapkan APBD 2013 (Flores Pos, 28 Januari 2014).

Dalam kasus Kabupaten Ende, menurut Sekretaris Daerah (Sekda) NTT Fransiskus Salem, keterlambatan terjadi karena kabupaten ini baru saja melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada), yang berlangsung dua putaran. Itulah alasannya mengapa penetapan APBD terlambat dilakukan (Flores Pos, 28 Januari 2014).
Lanjutkan membaca “Lupakan Dana Asmara”

Pemilukada Ende Berakhir

Pasangan Marsel-Djafar
Pasangan Marsel-Djafar

Oleh FRANS OBON

PEMILIHAN Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Ende telah berakhir dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memenangkan Paket Marselinus Y W Petu dan Djafar Ahmad (Marsel-Djafar). Kita mengucapkan selamat kepada Paket Marsel-Djafar dan memberikan apresiasi kepada calon bupati dari Paket Darmawan, Don Bosco M Wangge yang menyatakan menerima hasil keputusan MK (Flores Pos, 21 Januari 2014).

Kalau kita melihat kembali semangat Reformasi dan hakikat asali dari pemilihan langsung oleh rakyat, maka tujuannya hanyalah satu yakni memperkuat demokrasi di tingkat lokal di mana masyarakat lokal memiliki akses langsung untuk menentukan dan memilih pemimpin mereka. Sebab inti dari demokrasi adalah kedaulatan rakyat di mana rakyat memiliki kebebasan penuh untuk menentukan siapa yang pantas dan berhak memerintah dan memimpin mereka.
Lanjutkan membaca “Pemilukada Ende Berakhir”