Gereja yang Berempati

Romo Emanuel Martasudjita
Romo Emanuel Martasudjita

Oleh FRANS OBON

AWAL JANUARI 2016, Gereja Katolik Keuskupan Ruteng menggelar pertemuan pastoral yang melibatkan para pastor paroki, pemimpin lembaga dan pemimpin tarekat serta tokoh-tokoh awam untuk merumuskan bersama implementasi hasil Sinode III Keuskupan Ruteng yang telah berlangsung secara bertahap mulai 2013 hingga 2015. Dari berbagai proses dalam Sinode III Keuskupan Ruteng dan kira-kira setelah 100 tahun usia Gereja Katolik Manggarai, Gereja Katolik Keuskupan Ruteng merumuskan identitas dirinya sebagai “Persekutuan umat Allah yang beriman Solid, Mandiri dan Solider.

Tahun 2016 adalah tahun pertama implementasi Sinode III dengan fokus pada tema liturgi yakni “Liturgi adalah sumber kerahiman ilahi dan puncak kehidupan umat beriman.” Tema ini sudah diuraikan dalam Surat Gembala Advent dan Natal Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng.

“Iman yang solid, mandiri, dan solider ini ingin kita wujudkan melalui aneka gerakan dan program pastoral dalam lingkaran 10 tahun. Dalam tahun pertama 2016, kita memusatkan diri pada liturgi. Sebab liturgi menurut Konsili Vatikan II merupakan sumber sekaligus puncak kehidupan Gereja. Seluruh karya pastoral Gereja terarah kepada persatuan mesra Allah dengan umat-Nya. Di lain pihak perjumpaan dengan Allah dalam liturgi menjadi sumber kekuatan hidup umat Allah sehingga “sehati-sejiwa dalam kasih” dan dapat mengamalkan kasih Allah dalam hidup sehari-hari,” kata Uskup Hubert.
Lanjutkan membaca “Gereja yang Berempati”

Iklan

Gereja Harus Mencari yang Hilang

Romo Martin Chen
Romo Martin Chen

Oleh FRANS OBON

RUTENG — Rekoleksi dengan tema “Pelayanan pastoral yang murah hati dan menimba semangat kerahiman Allah”, membuka pertemuan pastoral post Natal Keuskupan Ruteng selama empat hari. Rekoleksi ini yang dibawakan Romo Emanuel Martasudjita, Ketua Fakultas Teologi Kepausan Wedabhakti dan Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta berlangsung di aula Efata Ruteng, Senin (4/1).

Imam Kelahiran Bantul tahun 1962 ini merefleksikan mengenai Allah yang murah hati, penuh belas kasih, dan penuh kasih setia kepada umat-Nya, yang seharusnya menjadi sumber bagi pelayanan Gereja. Romo Martasudjita mencoba mencari makna biblis dari Allah yang maharahim dan belas kasih ini untuk mengantar para peserta pertemuan agar menemukan segi-segi yang serupa dalam pelayanan pastoral Gereja Keuskupan Ruteng.
Lanjutkan membaca “Gereja Harus Mencari yang Hilang”

Natal, Pilkada, dan Solidaritas

Oleh FRANS OBON

DALAM beberapa hari belakangan ini, pusat-pusat perbelanjaan baik pertokoan maupun swalayan di Ruteng sudah mulai dipadati para pembeli. Selain barang kebutuhan pokok, para pembeli memburu pernak-pernik Natal dan pakaian dan sepatu baru. Semua ini adalah rutinitas menjelang perayaan Natal setiap tahun. Hal ini tentu saja sisi lahiriah dari perayaan Natal. Namun gegap gempita Natal dalam hal-hal lahiriah seperti ini tidak boleh melupakan sisi kerohanian dari perayaan Natal.

Natal pertama-tama adalah solidaritas Allah dalam kehidupan manusia. Allah merasa solider dengan kehidupan manusia, Allah masuk ke dalam situasi manusia. Allah yang adalah cinta masuk ke dalam situasi kerapuhan dan kedosaan manusia dan Allah menebus kedosaan manusia agar manusia mendapatkan kembali fitrahnya yang telah dirusakkan oleh dosa.

Surat Gembala Advent dan Natal 2015 Keuskupan Ruteng mempertegas refleksi bahwa Allah adalah cinta, yang solider dengan situasi manusia. Oleh karena itu menurut surat gembala ini, “Natal adalah peristiwa cinta mesra Allah kepada kita manusia. Karena cinta Allah menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita. Karena kasih-Nya yang begitu besar, Dia rela senasib dengan kita manusia, terlibat dalam suka duka hidup kita untuk mengantar kita menuju kepenuhan hidup ilahi. Karena belas kasih-Nya Dia tak segan masuk dalam lumpur kehidupan kita yang penuh dosa untuk menyucikan dan memberikan kepada kita masa depan baru yang indah”.
Lanjutkan membaca “Natal, Pilkada, dan Solidaritas”